Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Aksi Mukti Berbagi Nasi Bungkus di Masa Pandemi

Furqon Ulya Himawan
10/8/2020 20:23
Aksi Mukti Berbagi Nasi Bungkus di Masa Pandemi
Christian Apri Wijaya, Apri, anggota Mukti, membagikan nasi bungkus kepada tukang becak dan pekerja informal yang dijumpai di Jalan Gejayan.(Media Indonesia/Furqon Ulya Himawan)

SIANG itu, suasana kantor Institute for Inter-Faith Dialogue in Indonesia (Interfidei), Sleman, Yogyakarta, Minggu (28/6), tampak sepi.
Sekilas, tak ada aktivitas. Semua pintu tertutup, hanya pintu samping saja yang terbuka. Pintu itu menuju langsung ke bagian belakang
kantor Interfidei.

Meski tampak sepi dari luar, ternyata sejumlah orang sedang meriung di belakang. Tepatnya di dapur. Ada yang mengupas bawang, mengiris cabai, memotong daging ayam, dan mencuci beras. “Kami mau memasak rica-rica ayam,” kata Siti Khuzaimah.

Zaim, begitu panggilannya, adalah anggota Pemuda Kreatif Lintas Imam (Mukti). Dia bersama sejumlah anggota Mukti lainnya sedang menyiapkan makanan nasi bungkus yang nantinya dibagikan kepada masyarakat di sekitar jalan-jalan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurut Zaim, aktivitas memasak sudah dimulai sejak pagi hari. Semua anggota berbagi tugas. Ada yang ke pasar untuk belanja bahan, di dapur untuk membantu memasak, membungkus makanan, dan membagikan nasi. “Jadi semua anggota kebagian tugas. Dan tugasnya giliran,” imbuh Zaim.

Mereka hanya sekitar 5-6 orang. Meski sedikit dan dalam ruangan, mereka pun mematuhi protokol kesehatan: memakai masker dan menjaga jarak. Ketika mau keluar untuk beli sesuatu, mereka tak lupa cuci tangan ketika sudah kembali lagi. “Harus patuhi protokol kesehatan,” kata Asminah, anggota Interfidei yang ikut membantu memasak siang itu.

Mukti adalah sebuah komunitas lintas iman yang aktif dalam kegiatan-kegiatan Interfidei terutama untuk menyebarkan isu keberagaman, toleransi dan melakukan aksi nyata untuk merajut keberagaman.

Bersama Interfidei, Mukti bekerjasama dalam forum PRB (Pengurangan Risiko Bencana). Dan selama pandemi covid-19 ini, mereka melakukan aksi solidaritas lintas iman. Salah kegiatannya menerima bantuan dan menyalurkannya dalam bentuk makanan siap saji atau nasi bungkus.

Christian Apri Wijaya, salah satu penggerak Mukti, mengaku, pembagian nasi bungkus adalah salah satu aksi nyata yang Mukti lakukan. Awalnya pembagian nasi bungkus itu mereka lakukan saat bulan puasa. Membagikan nasi bungkus kepada masyarakat tak mampu yang mereka jumpai di jalan.

Setelah puasa usai, lanjut Apri, Mukti memutuskan untuk terus melanjutkan aksi berbagi nasi bungkus. Mengingat situasi saat itu
memasuki masa-masa pandemi Covid-19 dan banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan. “Lalu kami putuskan untuk melanjutkan aksi itu selama masa Covid-19,” kata Apri sambil membungkus nasi.

Atas nama kemanusiaan
Aksi pembagian nasi bungkus itu Mukti lakukan seminggu sekali, Minggu sore. Dalam membagikan nasi, Mukti khususkan kepada masyarakat yang paling terdampak pandemi. Sepeti tukang becak, tukang parkir, pemulung, dan orang-orang yang tetap bekerja di jalan selama Covid-19. “Para pekerja informal yang kami temui di jalan,” katanya.

Apa yang Mukti lakukan, kata Apri, adalah bentuk nyata bagaimana manusia harus saling membantu di masa pandemi. Solidaritas sesama masyarakat, menurut Apri, dalam bersolidaritas dan membantu sesama di masa pandemi Covid-19, tidaklah memandang suku dan agama, karena semua agama mengajarkan perdamaian dan saling menolong.

“Di masa pandemi ini kita tetap bisa bersolidaritas walaupun kita berbeda iman atau kepercayaan. Malah kalau bersolidaritas lintas iman,
kita bisa saling membantu dan meringankan.” Kata Apri sambil memasukkan nasi bungkus ke dalam plastik besar untuk dibagikan.

Jarum jam sudah menunjuk di angka 3. Azan asar juga barusan terdengar. Apri dan teman-temannya telah bersiap membagikan nasi bungkus.

Setiap minggu, Mukti membagikan sekitar 100 nasi bungkus kepada masyarakat terdampak Covid-19 pada sore harinya. Jalur yang mereka lalui yakni sekitar Jalan Kaliurang, Jalan Palagan sampai ke Selokan Mataram, dan ke Jalan Gejayan.

Sore itu, Apri berboncengan dengan Fahimuddin berkeliling di Jalan Kaliurang sampai Jalan Gejayan yang sekarang sudah berganti nama menjadi Jalan Affandi. Sementara Zaim berboncengan dengan Ruwaidah. Mereka berkeliling ke Jalan Palagan.

Di jalan Kaliurang, Apri selalu berhenti ketika melihat tukang parkir atau tukang becak. Dia dekati lalu dikasih 1 atau 2 nasi bungkus.

Mereka yang mendapatkannya selalu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Selamet misalnya, tukang becak yang mangkal di Jalan Affandi. Dia tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih dan menelangkupkan kedua tangannya.

Selamet mengaku, sebungkus nasi yang dia terima mampu meringankan bebannya. Apalagi sebagai tukang becak, penghasilannya menurun di masa pandemi. Kadang dapat penumpang, kadang juga tidak. “Bagi saya sangat membantu, terima kasih, mas,” kata Selamet usai menerima nasi bungkus dari Apri.

Apri mengaku Mukti dan Interfidei akan terus berusaha untuk melakukan gerakan nasi bungkus setiap minggu. “Kami ingin tetap membantu dan bersolidaritas,” ujarnya. (OL-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Retno Hemawati
Berita Lainnya