Minggu 21 Juli 2019, 08:15 WIB

Adaptasi Kukuhkan Kehadiran Media Massa

Lilik Darmawan | Humaniora
Adaptasi Kukuhkan Kehadiran Media Massa

MI/Lilik Darmawan
Direktur Pemberitaan nonaktif Media Indonesia Usman Kansong menyampaikan materi saat Gathering Wartawan Banyumas bersama Pemkab Banyumas.

 

JURNALISME tidak akan mati. Meski perkembangan teknologi yang cepat membuat sejumlah media bertumbang­an, substansi jurnalisme tetap ada, hanya mediumnya yang berubah.

“Perkembangan teknologi tidak harus menyebabkan kekhawatiran yang berlebih­an. Yang dibutuhkan, media harus mampu beradaptasi agar tetap hidup,” ungkap Usman Kansong, Direktur Pemberitaan Nonaktif Media Indonesia, dalam gathering wartawan dan Pemerintah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, di Jakarta, Jumat (19/7) malam.

Kegiatan itu dihadiri sejumlah pejabat pemkab. Tujuan acara itu ialah meningkatkan kerja sama dan sinergitas antara jurnalis dan pemkab.

Lebih jauh, Usman menyebutkan hasil sebuah penelitian juga memperlihatkan, dari 10 profesi yang akan hilang, wartawan tidak ada di dalamnya. Namun, untuk tetap eksis, butuh inovasi dan adaptasi.

Ia mencontohkan, media radio sempat dikatakan the end of the radio saat televisi muncul. “Ternyata radio mampu beradaptasi sampai sekarang. Orang masih mendengarkan radio sambil menyetir. Radio juga tetap eksis karena dapat didengarkan melalui ­streaming,” katanya.

Televisi juga demikian karena dapat dinikmati melalui streaming di mana pun. “Kita bisa menonton televisi Indonesia atau siaran langsung sepak bola melalui telepon seluler,” jelas penulis buku Jurnalisme Keberagaman itu.

Sementara untuk media cetak, Usman juga masih tetap optimistis karena masih memiliki peluang. “Hanya media cetak akan ­mengubah mediumnya. Contohnya ­Media Indo­nesia yang memiliki ­e-paper dan juga media daring. Penghasilan media cetak juga masih lebih besar jika dibandingkan dengan media daring.

Kalau memang masa depan di online, mengapa pendapatan iklan masih kalah dengan media cetak? Ini yang menjadi pekerjaan rumah media.”

Upaya membuat media cetak tetap bertahan sudah banyak dilakukan. Sejumlah tokoh pers Indonesia pun sudah pernah menggelar diskusi kelompok terarah soal masa depan media massa.

Jawaban belum disepakati. Namun, mereka seiya bahwa media harus beradaptasi. “Tidak mungkin melawan perkembangan teknologi,” papar mantan jurnalis Metro TV ini.

Dia mengingatkan, bagi pekerja media cetak, ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Dalam melihat sebuah peristiwa, misalnya, perkembangan berita terus dilakukan media online dan televisi dari waktu ke waktu.

“Media cetak tidak boleh melakukannya karena tidak akan dibaca orang. Yang harus dilakukan ialah langkah ke depan, perdalam unsur how dan why,” jelasnya. (LD/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More