Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
SUTRADARA Monty Tiwa mengatakan dirinya merasa mendapatkan kehormatan karena memiliki kesempatan membuat ulang (remake) Gita Cinta dari SMA dari film keluaran 1979 yang berjudul sama.
"Dengan cukup jujur, saya bisa bilang, saya nggak bisa melihat ini sebagai tantangan. Tapi saya melihat ini sebagai kehormatan," kata Monty, dikutip Jumat (20/1).
"Kalau tantangan, kita namanya kerja ya, mau bikin film apa pun pasti tantangan. Kalau itu sudah nggak usah diomongin. Tapi tidak semua tantangan dibarengi dengan kehormatan," imbuh dia.
Baca juga: Prilly Harap Gita Cinta dari SMA Hadirkan Nostalgia
Monty menambahkan dirinya juga merasa mendapatkan kehormatan mengalihwahanakan novel yang ditulis Eddy D Iskandar, termasuk Gita Cinta dari SMA.
Sebelumnya, sutradara itu pernah menggarap film Rompis (2018), yang diadaptasi dari novel Roman Picisan karya penulis tersebut.
"Untuk kedua kalinya, saya mendapat kehormatan memfilmkan cerita Pak Eddy Cerita itu adalah salah satu bagian saat saya tumbuh kembang dari SD dan SMP," ujar dia.
"Kehormatan untuk mengulang lagi cerita yang dulu pernah ada," lanjut Monty.
Monty telah menduga dirinya akan banyak mendapatkan pertanyaan mengapa dirinya membuat film Gita Cinta dari SMA mengingat cerita tersebut sudah dialihwahanakan menjadi film yang pertama kali dirilis pada 1979 dan pernah diadaptasi bebas pada 2017 oleh sutradara Lucky Kuswandi berjudul Galih dan Ratna.
Dalam tataran individu, Monty mengungkapkan dirinya ingin ikut ambil bagian dalam menceritakan atau menyuarakan ulang karya legendaris tersebut.
Dalam tataran yang lebih luas, dia merasa memiliki tanggung jawab untuk meneruskan karya kreatif tersebut kepada generasi baru.
"Kalau tidak kita teruskan, tidak kita daur ulang, menurut saya, ada sebuah rantai nilai, rantai identitas budaya kita yang hilang dari dua-tiga generasi lalu ke generasi sekarang. Jadi itu. Saya melihat ada tanggung jawab itu, di mana kita pernah punya cerita-cerita seperti ini [Gita Cinta dari SMA]," jelas dia.
Monty menilai bahwa cerita-cerita remaja di masa sekarang kebanyakan merujuk pada budaya di luar negeri. Padahal, imbuh dia, Indonesia memiliki cerita remaja legendaris yang memang merefleksikan identitas budaya lokal.
Dia juga mengingatkan bahwa Gita Cinta dari SMA merupakan hulu dari cerita-cerita remaja populer yang berkembang hingga masa selanjutnya.
"Itu kenapa Gita Cinta dari SMA ini perlu untuk dihadirkan lagi supaya generasi di bawah kita juga tidak lupa bahwa ada sebuah cermin dari mereka tentang bagaimana dulu anak-anak remaja dengan segala penampilannya, dengan segala keinginan untuk mandiri dan dewasa tapi harus punya pilihan-pilihan dan dihadapkan oleh perbedaan-perbedaan. Itu kan Indonesia banget sebetulnya," paparnya.
Film Gita Cinta dari SMA garapan Monty Tiwa akan tayang di bioskop tanah air pada 9 Februari mendatang.
Film itu dibintangi Yesaya Abraham sebagai Galih dan Prilly Latuconsina sebagai Ratna, serta sederet bintang lain seperti Arla Ailani, Chantiq Schagerl, Fadi Alaydrus, Dewi Gita, Putri Ayudya, Dwi Sasono, dan Unique Priscilla. (Ant/OL-1)
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Suzzanna dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan sekadar tokoh hantu, melainkan representasi perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami wanita.
Joko Anwar menjelaskan bahwa pemilihan latar penjara di film Ghost in the Cell bukan sekadar untuk membangun suasana seram, melainkan sebagai metafora kondisi masyarakat.
Produser dan sutradara kompak menyebut telah menyiapkan universe untuk Pelangi di Mars, baik itu berupa sekuel, prekuel ataupun spin-off.
Surat Untuk Masa Mudaku menyoroti perjalanan hidup karakter bernama Kefas, yang diperankan oleh Millo Taslim pada masa muda dan Fendy Chow saat beranjak dewasa.
Gina S Noer memaparkan bahwa film Esok Tanpa IbuĀ bukan sekadar cerita tentang teknologi, melainkan sebuah eksplorasi mengenai relasi kompleks antara AI, sosok ibu, dan lingkungan hidup.
Segara mengaku bangga sekaligus merasa tertantang saat terpilih untuk membawakan lagu legendaris untuk sebuah soundtrack film.
Dalam karakternya sebagai seorang ayah, aktor kelahiran Surabaya itu selalu menentang hubungan asmara anak gadisnya Ratna (Prilly Latuconsina) dengan Galih (Yesaya Abraham).
Aktris lulusan SMA Negeri 7 Tangerang Selatan ini mengatakan cinta pertamanya itu mirip dengan sosok Galih pada film legendaris Gita Cinta Dari SMA.
Gita Cinta Dari SMA 2023 itu merupakan remake dari film lawas legendaris yang diperankan Rano Karno dan Yessy Gusman pada 1979.
Artis senior Rano Karno dan Yessi Gusman, yang memerankan Galih dan Ratna di film original, turut hadir mendukung gala premiere film remake legendaris tersebut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved