Selasa 12 Januari 2021, 12:40 WIB

Antibiotik Perparah Penyakit Paru-paru pada Pasien Covid-19 Anak

Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora
Antibiotik Perparah Penyakit Paru-paru pada Pasien Covid-19 Anak

AFP
Ilustrasi pasien covid-19 anak di Amerika Serikat.

 

INTERNATIONAL covid-19 PICU Collaborativ melaporkan kejadian penyebaran virus korona di Amerika Serikat dan Kanada yang banyak menyerang anak-anak berusia 13 tahun. Mereka kini menjalani perawatan intensif.

Secara keseluruhan 83% pasien covid-19 anak tidak diobati dengan antibiotik sedangkan sisanya sebanyak 17% diobati dengan azitromisin.

Dari penelitian yang dilakukan Shekerdemian LS, Mahmood NR, Wolfe, ditemukan bahwa antibiotik pada anak-anak terutama untuk anak yang dipengaruhi penyakit penyerta akan menambah tingkat keparahan penyakitnya. Demikian dilansir dari laman JAMA Network Open, jurnal medis akses terbuka bulanan yang diterbitkan oleh American Medical Association.

"Pada penyakit akut yang mempengaruhi paru-paru, seperti sepsis atau sindrom gangguan pernapasan akut, mikrobiota paru diperkaya dalam bakteri usus, seperti Bacteroidetes dan Enterobacteriaceae misalnya, akan memicu lingkaran setan proinflamasi yang berbahaya," tulis peneliti.

Selain itu, kejadian hiperpermeable atau usus bocor dan bakteri kemungkinan besar terjadi, karena bakreri itu dapat bergerak melalui dinding usus besar dan mencapai paru-paru, meningkatkan peradangan, infeksi, bahkan kerusakan paru akut.

"Data terbaru menunjukkan korelasi erat antara mikrobiota paru dan rawat inap unit perawatan intensif. Perubahan yang terjadi pada mikrobiota paru dapat membantu memprediksi apakah dan sejauh mana pasien yang sakit kritis akan merespons pengobatan," kata peneliti lagi.

Baca juga : Berburu Darah Plasma Penyintas Covid-19

Dalam penelitian terbaru terhadap 91 pasien dewasa, hanya mereka yang terkolonisasi di paru-paru oleh Enterobacteriaceae di usus yang dirawat di unit perawatan intensif. Selain itu, pasien yang menunjukkan jumlah bakteri yang tinggi di paru-paru, dan terutama prevalensi bakteri paru-paru tipikal baik, menunjukkan hasil yang lebih baik 1 hari setelah rawat inap unit perawatan intensif untuk sindrom gangguan pernapasan.

Sebaliknya, keberadaan 2 kelompok bakteri yang biasanya berkoloni di usus, yakni Lachnospiraceae dan Enterobacteriaceae menjadi hal umum pada mikrobiota paru pasien dengan hasil terburuk.

"Yang masih harus dipahami adalah apakah mungkin memodifikasi mikrobiota paru, baik untuk mencegah maupun mengobati kerusakan paru," sebut peneliti.

Jalur mengenai usus-paru belum sepenuhnya jelas, tetapi diketahui bahwa infeksi saluran pernafasan dapat menjadi komplikasi disfungsi saluran cerna dan sebaliknya.

Dari penelitian ini, para peneliti percaya menyerukan agar penggunaan antibiotik dipertimbangkan, terutama pada anak-anak yang sakit kritis yang menjalani intubasi endotrakeal. (H-2)

Baca Juga

Ist

Gangguan Pencernaan Bisa Picu Batu Empedu dan Kanker Usus Besar

👤Eni Kartinah 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 16:02 WIB
Penyakit batu empedu atau cholelithiasis adalah penyakit yang menyebabkan penderitanya mengalami sakit perut mendadak akibat adanya batu di...
Antara/Anis Efizudin.

IPB University Kukuhkan Tiga Guru Besar Tetap

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 15:10 WIB
Penemuan metode bioetanol biomasa lignoselulosa masih terus diteliti untuk jangka pendek pembuatan bahan bakar dalam bentuk padat lebih...
dok.Satgas Covid-19 BNPB

Satgas Covid-19 Tambah Relawan Layanan Dukungan Psikososial

👤Muhamad Fauzi 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 12:31 WIB
KONDISI kesehatan jiwa masyarakat yang terganggu selama masa pandemi adalah fenomena nyata yang harus segera...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Amendemen Konstitusi antara Ambisi Elite dan Aspirasi Rakyat

Persepsi publik mengenai cara kerja presiden lebih mengharapkan pemenuhan janji-janji politik saat kampanye ketimbang bekerja berdasarkan Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN).

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya