Kamis 28 Januari 2021, 13:00 WIB

Kepala LIPI: Kontribusi Swasta pada Riset Indonesia Masih Rendah

Humaniora | Humaniora
Kepala LIPI: Kontribusi Swasta pada Riset Indonesia Masih Rendah

MI/RAMDANI
Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI) Laksana Tri Handoko

 

Upaya peningkatan produktivitas riset dan inovasi membutuhkan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, terlebih produktivitas riset Indonesia masih rendah.

“Produktivitas riset kita masih rendah. modal utama riset dan inovasi adalah SDM, bukan anggaran dan infrastruktur meskipun keduanya tidak kalah penting,” ujar Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko dalam seminar virtual UIN Sunan Kalijaga “Rancangan Induk dan Peta Jalan Penelitian Indonesia Bidang Sains dan Teknologi beberapa waktu lalu seperti dilansir dari laman LIPI.

Baca juga: Wakaf Uang Hanya Diinvestasikan untuk Produk Keuangan Syariah

Handoko mengatakan bahwa alokasi anggaran dari pemerintah bukan lagi menjadi soal. “Berdasarkan standar Unesco, tanggung jawab pemerintah untuk mengalokasikan belanja litbang nasional sudah tercapai, yaitu 1% PDB (Produk Domestik Bruto),” ungkapnya.

Menurutnya, peningkatan produktivitas riset nasional terganjal peran dan kolaborasi pihak industri. “Yang masalah, kita masih belum berhasil menarik belanja litbang dari nonpemerintah. Rendahnya kontribusi swasta/eksternal dalam kegiatan riset membuktikan akan rendahnya kapasitas dan kompetensi riset Indonesia,” sambung Handoko.

Handoko mengutakan, karakter pengembangan produk saat ini adalah individualis, faktor teknologi pengungkit semakin dominan, nonmanufaktur, jangka waktu hidup pendek dengan margin besar dan padat kreativitas.

“Kita di level riset dan inovasi harus fokus pada product development yang basisnya adalah teknologi fungsi. Peneliti adalah pencipta teknologi pengungkit,” terangnya.

Untuk dapat bersaing dan mengatasi iklim kompetisi yang ada, Handoko menegaskan agar pelaku riset tidak terfokus pada end product. “Karena end product itu melibatkan berbagai komponen dalam suatu sistem yang mengandung banyak risiko. Dalam konteks itu, di sinilah kolaborasi itu penting, karena kita perlu meminimalisasi risiko,” ucapnya.

Selain itu, proses manajemen riset pun harus mengedepankan Hak Kekayaan Intelektual dan berbasis kebaruan. (H-3)

 

Baca Juga

AFP

UGM Mundur Dari Penelitian Vaksin Nusantara

👤Agus Utantoro 🕔Senin 08 Maret 2021, 17:45 WIB
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) memilih mundur dari penelitian uji klinis...
Antara

Mensos Ajak Media Dukung Peran Perempuan dalam Pembangunan

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Senin 08 Maret 2021, 17:37 WIB
Bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, Mensos mengingatkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam keluarga dan pembangunan...
paho.org

Tiga Merek Vaksin Covid-19 Dijual Bebas di Darknet

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 08 Maret 2021, 17:35 WIB
Dijelaskan bahwa mayoritas penjual berasal dari Prancis, Jerman, Inggris, dan Amerika...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya