Selasa 03 Desember 2019, 20:25 WIB

Menteri Nadiem Akui Indonesia Krisis Literasi

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Menteri Nadiem Akui Indonesia Krisis Literasi

MI/Adi Maulana
Menteri Pendidikan dan Kebudayan Nadiem Makarim

 

ORGANISASI untuk kerja sama ekonomi dan pembangunan (OECD) merilis hasil survei Programme for International Assessment (PISA) 2018. PISA merupakan studi internasional di bidang pendidikan yang diadakan tiga tahun sekali bagi siswa berusia 15 tahun. Studi ini bertujuan mengamati kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa, guna mendorong peningkatan sistem pendidikan di suatu negara.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim mengatakan, hasil survei PISA bermanfaat untuk memberikan perspektif baru bagi suatu negara untuk memperbaiki kekurangannya.

"Kunci dari kesuksesan belajar adalah mendapatkan sebanyak mungkin perspektif dari berbagai macam bidang dan area," kata Nadiem dalam Peluncuran Hasil Studi PISA 2018, di kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa (3/12).

Dalam hasil survei tersebut, skor kemampuan membaca Indonesia turun dari 397 pada 2015 menjadi 371 pada 3018, sedangkan skor rata-rata OECD yakni 487. Kemampuan matematika turun dari 386 pada 2015 menjadi 379 pada 2018, skor ini di bawah rata-rata OECD yakni 487.

Sedangkan kemampuan di bidang sains turun dari 403 pada 2015 menjadi 396 pada 2018, sedangkan skor rata-rata OECD yakni 489. Hasil survei ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa di Indonesia baik membaca, matematika, maupun sains masih di bawah rata-rata.

Menanggapi hasil survei PISA 2018, Mendikbud mengakui bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami krisis literasi. Ini merupakan permasalahan serius yang mana seluruh pemangku kepentingan di semua jenjang sistem pendidikan perlu turut berperan dalam peningkatan literasi. Selain itu, kata dia, dibutuhkan pula peran orang tua untuk menumbuhkan rasa cinta belajar dan membaca pada anak.

Menurut Nadiem, hasil buruk ini merupakan kenyataan yang tidak perlu ditutup-tutupi. "Kita masuk pada paradigma baru di mana berita-berita yang tidak terlalu positif seperti penurunan dari reading score ini, tidak perlu dikesampingkan. Tidak perlu juga dikemas agar menjadi berita yang positif. Kita memasuki paradigma baru di mana semua pemimpin-pemimpin, baik dari kementerian sampai kepala sekolah kalau ada sesuatu yang buruk kita harus jujur," tandasnya. (A-1)

Baca Juga

MI/Agus Mulyawan

Nadiem : Pemda Segera Sanksi Pelaku Intoleransi SMKN 2 Padang

👤Faustinus Nua 🕔Minggu 24 Januari 2021, 16:18 WIB
Nadiem Makarim meminta Pemerintah Daerah Sumatera Barat dan Kota Padang untuk segera menindaklajuti kasus intoleransi di SMKN 2...
Ilustrasi

BMKG: Suara Dentuman di Bali Terekam oleh Sensor Gempa

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Minggu 24 Januari 2021, 16:12 WIB
Hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya anomali sinyal seismik yang tercacat pada sensor seismik Singaraja (SRBI) pada pukul 10.27 WITA....
CDC

Banyak Dipalsukan, Ini Cara Bedakan Lianhua Resmi dan Ilegal

👤Zubaedah Hanum 🕔Minggu 24 Januari 2021, 15:05 WIB
Produk Lianhua mengandung 13 herbal, dipasarkan di Tiongkok sejak wabah SARS pada 2003...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya