Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Combat Sport Indonesia: Viral Dulu, Profesional Belakangan

Muhammad Fathir, mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila
13/1/2026 17:12
Combat Sport Indonesia: Viral Dulu, Profesional Belakangan
Muhammad Fathir(DOK PRIBADI)

COMBAT sport di Indonesia sedang ramai. Event muncul hampir setiap bulan. Penonton membludak. Media sosial penuh cuplikan pertarungan. Namun, di balik keramaian itu, ada satu pertanyaan penting: apakah yang berkembang adalah olahraga, atau hanya sensasi?

Hari ini, combat sport lebih sering diposisikan sebagai tontonan instan. Nilai jual utama bukan lagi teknik, disiplin, atau rekam jejak atlet. Yang dicari adalah drama, konflik, dan popularitas. Atlet yang kuat secara teknis kalah pamor dari figur yang kuat secara algoritma.

Fenomena ini menciptakan paradoks. Semakin ramai dibicarakan, semakin kabur arah pembinaannya. Banyak petarung berlatih keras bertahun-tahun, tetapi kalah kesempatan karena tidak 'menjual'. Sementara itu, nama-nama baru bisa naik ring tanpa fondasi yang cukup, hanya karena punya basis penggemar.

Masalah utama terletak pada sistem. Pembinaan atlet belum berjalan terstruktur. Jalur karier tidak jelas. Standar kontrak sering timpang. Perlindungan kesehatan kerap menjadi formalitas. Padahal combat sport adalah olahraga dengan risiko tinggi, bukan sekadar konten hiburan.

Profesionalisme sering dikalahkan oleh logika pasar. Selama penonton ramai, persoalan dianggap selesai. Kritik dipatahkan dengan alasan industri masih berkembang. Padahal justru di fase berkembang inilah fondasi seharusnya diperkuat.

Federasi, promotor, dan komunitas berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada visi bersama. Tidak ada peta jalan jangka panjang. Atlet akhirnya berada di posisi paling lemah. Mereka bertaruh fisik dan masa depan, tetapi tidak memiliki posisi tawar yang setara.

Yang lebih mengkhawatirkan, normalisasi ini dianggap wajar. Cedera diperlakukan sebagai risiko biasa. Ketimpangan dianggap konsekuensi. Kritik dilabeli sebagai sikap anti kemajuan. Padahal kritik adalah alarm, bukan ancaman.

Negara lain menunjukkan bahwa combat sport bisa berkembang tanpa kehilangan muruah. Hiburan dan profesionalisme bisa berjalan beriringan. Atlet dihormati sebagai pekerja olahraga, bukan sekadar pengisi kartu pertandingan.

Indonesia sebenarnya memiliki modal besar. Talenta melimpah. Mental tanding kuat. Basis penonton luas. Namun modal tanpa sistem hanya akan menghasilkan ledakan sesaat. Viral hari ini, hilang esok hari.

Jika combat sport terus diarahkan hanya untuk kejar sensasi, yang tersisa hanyalah panggung ramai tanpa kualitas. Atlet akan habis lebih cepat dari kariernya. Penonton akan jenuh. Kepercayaan publik akan menurun.

Combat sport seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter. Disiplin. Ketangguhan. Sportivitas. Nilai-nilai ini tidak lahir dari panggung yang kacau, tetapi dari sistem yang adil dan konsisten.

Sudah waktunya semua pihak berhenti bersembunyi di balik kata 'hiburan'. Combat sport adalah olahraga. Ada tanggung jawab moral di dalamnya. Terhadap atlet. Terhadap penonton. Terhadap masa depan cabang itu sendiri.

Jika tidak ada perubahan arah, Indonesia mungkin akan terus ramai, namun hanya sebagai pasar. Bukan sebagai kekuatan dan itu adalah kerugian besar yang seharusnya bisa dihindari.

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya