Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Sekolah Larang Lagu Film KPop Demon Hunters, Dinilai Tak Sejalan dengan Nilai Kekristenan

Thalatie K Yani
18/11/2025 08:26
Sekolah Larang Lagu Film KPop Demon Hunters, Dinilai Tak Sejalan dengan Nilai Kekristenan
Sebuah sekolah di Inggris melarang murid menyanyikan lagu dari film KPop Demon Hunters. (IMDB)

LILLIPUT Church of England Infant School di Poole, Dorset, melarang murid menyanyikan lagu dari film populer Netflix KPop Demon Hunters. Dalam pesan kepada orangtua, Jumat lalu, pihak sekolah menyebut sejumlah anggota komunitas merasa “sangat tidak nyaman” dengan adanya referensi tentang demon dalam lagu-lagu film tersebut.

Sekolah menjelaskan sebagian orangtua “mengaitkan demon dengan kekuatan spiritual yang berlawanan dengan Tuhan dan kebaikan”. Mereka merasa tema tersebut tidak sesuai dengan etos kekristenan yang dianut sekolah.

Dalam pembaruan yang disampaikan pada Senin, Kepala Sekolah Pelaksana Lloyd Allington mengaku menerima masukan dari sejumlah orangtua yang menilai lagu-lagu tersebut justru membawa pesan positif. Namun, ia menegaskan sekolah juga perlu mendukung mereka yang merasa tema dalam film itu “menantang”.

KPop Demon Hunters, yang pada Agustus menjadi film Netflix paling banyak ditonton, bercerita tentang petualangan grup K-pop fiksi Huntr/x. Dalam film itu, tiga anggotanya menggunakan musik dan kemampuan bertarung untuk melindungi manusia dari demon. Film tersebut juga menampilkan grup saingan bernama Saja Boys yang terdiri dari lima demon, dengan lirik lagu bertema godaan dan bujukan.

Dalam pesan awal kepada orangtua, sekolah meminta mereka mendorong anak-anak “tidak menyanyikan lagu-lagu ini di sekolah sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang merasa tema tersebut bertentangan dengan keyakinan mereka”.

Namun, seorang orangtua mengatakan kepada BBC, larangan itu berlebihan. “Saya pikir itu konyol. Putri saya sangat menyukai K-pop dan dia serta teman-temannya menyukainya,” ujarnya. Ia menyebut anak-anak sering menampilkan lagu-lagu itu dalam kegiatan setelah sekolah.

“Ini hanyalah hal yang tidak berbahaya, sesuatu yang menyenangkan untuk menumbuhkan kepercayaan diri mereka,” katanya. Ia menggambarkan dirinya sebagai seorang ateis dan menilai kebijakan ini terasa “sedikit memaksakan dan mungkin agak tidak adil dan konyol”.

Ia menambahkan tidak pernah ada kebijakan seperti ini sebelumnya dan memuji sekolah secara umum. Namun merasa sekolah berada dalam tekanan saat membuat keputusan tersebut.

Dalam pembaruan pada Senin, Allington mengatakan sejumlah orangtua menilai lagu seperti “Golden”, membantu anak-anak belajar tentang kerja sama, keberanian, dan kebaikan.

Ia menegaskan, “Sementara kami sepenuhnya menghormati hak Anda untuk menentukan konten yang diakses anak di rumah, kami juga ingin menghormati keberagaman keyakinan di komunitas sekolah kami.”

“Bagi sebagian umat Kristen, referensi tentang demon bisa terasa sangat tidak nyaman karena mereka mengaitkannya dengan kekuatan spiritual yang berlawanan dengan Tuhan dan kebaikan.”

Allington menutup dengan menegaskan sekolah tidak meminta orangtua melarang anak menikmati film tersebut. “Peran kami hanya membantu anak-anak memahami bahwa sebagian teman mereka memiliki pandangan berbeda dan mengeksplorasi bagaimana kita dapat menghormati serta mendukung mereka dalam menjaga keyakinan mereka.” (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik