Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Sekolah Katolik di Flores-Lembata Gelar Konferensi Pendidikan

Mediaindonesia.com
21/6/2019 12:00
Sekolah Katolik di Flores-Lembata Gelar Konferensi Pendidikan
Administrator Apostolik Mgr Silvester San sedang berbicara dalam konferensi sekolah-sekolah Katolik se-Flores Lembata di Labuan Bajo.(Dok. Istimewa)

SEKOLAH-sekolah Katolik di Flores dan Lembata menggelar konferensi di Labuan Bajo pada 20-23 Juni 2019. Konferensi dihadiri 120 orang peserta, baik pihak sekolah maupun perwakilan dari dinas-dinas pendidikan setiap kabupaten.

Kegiatan ini diadakan oleh Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) bekerja sama dengan Majelis Pendidikan Katolik (MPK) di empat keuskupan yaitu Keuskupan Ruteng, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Maumere dan Keuskupan Larantuka.

Rangkaian acara dibuka pada Kamis (20/6) malam oleh Adminisitrator Apostolik Keuskupan Ruteng Uskup Silvester San bersama Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula. Mengambil tema 'Identitas Sekolah-Sekolah Katolik Flores-Lembata di Tengah Tantangan Era Industri 4.0', pihak sekolah ingin merumuskan kembali model kehadirannya di tengah situasi saat ini.

Sejumlah pembicara pun dihadirkan antara lain Uskup Silvester San yang menyampaikan keynote speech terkait harapan Gereja terhadap dunia pendidikan, Romo Eduardus Jebarus menjelaskan tentang sejarah pendidikan di Flores, Romo Vinsensius Darmin Mbula OFM, Ketua Presidium MNPK yang mengulas soal tuntutan terhadap sekolah Katolik di era 4.0 dan perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktur Pembinaan Sekolah Dasar H Khamim.

Panitia juga mengundang Pemimpin Redaksi Metro TV Don Bosco Selamun yang merupakan alumnus Seminari Pius XII Kisol, salah satu sekolah Katolik di MPK Ruteng untuk memberi input terkait situasi dunia pendidikan saat ini.

Kemudian, Pastor Darmin mengatakan konferensi ini merupakan upaya untuk merespons turunnya mutu pendidikan di Flores-Lembata, salah satunya tercermin dari Indeks Pendidikan Manusia (IPM).

“Selama beberapa tahun terakhir, IPM NTT selalu berada di posisi 32 dari 34 provinsi,” kata Pastor Darmin.

Ia menyebut acara ini juga merespons pertanyaan menggelitik Menteri Pendidikan Muhadjir Effendi terkait pendidikan yang kurang berkualitas di daerah dengan mayoritas beragama Katolik. Hal itu lah yang mendorong MNPK duduk bersama demi menemukan sejumlah persoalan dan solusinya.

"Supaya pertanyaan besar di tingkat nasional bisa terjawab. Harapan kami adalah sekolah-sekolah Katolik bisa kembali pada identitasnya yaitu sekolah yang beriman, berkualitas dan berbudaya,” tuturnya.

Baca juga: Berburu Barang Artis sekaligus Donasi Pendidikan

Konferensi ini lebih banyak diisi dengan diskusi di antara para peserta guna melahirkan sebuah blue print pendidikan Katolik Flores-Lembata menjawab tuntutan era saat ini sambil tetap setia pada nilai-nilai Kekatolikan.

Uskup Silvester gembira dengan konferensi ini dan menyebut ikhtiar untuk tidak boleh berhenti belajar merupakan hal yang perlu terus dihidupi. Ia menegaskan, dunia terus bergerak maju, mengharuskan insan pendidikan membarui diri agar tidak ketinggalan.

“Berkaitan dengan sekolah-sekolah Katolik yang dikatakan mengalami degradasi mutu, kita hendaknya tidak mengeluh dan meratapi situasinya. Kita mesti tetap optimistis,” kata Uskup Silvester.

Sekolah-sekolah Katolik memiliki masa-masa yang baik di masa lalu, tampak dari output-nya. Hal itu membuat nama Gereja Katolik juga harum. Namun banyak tantangan yang muncul, banyak sekolah ditutup karena kalah bersaing, meski tentu saja masih banyak yang bersinar di tengah gempuran globalisasi.

Ia mengatakan Gereja memiliki harapan besar pada sekolah Katolik karena mampu membebaskan manusia dari kemiskinan dan kebodohan.

“Sekolah-sekolah Katolik adalah rekan dalam mewartakan kabar gembira. Kita semua ditantang untuk memajukan sekolah-sekolah Katolik,” imbuhnya.

Apapun situasinya, lanjut Silvester, harus siap dengan tantangan yang ada. Para pendidik harus bisa menemukan poin dan cara yang jitu untuk menjawab tantangan itu. Pendidikan karakter dan pembekalan SDM harus diupayakan sehingga sekolah kita siap menghadapi perubahan dan revolusi industri 4.0,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Agustinus Ch Dula mengatakan kehadiran di pihak terkait di konferensi ini merupakan pertanda adanya persoalan dasar.

“Konferensi ini tentu akan memberikan semangat dan paradigma baru bagi pendidikan untuk daerah kita. Mari kita sama-sama menyadari bahwa hari kemarin dan hari ini adalah penyertaan Tuhan. Cinta tanpa perbuatan adalah mati. Konferensi ini adalah tanda bahwa kita mencintai pendidikan kita dan kita berbuat sesuatu,” katanya.

Ia menambahkan, pada hakikatnya konferensi ini adalah tempat berbagi pendapat. Maka itu, konferensi ini harus bisa mengkaji masalah-masalah pendidikan Katolik hingga bisa mengembalikan identitas pendidikan Katolik yang sebenarnya

“Mari sama-sama melihat apa yang menjadi persoalan. Pemerintah tetap berdiri di depan, berdiri di samping untuk membantu. Pemerintah tetap setia mengurus pendidikan swasta,” pungkas Bupati Agustinus.

Kevikepan Labuan Bajo di bawah koordinas Vikep Rikard Mangur Pr dalam koordinasi dengan MPK Ruteng menjadi panitia pelaksana kegiatan ini.(RO/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya