Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
PEMERHATI pendidikan Itje Chodijah menilai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim belum memerlukan wakil menteri guna menunjang kinerjanya.
Menrutnya, yang terpenting dilakukan penguatan dan kolaborasi dengan para pembantu menteri di tingkat Direktur Jenderal (Dirjen) dan Direktur di lingkungan Kemendikbud.
“Saya kira Mendikbud Nadiem tidak perlu wamendikbud. Peran dan kolaborasi dengan para Dirjen dan Direktur sebaiknya dikokohkan .Dia lakukan penyamaan konsepnya sehingga mengurangi distorsi informasi dalam menjalankan tugasnya di kementerian, “ kata Itje Chodijah menjawab Media Indonesia di Jakarta, Senin ( 4/11).
Baca juga: Presiden Timang Pos Wakil Mendikbud
Dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) inimenyatakan, berdasarkan pengamatannya pada masa Mendikbud dijabat M Nuh, keberadaan wakil menteri kurang berfungsi. Pada masa itu, M Nuh mempunyai wakil menteri bahkan terjadi pergantian wakil menteri, dari Fasli Jalal ke Musliar Kasim. “ Hemat saya peran wakil menteri selain kurang berfungsi bisa terjadi distorsi informasi dalam menjalankan tugas kementerian apakah menjadi solusi atau sebaliknya tidak efektif,”cetusnya.
Itje Chodijah yang juga anggota Badan Akrediatasi Nasional Sekolah /Madrasah (BAN-SM) ini mengaku optimistis dengan kepemimpinan Nadiem sebagai Mendikbud yang dinilainya memiliki cara berpikir sistematis. Dia mengutarakan dari pertemuannya dengan Mendikbud tersebut , mantan Bos Gojek ini memahami apa yang hrus didahulukan dan mengetahui mana yang lebihg penting
“Saya optimis dengan Nadiem karena dia mempunyai cara berpikir sistematis . Memahami dan menguasi cara berpikir dengan global. Mana yang harus didahuluan dan dikemudiankan. Jadi saya melihatnya ibarat orchestra dia merupakan dirijen. Dia mempunyai keahlian yang memiliki orang orang yang juga ahli pada bidangnya di kementeriannya. Sehingga dia tinggal membenahi sistem untuk mengatur sistem di Kemendikbud,"andasnya.
Itje mengutarakan ada dua tantangan besar yang dihadapi Nadiem dalam memimpin Kemendikbud , pertama berhubungan dengan dunia pendidikan tinggi (Dikti) yang kini dibawah Kemendikbud . Dia akan berhubungan dengan para guru besar yang terkadang masih sulit melepas ego. Kedua, dalam berhubungan dengan Pemerintah Daerah ( Pemda) yakni menggabungkan sistem antarga Pemda dan pemerintah pusat. “Barangkali ini cukup sulit, namun saya yakin jika dia mampu memaparkan program kerja yang menguntungkan masyarakat daerah saya yakin dia bisa diterima,” pungkasnya. (OL-8)
Selain Tom Lembong, masih ada beberapa mantan menteri era Jokowi yang terjerat kasus korupsi. Berikut beberapa mantan menteri tersebut.
Seharusnya Prabowo berkaca pada kabinet pemerintahan Jokowi.
“Setahu saya ada. Kan Pak Prabowo sudah ngomong kalau nama-nama dari kabinet Pak Jokowi yang bagus-bagus akan juga dipakai untuk membantu beliau."
MENTERI Sosial Tri Rismaharini bungkam saat ditanya rencana mundur dari kabinet Presiden Jokowi. Ia hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke awak media, Selasa (3/9).
PDIP berharap reshuffle kabinet di akhir masa jabatan ditujukan untuk meningkatkan kinerja. Pasalnya, persoalan perekonomian rakyat mendesak untuk diselesaikan.
Saat ditanya lebih lanjut soal Menteri ESDM Arifin Tasrif yang akan digantikan oleh Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Presiden enggan menjawab kabar tersebut.
Mahkamah Konstitusi secara tegas melarang wakil menteri merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya.
Mahkamah Konstitusi secara resmi melarang wakil menteri atau wamen merangkap jabatan.
MK resmi melarang wakil menteri atau wamen rangkap jabatan dan diberi waktu 2 tahun untuk terapkan aturan
WAKIL Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengatakan wakil menteri (wamen) yang rangkap jabatan sebagai komisaris perusahaan BUMN merupakan keputusan Presiden Prabowo Subianto.
Viktor meminta MK memuat larangan wamen rangkap jabatan secara eksplisit pada amar putusan, bukan hanya di dalam pertimbangan hukum.
BELAKANGAN ini, rakyat terus ditampar oleh berbagai pemandangan sosial, politik, dan ekonomi yang memilukan.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved