Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Upie Guava dan Upaya Mengembalikan Hak Imajinasi Anak lewat Film Pelangi di Mars

Intan Safitri
16/2/2026 07:00
Upie Guava dan Upaya Mengembalikan Hak Imajinasi Anak lewat Film Pelangi di Mars
Upie Guava(Doc Medcom)

FILM anak sering dianggap sebagai tontonan ringan. Padahal, bagi Upie Guava, Sutradara Pelangi di Mars, film anak punya peran yang jauh lebih penting. Lewat film Pelangi di Mars yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 Maret, ia membawa satu gagasan yang jelas, anak-anak Indonesia berhak memiliki ruang untuk berimajinasi seluas mungkin.

Upie melihat sendiri bagaimana pilihan film anak yang benar-benar membangkitkan semangat dan rasa ingin tahu masih terbatas. Ia berbicara dari sudut pandang orang tua.

“Kami tuh ngerasa, kami ini punya anak kecil, ngerasa bahwa kita tuh belum punya banyak pilihan untuk bicara soal anak kecil, literasi film anak, yang ngebangkitin semangat, petualangan,” ujarnya dalam sesi door stop di Menteng, Jakarta, Jumat (15/2).

Pernyataan itu menunjukkan keresahan bahwa film anak seharusnya tidak hanya menghibur, tetapi juga membangkitkan daya imajinasi. Anak-anak membutuhkan cerita yang membuat mereka penasaran, berani mencoba, dan tidak takut bermimpi besar.

Tumbuh Bersama Cerita Petualangan

Upie kemudian menyinggung pengalaman masa kecilnya. Ia tumbuh dengan berbagai cerita dan tokoh yang membawanya menjelajah dunia, bahkan melampaui batas ruang dan waktu.

“Saya tumbuh dengan Thanos, tumbuh dengan Back to the Future, tumbuh dengan Tintin, komik. Jadi (waktu) kita  masih kecil tuh kayak merasa menjadi orang dewasa itu tentang petualangan, menjelajah gitu,” katanya.

Bagi Upie, pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya. Saat kecil, ia merasa menjadi dewasa berarti memiliki keberanian untuk menjelajah dan menghadapi tantangan. Cerita-cerita itu menanamkan rasa percaya diri sejak dini.

Ia bahkan mengaitkan hal tersebut dengan masa depan bangsa. “Buat saya tuh bangsa ini, bangsa yang besar itu tuh adalah (dari) mimpi anak-anaknya gitu,” ucapnya.

Kalimat itu menegaskan bahwa imajinasi bukan hal sepele. Mimpi anak-anak hari ini bisa menjadi fondasi bagi keberanian dan inovasi di masa depan. Jika sejak kecil mereka terbiasa membayangkan hal besar, rasa percaya diri itu akan terbawa hingga dewasa.

Anak Kecil yang Bermimpi ke Mars

Konsep Pelangi di Mars sendiri berangkat dari ide yang sederhana, tentang seorang anak kecil yang memiliki mimpi pergi ke Mars. Dari situ, cerita berkembang menjadi petualangan yang lebih luas.

“Sesederhana ada anak kecil yang punya mimpi ke Mars, mimpi berpetualang, yang memberikan solusi untuk beberapa masalah di dunia,” ujar Upie.

Artinya, film ini tidak hanya menampilkan perjalanan ke luar angkasa. Ada pesan yang ingin disampaikan, yaitu bahwa anak-anak juga bisa menjadi bagian dari solusi. Mereka tidak selalu harus digambarkan sebagai sosok yang pasif atau hanya belajar dari orang dewasa.

Dalam proses kreatifnya, Upie mengaku ide tersebut berkembang melalui diskusi dan kolaborasi dengan banyak pihak. “Nah setelah itu berkembang lah, ketemu Alim, seorang penulis skenario, berkembang lagi, ketemu banyak orang, kita kembangin lagi, kita kembangin lagi, akhirnya jadi film ini,” katanya.

Proses itu menunjukkan bahwa film ini digarap dengan keseriusan. Bukan sekadar menghadirkan cerita fantasi, tetapi juga membangun pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.

Literasi Film Anak yang Perlu Diperkuat

Upie juga menyoroti pentingnya literasi film anak. Menurutnya, tontonan yang dikonsumsi anak akan membentuk cara mereka melihat diri sendiri dan dunia. Jika sejak kecil mereka disuguhi cerita yang membatasi imajinasi, maka rasa percaya diri mereka pun bisa ikut terbatasi.

“Kita tumbuh dengan perasaan kita bisa menaklukkan dunia dan lain-lain, nah saat dewasa kan ada kepercayaan diri yang muncul,” ujarnya.

Pernyataan itu menggarisbawahi hubungan antara imajinasi dan kepercayaan diri. Imajinasi bukan sekadar khayalan, melainkan ruang untuk melatih keberanian berpikir dan bertindak. Anak yang terbiasa membayangkan kemungkinan besar akan lebih siap menghadapi tantangan nyata.

Di tengah arus informasi yang cepat dan tekanan untuk selalu realistis, ruang imajinasi sering kali terpinggirkan. Anak-anak didorong untuk cepat memahami aturan dan target, tetapi jarang diajak bermimpi tanpa batas. Di sinilah Upie melihat perlunya perubahan.

Imajinasi sebagai Hak Anak

Lewat Pelangi di Mars, Upie ingin menegaskan bahwa imajinasi adalah hak anak. Mereka berhak memiliki dunia khayal, berhak membayangkan perjalanan ke Mars, dan berhak merasa bahwa mimpi mereka valid.

Film ini memang dikemas sebagai petualangan fiksi ilmiah, lengkap dengan unsur luar angkasa dan robot dari bangsa lain. Namun inti ceritanya tetap sederhana, yaitu tentangg seorang anak kecil yang percaya pada mimpinya.

Upie tidak menjanjikan perubahan besar dalam waktu singkat. Namun ia berharap film ini bisa memberi dampak, sekecil apa pun. Jika setelah menonton ada anak yang merasa lebih berani bermimpi, maka tujuan itu sudah tercapai.

Pada akhirnya, Pelangi di Mars bukan sekadar film petualangan. Ia adalah pernyataan bahwa anak-anak tidak boleh kehilangan ruang untuk berimajinasi. Bagi Upie Guava, menjaga imajinasi anak sama pentingnya dengan membangun masa depan itu sendiri. Karena dari mimpi-mimpi kecil itulah keberanian dan kepercayaan diri tumbuh.

Sumber: Antara News

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya