Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
SINGER/Songwriter asal Jatinangor, Prass merilis single terbarunya bertajuk Pada Akhirnya Kita Kan Mati. Ini adalah single kedua di tahun ini setelah sebelumnya ia merilis Free As A Bird, Juli lalu. mnariknya, di single ini, ia ditarik oleh label 88Rising untuk mempromosikan lagu ini secara lebih luas ke pasar internasional.
Prass sendiri bukan nama baru di kancah musik independen. Setelah debut albumnya Prass (2023) melahirkan single populer Lucky Man, ia kembali mencuri perhatian dengan Free As A Bird di pertengahan 2025.
Kini, lewat Pada Akhirnya Kita Kan Mati, Prass menegaskan dirinya sebagai singer-songwriter yang tidak hanya bercerita lewat lagu, tapi juga membuka jalan menuju panggung musik global.
Meski judulnya terdengar provokatif, Pada Akhirnya Kita Kan Mati sama sekali bukanlah lagu yang bicara tentang kematian, melainkan tentang kehidupan itu sendiri.
“Ini refleksi penerimaan,” kata Prass. “Titik balik di mana gue mulai melihat dunia dengan cara berbeda. Hidup ini bukan hanya tentang diri sendiri, tapi tentang bagaimana kita saling terhubung. Dari situ lahir kesadaran untuk hidup lebih mindful, penuh syukur, dan menikmati setiap momen sekecil apa pun."
Secara musikal, single ini sedikit berbeda dari karya-karya Prass sebelumnya. Jika biasanya kental dengan nuansa country, kali ini ia menggeser arahnya ke pop dengan balutan pedal steel yang lebih subtle.
“Mungkin ini lagu gue yang paling nggak country,” ujarnya sambil tertawa. “Tapi justru gue bikin dengan pendekatan pop supaya lebih mudah dinikmati, bahkan saat lo lagi terjebak macet di jalan.”
Dalam penggarapan single ini, Prass dibantu Hilmi Adriansyah sebagai produser sekaligus music arranger. Beberapa musisi lain juga turut mengisi warna, seperti Maulana Dwi Putra (drum), Hilman Firmansyah (bass), Rezky Delian (perkusi), Fadli Julistia (gitar), Ratih Putri Apriliani (keyboard), dan Sigit Hadi Kurniawan (trumpet).
Single ini, juga Free As A Bird nantinya akan masuk ke album kedua Prass yang tengah dipersiapkan, berisi total 12 lagu.
Lebih jauh soal kolaborasi Prass dengan 88Rising, perusahaan musik global asal Amerika Serikat yang telah membawa nama besar seperti Joji, Rich Brian, NIKI, hingga Keith Ape ke panggung internasional.
Kerja sama ini bermula dari undangan lewat DM Instagram. “Awalnya gue kira akun anonim atau spam,” kenang Prass. “Ternyata mereka benar dari Future Asian Music (FAM), distributor musik digital yang terhubung dengan 88Rising. Untuk sekarang fokusnya di distribusi dan pitching playlist, hal-hal yang selama ini gue handle sendiri. Dengan track record 88Rising, gue harap ini bisa bikin musik gue didengar lebih luas.” harapnya. (Z-1)
Lagu Born in February dari WUSS merupakan narasi perlawanan terhadap stigma bahwa menjadi yang kedua berarti menjadi bayangan atau pengganti.
Sebagai pemenang Grand Prix dari 48.000 peserta, LIL LEAGUE kini memosisikan diri sebagai representasi energi segar bagi generasi baru pop Jepang.
Mark Sonnenblick, penulis lagu di balik kesuksesan film pertama K-Pop Demon Hunters, mengungkapkan bahwa tim produksi sedang mempersiapkan kelanjutan kisah para pemburu setan tersebut
Lagu Sementara atau Selamanya dari Trisouls menyentuh sisi kerentanan seseorang saat memendam kekaguman dan kegugupan yang melanda ketika ingin mengungkapkan perasaan.
Berbeda dengan dua pendahulu dari Indra Dinda, Turun Di Sini Dulu hadir dengan sentuhan aransemen musik pop alternatif.
Tajuk Typhoon diambil dari titik balik krusial dalam hidup Luke Chiang.
Lagu Born in February dari WUSS merupakan narasi perlawanan terhadap stigma bahwa menjadi yang kedua berarti menjadi bayangan atau pengganti.
Lagu Sementara atau Selamanya dari Trisouls menyentuh sisi kerentanan seseorang saat memendam kekaguman dan kegugupan yang melanda ketika ingin mengungkapkan perasaan.
Berbeda dengan dua pendahulu dari Indra Dinda, Turun Di Sini Dulu hadir dengan sentuhan aransemen musik pop alternatif.
Berbeda dengan lagu religi pada umumnya yang sarat akan pesan tersurat, Hidup Tanpa Kata justru menonjolkan kekuatan dalam kesunyian.
Bagi Cakra Khan, proyek kolaborasi dengan Chrisye ini bukan sekadar pekerjaan profesional biasa, melainkan salah satu pencapaian tertinggi dalam perjalanan kariernya.
Meski baru berusia 16 tahun, Katyana Mawira membawa bekal pendidikan vokal formal yang telah ia tekuni sejak 2015 sebagai fondasi kuat dalam berkarya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved