Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
INDUK holding BUMN farmasi Bio Farma mengklarifikasi perihal efikasi (kemanjuran) vaksin covid-19 Sinovac buatan Tiongkok. Menurut Sekretaris Perusahaan Bio Farma, Bambang Heriyanto, efikasi vaksin Sinovac masih menunggu uji klinis fase 3 yang masih berlangsung.
"(Efikasi) belum dapat ditentukan saat ini, dan harus menunggu sampai datanya cukup," ujarnya dikutip dari keterangan resmi via akun Instagram Bio Farma, Rabu (9/12).
Bio Farma memperkirakan, interim report mengenai hasil uji klinis fase 3 baru akan dirilis pada Januari 2021. Saat ini seluruh relawan telah mendapatkan suntikan kedua per 6 November 2020.
Data-data uji klinis dari tim uji klinis Fakultas kedokteran Unpad nantinya akan diserahkan langsung ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) untuk dilakukan evaluasi sebagai syarat proses persetujuan penggunaan daruratnya.
Bio Farma menyatakan, saat ini uji klinis fase 3 sudah mulai memasuki tahap pemantauan efikasi dan monitoring, pasca 3 bulan penyuntikan untuk melihat imunogenisitas dan efikasi, serta pengambilan darah setelah 3 bulan.
Sample darah dari para relawan, sudah dikirimkan juga ke Balitbangkes, untuk diuji netralisasi terhadap virus Covid-19. Hingga saat ini, kata Bio Farma, tidak ada laporan KIPI serius yang diduga berhubungan dengan vaksin atau vaksinasi.
Pada Minggu, 6 Desember 2020, Bio Farma juga telah menerima 1,2 juta dosis vaksin covid- 19 Sinovac yang dikirim dari Beijing, Tiongkok. Sebanyak 568 botol (vial) di antaranya dialokasikan untuk pengujian bersama Badan POM.
Efikasi vaksin adalah tingkat kemanjuran vaksin untuk memberikan manfaat bagi individu yang diberi imunisasi. Sebagai perbandingan, vaksin covid-19 buatan Moderna dan Pfizer-BioNTech memiliki efikasi sebesar hingga 95%. Sementara, efikasi vaksin Covid-19 AstraZeneca yang dikembangkan Oxford University hanya 70%. (H-2)
Tidak perlu adanya Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ataupun yang saat ini diusulkan diubah menjadi Lembaga BUMN setelah adanya Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Regulasi telah membagi peran antara Kementerian BUMN dan Danantara, namun praktik di lapangan justru memunculkan kebingungan arah kebijakan.
Pembentukan Danantara memantik wacana penghapusan Kementerian BUMN. Jika benar terjadi, kementerian ini akan “turun status” menjadi badan, sebuah langkah yang diperkirakan mengubah peta pengawasan sekaligus arah bisnis perusahaan pelat merah.
Pengamat BUMN dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Toto Pranoto menanggapi kemungkinan Kementerian BUMN diturunkan statusnya menjadi badan.
Pemerintah memberi sinyal bakal mengubah status Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi badan.
Isu pembubaran Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ada juga wacana peleburan Kementerian BUMN ke BPI Danantara.
Riset terbaru menunjukkan vaksin Covid-19 berbasis mRNA seperti Pfizer dan Moderna dapat memicu sistem imun melawan sel kanker.
DUA tenaga kesehatan menerima vaksin Covid-19 di hari yang sama, pola respons antibodi setiap orang ternyata berbeda-beda menentukan berapa lama perlindungan vaksin bertahan
Pengurus IDI, Iqbal Mochtar menilai bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap vaksin berbasis Messenger Ribonucleic Acid (mRNA) untuk covid-19 merupakan hal yang wajar.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Sejalan dengan penjelasan Kementerian Kesehatan yang menyebutkan vaksinasi booster covid-19 tetap direkomendasikan.
Pemakaian masker, khususnya di tengah kerumunan mungkin dapat dijadikan kebiasaan yang diajarkan kepada anak-anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved