Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
PUASA bukan alasan untuk bermalas-malasan karena tubuh lemas. Kondisi lemas bisa dicegah dengan asupan makan yang tepat saat sahur dan berbuka, tidur cukup, serta berolahraga.
Praktisi kesehatan dokter Sandi Perutama Gani menjelaskan, saat berpuasa di bulan Ramadan, biasanya kita akan merasa lapar pada pukul 10.00 atau 11.00 siang, tetapi saat pukul 12.00 hingga 13.00 tubuh akan mulai merasa lebih bugar.
"Kondisi ini bisa terjadi karena pada pukul 12.00 tubuh mulai mengompensasi rasa lapar dengan cara mengeluarkan cadangan makanan yang ada didalam tubuh, yaitu glikogen dan asam lemak, untuk menjadi sumber energi," papar Sandi yang juga Medical Expert Combiphar itu, kemarin.
Lemas saat berpuasa, lanjutnya, dapat disebabkan beberapa faktor, antara lain kesalahan memilih menu makanan saat sahur dan berbuka, kekurangan cairan, serta kurang olahraga.
Untuk pengaturan menu makan, agar merasa kenyang lebih lama, pilih karbohidrat kompleks saat sahur, seperti nasi merah, umbi-umbian, atau roti gandum. Jangan lupa tambahkan asupan protein, seperti daging, ikan, ayam atau telur. "Selain berfungsi sebagai sumber protein, daging, ayam, ikan, dan telur merupakan sumber zat besi yang baik untuk mencegah anemia yang bikin lemas," imbuh Sandi.
Saat berbuka, awali dengan makanan atau minuman dengan rasa manis alami, seperti madu atau buah-buahan, misalnya kurma, untuk mengisi energi tubuh dengan cepat. "Kurangi konsumsi kafein saat berbuka puasa."
Selain memicu masalah pencernaan, konsumsi kafein berlebih juga dapat memicu kegelisahan dan sulit tidur. Padahal, tidur yang cukup dapat membantu tubuh tetap sehat selama berpuasa. Selain itu, kafein akan memicu buang air kecil yang lebih sering."
Jangan lupa, lanjut Sandi, kebutuhan cairan dua liter air per hari harus tetap terpenuhi. Caranya, minum dua gelas air saat sahur, satu gelas saat berbuka, satu gelas setelah makan berat, satu gelas sebelum tarawih, satu gelas setelah tarawih, dan dua gelas air sebelum tidur. Kebutuhan cairan juga dapat diperoleh dari buah-buahan, seperti jeruk, mentimun, tomat, dan melon.
Tetap berolahraga
Saat Ramadan, lanjut Sandi, olahraga jangan ditinggalkan. Ketika berolahraga, jantung akan memompa darah lebih cepat ke seluruh tubuh. Darah yang dipompa jantung mengandung oksigen, mengalir ke seluruh tubuh, dan membuat tubuh terasa lebih bugar.
"Saat jantung tidak memompa darah lebih cepat, tubuh akan terasa lebih lemas karena kurang oksigen. Oleh karenanya, meski sedang berpuasa, olahraga secara konsisten perlu dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kekuatan setiap individu," paparnya.
Pakar olahraga, Diraja Permata Sutan, memberikan sejumlah tips olahraga di bulan Ramadan. "Lakukan olahraga dengan intensitas sedang, seperti lari, yoga, atau kelas dance setelah mengonsumsi takjil air putih dan tiga-lima buah kurma," ujar karyawan Combiphar pemegang sertifikat Les Mills Bodupump itu.
Olahraga dengan intensitas tinggi seperti body combat, body pump, atau angkat beban dapat dilakukan 1 jam setelah berbuka dengan makan berat. "Ajak anggota keluarga atau teman agar olahraga terasa lebih menyenangkan," sarannya.
Chief Operating Officer& Member of Board of Director Combiphar, Lim Soeyantho, menambahkan pihaknya mengajak masyarakat Indonesia untuk tetap menjalankan gaya hidup aktif agar bugar saat menjalankan puasa Ramadan. "Inisiatif ini sesuai dengan komitmen perusahaan, championing a healthy tomorrow untuk membantu menciptakan generasi Indonesia yang lebih sehat," pungkasnya. (*/H-2)
Berbagai hidangan takjil yang tinggi kandungan gula justru dapat memicu lonjakan kadar gula darah secara drastis dalam waktu singkat.
Puasa dapat meningkatkan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), sebuah protein yang memiliki peran krusial dalam fungsi kognitif dan kemampuan seseorang dalam meregulasi emosi.
Tradisi munggahan merupakan strategi sosial untuk memperkuat solidaritas, memperbarui relasi, dan menjaga identitas budaya.
Pada dasarnya, puasa tidak memberikan dampak buruk secara langsung terhadap sistem kelistrikan jantung pasien.
Ayat ini menegaskan tujuan utama puasa adalah takwa, yakni kesadaran moral spiritual yang melahirkan kepatuhan, kejujuran, dan tanggung jawab baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved