Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Penemuan terbaru dari Studi Biologi Komunikasi, University College London (UCL) mengungkapkan bahwa bentuk kerangka hidung manusia modern ditentukan oleh materi genetik yang diwarisi dari manusia purba Neanderthal.
Neanderthal adalah spesies kuno yang tinggal di Eurasia 40.000 tahun yang lalu. Neanderthal berevolusi ketika manusia purba beradaptasi dengan iklim yang lebih dingin setelah meninggalkan Afrika. Para ilmuwan percaya bahwa beberapa DNA mereka tetap terdapat pada manusia modern.
Dr Kaustubh Adhikari, dari UCL Genetika, Evolution & Environment dan The Open University, mengatakan bahwa dalam 15 tahun terakhir, sejak genom Neanderthal diurutkan, para peneliti telah menemukan leluhur mereka.
“Di sini, kami menemukan bahwa beberapa DNA yang diwariskan dari Neanderthal memengaruhi bentuk wajah kita (manusia). Ini mungkin berguna bagi nenek moyang kita, karena telah diwariskan selama ribuan generasi,” jelasnya seperti dilansir dari Phys pada Rabu (10/5).
Studi ini menggunakan data dari lebih dari 6.000 sukarelawan di seluruh Amerika Latin yang terdiri dari keturunan campuran Eropa, Amerika Asli, dan Afrika. Mereka adalah bagian dari studi CANDELA dari studi UCL, yang direkrut dari Brasil, Kolombia, Cile, Meksiko, dan Peru.
Para peneliti membandingkan informasi genetik dari peserta dengan foto wajah mereka, khususnya melihat jarak antara titik-titik di wajah seperti ujung hidung atau tepi bibir untuk melihat bagaimana ciri-ciri wajah yang berbeda dikaitkan dengan kehadiran penanda genetik yang berbeda.
“Para peneliti berpikir DNA yang diwarisi dari Neanderthal, mungkin telah memengaruhi bentuk wajah manusia modern. Salah satu bidang yang menarik adalah hidung,” jelas penelitian tersebut.
Para peneliti juga mengidentifikasi 33 wilayah genom yang terkait dengan bentuk wajah. Dimana 26 di antaranya dapat mereka tiru dibandingkan dengan data dari etnis lain menggunakan responden di wilayah Asia Timur, Eropa, atau Afrika.
Seleksi alam
Dalam satu wilayah genom tertentu yang disebut ATF3,, para peneliti menemukan bahwa banyak orang dalam studi mereka dari keturunan penduduk asli Amerika (serta orang lain dari keturunan Asia timur) memiliki materi genetik dalam gen ini yang diwarisi dari Neanderthal. Mereka berkontribusi untuk meningkatkan karakter kerangka hidung yang mancung.
Mereka juga menemukan bahwa wilayah gen ini memiliki tanda-tanda seleksi alam. Hal itu menunjukkan bahwa prosesnya memberikan keuntungan bagi mereka yang membawa materi genetik.
Penulis pertama Dr. Qing Li (Universitas Fudan) mengatakan telah lama berspekulasi bahwa bentuk hidung kita ditentukan oleh seleksi alam; karena hidung kita dapat membantu mengatur suhu dan kelembaban udara yang kita hirup,
“Gen yang telah kita identifikasi disini mungkin diwariskan dari Neanderthal untuk membantu manusia beradaptasi dengan iklim yang lebih dingin saat nenek moyang kita pindah dari Afrika,” jelasnya.
Sementara itu, rekan penulis lain yang terlibat dalam penelitian ini, Profesor Andres Ruiz-Linares (Universitas Fudan, Genetika UCL, Evolusi dan Lingkungan, dan Universitas Aix-Marseille) menambahkan bahwa sebagian besar studi genetik tentang keragaman manusia telah menyelidiki gen orang Eropa
“Sampel studi kami yang beragam dari peserta Amerika Latin memperluas jangkauan temuan studi genetik, itu juga membantu kita untuk lebih memahami genetika semua manusia,” jelasnya.
Hasil penelitian itu merupakan penemuan DNA kedua dari manusia purba. Berbeda dengan Homo sapiens yang memengaruhi bentuk wajah kita, tim yang sama menemukan dalam makalah tahun 2021 bahwa gen yang memengaruhi bentuk bibir diwarisi dari Denisovans kuno (lihat grafis). (M-3)
Peneliti mengungkap penyebab kematian mumi berusia 1.100 tahun di Gurun Atacama, Cile. Bukti CT scan menunjukkan korban tewas akibat kecelakaan tambang turkis prasejarah.
Temuan Manusia Pawon di Gua Pawon membuktikan kawasan Danau Bandung purba telah dihuni manusia sejak 9.500 tahun lalu pada masa Mesolitikum.
Ilmuwan temukan bukti baru berupa kuarsa kejut yang memperkuat teori ledakan komet sebagai pemicu kepunahan massal hewan zaman es dan hilangnya budaya Clovis.
Peneliti menemukan fosil dua spesies hiu purba di sistem gua terpanjang dunia, Mammoth Cave.
Peneliti temukan sarang lebah fosil di dalam tulang hewan purba di gua Karibia. Temuan ini ungkap cara lebah beradaptasi pada lingkungan ekstrem ribuan tahun silam.
Studi terbaru mengungkap rangkaian kekeringan panjang berperan besar dalam kemunduran Peradaban Lembah Indus, memicu penyusutan kota dan pergeseran permukiman secara bertahap.
Fosil manusia berusia 770 ribu tahun ditemukan di Maroko. Temuan ini memperkuat teori asal Homo sapiens dari Afrika dan mengguncang peta evolusi.
Penemuan ini merupakan buah dari penantian panjang. Pada tahun 2009, para ilmuwan menemukan fosil kaki berusia 3,4 juta tahun dengan struktur jari yang dirancang untuk memanjat pohon.
Sebuah studi genetika mengubah pemahaman ilmuwan tentang bagaimana manusia modern awal menyebar di Asia Timur
Para peneliti telah mengidentifikasi spesies manusia purba baru, yang mereka beri nama Homo juluensis, yang berarti kepala besar.
Studi yang diunggah pada 2019 tersebut menyebut sekitar 200.000 tahun lalu, kawasan yang disebut Makgadikgadi Okavango wetland adalah oase hijau yang subur
Riset terbaru mengungkap manusia purba sejak awal mengandalkan tanaman yang diproses, seperti umbi, biji, dan kacang, jauh sebelum pertanian muncul.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved