Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Mitra Desa: Ruang Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat Desa

Nadhira Anabilla Divanya, mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila
12/1/2026 18:09
Mitra Desa: Ruang Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat Desa
Nadhira Anabilla Divanya(DOK PRIBADI)

SELAMA kuliah, mahasiswa sering dianggap memiliki kewajiban akademik untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian biasanya direduksi menjadi serangkaian kegiatan formal yang dianggap selesai saat program berakhir.

Padahal, jika dimaknai lebih dalam, pengabdian merupakan ruang tempat dunia kampus bertemu dengan dunia sosial, yang selama ini hanya dikenal melalui teori dan percakapan di ruang kelas. 

Pengabdian menuntut mahasiswa tidak hanya hadir secara nyata di tengah masyarakat, tetapi juga memahami dinamika sosial, kebutuhan, dan cara pandang masyarakat dari sudut pandang yang berbeda dari lingkungan akademik.

Jadi, pengabdian kepada masyarakat bukan  sekadar pelaksanaan program, melainkan proses pembelajaran sosial yang menggabungkan pengalaman lapangan dengan pengetahuan akademik.

Seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila dalam mengikuti program Mitra Desa. Keterlibatan mahasiswa di desa tidak dapat dilakukan dengan cara yang sama.

Setiap desa memiliki dinamika sosial, kebutuhan, dan ritme kehidupan yang unik. Karena itu, mahasiswa tidak dapat datang dengan gagasan yang sudah ada dan mengharapkan masyarakat berubah. Metode seperti ini berisiko menjauhkan pengabdian dari tujuannya yang utama. 

Warga sebagai Mitra 

Proses pengabdian di Kampung Cibuluh, Desa Kiarasari, Kabupaten Bogor, dimulai dengan mendengarkan. Mahasiswa melakukan pengenalan lapangan dan berdiskusi langsung dengan warga untuk memahami masalah, kebutuhan, dan minat masyarakat setempat.

Selama proses ini, kegiatan yang direncanakan oleh mahasiswa dan masyarakat desa terbentuk dari  percakapan dan kesepakatan yang dibuat oleh keduanya.

Pendekatan itu menempatkan masyarakat atau warga bukan sebagai objek kegiatan, melainkan sebagai mitra yang terlibat secara aktif. Dari perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan, perangkat desa, ibu-ibu PKK, kelompok kerja, pemuda, dan warga lainnya berpartisipasi. 

Penyesuaian waktu dan agenda dilakukan agar kegiatan tidak mengganggu aktivitas warga sehari-hari. Dalam beberapa kesempatan, mahasiswa mengikuti agenda masyarakat yang sudah ada sebagai bentuk berpartisipasi dan belajar tentang masyarakat. Keterlibatan langsung dalam program Mitra Desa menjadi pelajaran penting tentang komunikasi bagi mahasiswa.

Menghadapi masyarakat membutuhkan kemampuan untuk menyampaikan ide dengan mudah, mendengarkan dengan aktif, dan menyesuaikan cara berkomunikasi dengan berbagai audiens. Interaksi, diskusi, dan penyesuaian di lapangan  menjadi bagian dari proses komunikasi yang berkembang secara alami.

Dalam berbagai kegiatan sosialisasi dan edukasi, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator dialog. Pendampingan langsung, diskusi kelompok, dan penggunaan media presentasi sederhana adalah bagian dari proses komunikasi yang berlangsung secara alami.

Pahami sebelum bertindak

Dari pengalaman tersebut, mahasiswa belajar  bahwa komunikasi bukan hanya soal berbicara, melainkan membangun pemahaman bersama  antara berbagai pihak yang terlibat.

Praktik pengabdian seperti Mitra Desa juga memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat hadir secara konkret dalam kehidupan sosial. Upaya memahami kebutuhan masyarakat sebelum bertindak mencerminkan nilai kemanusiaan.

Kerja bersama antara mahasiswa dan warga desa menunjukkan semangat persatuan dan gotong royong. Proses musyawarah dalam menentukan bentuk kegiatan mencerminkan nilai kerakyatan, sedangkan penyesuaian kegiatan dengan kondisi dan agenda warga menunjukkan upaya menghadirkan keadilan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman pengabdian di desa menunjukkan bahwa tanggung jawab mahasiswa tidak terbatas pada prestasi akademik. Semua mahasiswa memiliki kewajiban sosial untuk hadir secara sadar, belajar dengan rendah hati, dan memberikan kontribusi tanpa menggurui.

Dalam proses tersebut, mahasiswa justru menjadi pihak yang paling banyak belajar karena menghadapi realitas sosial yang beragam secara langsung.

Pembelajaran Sosial

Keterlibatan mahasiswa melalui pendekatan kolaboratif menjadi semakin penting di tengah berbagai tantangan pembangunan dan kesenjangan sosial yang masih dihadapi banyak desa. Bukan untuk menyediakan solusi cepat, tetapi untuk membangun proses bersama yang didasarkan pada kebutuhan dan potensi lokal.

Dari desa, mahasiswa belajar bahwa percakapan, pengalaman, dan kebersamaan dengan masyarakat adalah cara lain untuk memperoleh  pengetahuan.

Pada akhirnya, pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar program kampus yang harus diselesaikan. Program itu nerupakan proses pembelajaran sosial yang membentuk empati,  kedewasaan, serta cara pandang mahasiswa terhadap masyarakat tempat mereka hidup dan berproses.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya