Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan bahwa pengetahuan tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja masih kurang. Ia mendorong agar pendidikan mengenai kesehatan remaja bisa digencarkan di sekolah-sekolah.
Hasto menjelaskan kesehatan reproduksi pada remaja masih dipandang sebagai pendidikan seksual dan terkesan tabu di masyarakat. Padahal, kesehatan reproduksi penting dikenalkan sejak dini.
Ia mencontohkan, bahwa remaja perempuan akan menjadi calon ibu pada masa depan, mereka harus teredukasi dengan baik agar jangan sampai menikah pada usia anak-anak atau remaja.
"Saya pingin dibikin jargon baru untuk anak anak milenial program BKKBN substansinya kesehatan reproduksi supaya mereka mengerti bahayanya kawin dibawah 17 tahun," ujar Hasto seusai membuka kegiatan Gerakan Pengasuhan Anak dalam rangka Hari Anak Nasional di Taman Burung, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Minggu (21/07).
Baca juga: Adaptasi Kukuhkan Kehadiran Media Massa
Hasto menjelaskan sebelum usia di atas 20 tahun, organ reproduksi perempuan belum siap untuk hamil. Selain itu, remaja perempuan yang sudah melakukan hubungan seksual sejak dini berisiko lebih tinggi terkena kanker serviks (mulut rahim). Ia juga menyoroti kehamilan yang tidak diinginkan dan kerap kali terjadi pada remaja karena kurangnya edukasi mengenai kesehatan reproduksi.
Padahal, kehamilan harus dipersiapkan. Kondisi janin sangat ditentukan sejak awal kehamilan termasuk kesiapan calon ibu dalam memberikan asupan nutrisi pada janinnya. Ia menjelaskan para yang baru hamil atau hamil muda hanya punya waktu 4 bulan untuk membuat plasenta bagus. Plasenta yang bagus sangat menentukan kecerdasan otak bayi dan itu bisa didapatkan dari konsumsi asupan nutrisi yang baik.
"Kalau telat menstruasi seminggu, ibu tidak minum asam folat cukup otomatis plasentanya jelek. Tapi sering ibu hamil makan yang kecut-kecut. Gizinya tidak diperhatikan saat awal hamil," papar Hasto.
BKKBN, tegasnya, ingin mengajak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk membuat modul mengenai kesehatan reproduksi pada remaja. Modul tersebut, kata Hasto, harus dibuat bersama-sama antara pemerintah, tokoh agama, dan para pakar kesehatan supaya materinya dapat diterima dan mudah disosialisasikan pada semua kalangan remaja. (OL-1)
Pada 2026 cakupan intervensi diharapkan semakin luas sehingga target penurunan stunting hingga 5 persen pada 2045 dapat tercapai.
PEMERINTAH menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memanfaatkan bonus demografi agar menjadi kekuatan pembangunan, bukan justru berubah menjadi persoalan sosial dan ekonomi
Analis Kebijakan BNPT Haris Fatwa Dinal Maula, mengungkapkan bahwa ancaman terorisme dan radikalisme masih nyata di Indonesia sepanjang tahun 2025.
Meski jangkauan tim sudah cukup luas, Safrina mencatat masih ada beberapa wilayah yang belum tertangani sepenuhnya karena kendala akses.
Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menegaskan urgensi pencegahan stunting sejak masa krusial 1.000 hari pertama kehidupan, khususnya ketika bayi masih berada dalam kandungan. MBG 3B
PT Hengjaya Mineralindo resmi berkolaborasi dengan Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tenggara dalam mengimplementasikan program Taman Asuh Sayang Anak
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
Fenomena keinginan bunuh diri pada remaja tidak dipicu oleh penyebab tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai faktor yang kompleks.
Upaya pencegahan bunuh diri pada remaja dinilai perlu dimulai dari penguatan “jaring pengaman” di lingkungan terdekat, terutama sekolah dan keluarga.
Agar aturan gawai dapat berjalan efektif, orangtua perlu menerapkan pola asuh yang masuk akal dan kolaboratif.
Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved