Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
APA jadinya saat niat tulus justru berbuah cobaan hidup yang menyakitkan? Premis emosional inilah yang diangkat oleh Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment melalui film terbaru mereka, Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?
Di bawah arahan sutradara Jay Sukmo, film ini menyuguhkan potret keteguhan seorang perempuan dalam menghadapi reruntuhan rumah tangga.
Cerita berfokus pada Sarah (Revalina S Temat), yang awalnya menjalani hidup harmonis bersama suaminya, Satrio (Gunawan Sudrajat), dan putri remaja mereka, Laila (Annisa Kaila).
Namun, stabilitas itu hancur seketika saat Satrio mengutarakan niat untuk berpoligami dengan Annisa (Megan Domani), seorang resepsionis muda di kantornya.
Enggan dimadu, Sarah mengambil langkah drastis untuk bercerai. Ia mencoba bangkit dari keterpurukan dengan membangun usaha desain scarf bersama dukungan para sahabat.
Namun, saat hidupnya mulai tertata, sebuah ujian yang jauh lebih berat menghantam: Satrio jatuh bangkrut dan menderita sakit keras yang membutuhkan pertolongan segera.
Atas dasar kemanusiaan dan status Satrio sebagai ayah kandung putrinya, Sarah mengambil keputusan paling sulit dalam hidupnya. Ia mengizinkan mantan suami beserta istri barunya tinggal di bawah atap rumah miliknya sendiri.
Keputusan ini menjadi titik balik konflik film. Alih-alih mendapatkan kedamaian, kebaikan hati Sarah justru memicu fitnah dari lingkungan sekitar dan tekanan sosial yang hebat.
Hubungannya dengan Laila pun merenggang; sang anak tumbuh dengan amarah dan luka batin yang terpendam akibat ketiadaan figur ayah sejak perceraian orang tuanya.
Revalina S Temat tampil memukau sebagai Sarah. Ia membawakan karakter ini dengan akting yang natural—emosi yang dirasakan tetap tersampaikan meski dalam adegan tanpa dialog sekalipun.
Gunawan pun berhasil menggambarkan sosok Satrio yang canggung dan goyah akibat konsekuensi pilihannya sendiri.
Sementara itu, Annisa Kaila memberikan kejutan melalui performa emosional yang menggambarkan kebingungan anak korban konflik keluarga.
Salah satu kekuatan utama film ini adalah alur ceritanya yang mampu mengaduk emosi tanpa harus terjatuh pada dramatisasi yang berlebihan.
Dengan penyutradaraan yang terkontrol, momen-momen emosional justru terasa lebih kuat dan meresap.
Film Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? bukan sekadar drama rumah tangga biasa. Film ini adalah cermin tentang perjalanan batin seorang perempuan dalam memaafkan dan memaknai pengorbanan.
Film ini mengingatkan bahwa keteguhan bukan berarti tanpa luka, melainkan keberanian untuk tetap bertahan meski doa seolah belum terjawab.
Selain pemeran utama di atas, film ini juga didukung oleh Alex Abbad, Dhawiya Zaida, dan Roy Sungkono. Kisah perjuangan Sarah ini sudah tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 29 Januari 2026. (Ant/Z-1)
Menurut Dian Sastrowardoyo, sosok Kinan dalam film Laut Bercerita adalah representasi perempuan yang sangat inspiratif.
Reza Rahadian mengungkapkan bahwa dalam mendalami karakter Biru Laut, ia memilih untuk tetap setia pada pondasi awal yang telah dibangun penulis.
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Suzzanna dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan sekadar tokoh hantu, melainkan representasi perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami wanita.
Pengalaman bertaruh nyawa tersebut terjadi saat Luna Maya melakoni adegan di sebuah sungai yang memiliki arus cukup deras di kawasan Pangandaran, Jawa Barat.
Film Ghost in the Cell garapan sutradara Joko Anwar menjadi debut Magistus Miftah setelah ia berhasil menembus audisi yang diikuti ratusan pendaftar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved