Headline
Ada unsur yang ingin Indonesia chaos.
PENYANYI, produser, dan multiinstrumentalis Chris LaRocca resmi merilis single ketiganya tahun ini, Slow Dance in the Diner. Lagu itu juga akan menjadi bagian dari EP mendatangnya Dog Years di bawah Red Bull Records/Wonderchild.
Slow Dance in the Diner jadi salah satu rilisan paling personal dari LaRocca sejauh ini.
Lewat lagu ini, ia mengajak pendengarnya ikut merasakan hangatnya momen-momen kecil yang bisa terjadi saat sedang jatuh cinta, ketika saat hal sederhana justru terasa paling berarti dan membekas.
Dari segi penulisan, LaRocca tetap detail seperti biasanya, tapi kali ini ia memakai pendekatan yang lebih organik. Vokalnya terdengar lebih dekat dan jujur, liriknya lugas, dan aransemen gitarnya memberi warna yang hangat sekaligus melankolis. Lagu ini membuka sisi baru dari proses kreatif LaRocca, sekaligus jadi langkah awal dari eksplorasinya ke gaya bercerita yang selama ini hanya ia kagumi dari jauh. Terinspirasi dari nuansa folk dan americana, lagu ini dibalut dengan kesederhanaan yang tulus dan nggak dibuat-buat.
Soal inspirasi di balik lagu ini, LaRocca bercerita, "Slow Dance in the Diner sebenarnya terinspirasi dari perjalanan aku bareng pasanganku ke Halifax di East Coast Kanada. Setelah mampir ke Peggy's Cove, kami menemukan satu-satunya restoran yang masih buka malam itu, namanya The Finer Diner."
"Begitu masuk, mereka lagi muter lagu country lama, dan tempatnya benar-benar kosong, hanya ada kami dan orang yang jaga kasir. Sambil nunggu lama banget buat bayar, kami akhirnya berdansa pelan untuk mengisi waktu."
"Pas aku ingat-ingat lagi, rasanya kayak adegan film. Itu salah satu momen langka di hidupku di mana aku benar-benar ngerasa dicintai dan mencintai. Di situ juga aku sadar, aku jarang banget kasih waktu buat diri sendiri untuk berhenti sejenak dan hadir penuh di satu momen. Lagu ini jadi pengingat buat menikmati waktu-waktu kayak gitu sepenuhnya," lanjutnya.
Sebelum ini, LaRocca sudah merilis dua single dari EP Dog Years, yaitu Ladybug dan Laundry Day, yang sama-sama menggambarkan perjalanannya dalam mengenal dan menjaga cinta.
Meski tiap lagu punya warna musik yang berbeda, semuanya ditulis dalam satu tahun yang penuh perubahan, tahun ketika LaRocca banyak bertumbuh, baik sebagai individu maupun sebagai pasangan. Lagu-lagu ini terdengar seperti potongan jurnal pribadi yang ia buka satu per satu, dengan cerita yang jujur dan terasa dekat.
Seiring makin banyak potongan dari Dog Years yang dirilis, pendengar diajak menyelami sisi-sisi baru dari LaRocca. Kini, musisi asal Toronto itu tidak lagi ragu menunjukkan sisi rapuhnya.
Dari satu lagu ke lagu lain, ia konsisten membuktikan bahwa momen-momen paling sederhana dalam hidup bisa jadi cerita yang kuat, dan musiknya selalu punya cara untuk nyambung dengan siapa saja yang mendengarkan. (Z-1)
Pada dasarnya, album Duara, In The Moment, bicara tentang persepsi waktu — bagaimana ia bisa meregang, berulang, dan menggantung di luar kendali kita.
Like A Movie dari Kevlar.Alc adalah lagu tentang cinta terlarang yang terlalu kuat untuk diabaikan.
Ikang Fawzi menyoroti permasalahan pembagian royalti yang menurutnya belum bisa dikatakan adil karena terlalu banyak ke LMK.
Lyodra berharap dengan lagu Bodohnya Aku ada sesuatu yang beda yang bisa ia berikan ke para penggemarnya, baik itu dari segi musik, maupun videonya.
Musik video yang megah ini hadir dengan konsep Korean looks, memperlihatkan Ryans Rayel yang tampil memukau diiringi dengan 12 penari profesional.
Menyajikan perpaduan multigenre yang mencakup pop, R&B, dan alternatif khas Devin, EP Blue Skies dari Devin Kennedy hadir dengan focus track All Because I Love Someone.
Like A Movie dari Kevlar.Alc adalah lagu tentang cinta terlarang yang terlalu kuat untuk diabaikan.
Lyodra berharap dengan lagu Bodohnya Aku ada sesuatu yang beda yang bisa ia berikan ke para penggemarnya, baik itu dari segi musik, maupun videonya.
Musik video yang megah ini hadir dengan konsep Korean looks, memperlihatkan Ryans Rayel yang tampil memukau diiringi dengan 12 penari profesional.
Menyajikan perpaduan multigenre yang mencakup pop, R&B, dan alternatif khas Devin, EP Blue Skies dari Devin Kennedy hadir dengan focus track All Because I Love Someone.
Mengusung sound dengan bass drop khas dubstep, Ciko mengaku banyak terinspirasi dari genre yang ia geluti dahulu yakni post-hardcore dan death metal.
Bernuansa dream-pop dan shoegaze, Shed dari Shye membahas tentang kesedihan masa lalu yang tidak bisa kita ubah.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved