Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA kuliah, mahasiswa sering dianggap memiliki kewajiban akademik untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian biasanya direduksi menjadi serangkaian kegiatan formal yang dianggap selesai saat program berakhir.
Padahal, jika dimaknai lebih dalam, pengabdian merupakan ruang tempat dunia kampus bertemu dengan dunia sosial, yang selama ini hanya dikenal melalui teori dan percakapan di ruang kelas.
Pengabdian menuntut mahasiswa tidak hanya hadir secara nyata di tengah masyarakat, tetapi juga memahami dinamika sosial, kebutuhan, dan cara pandang masyarakat dari sudut pandang yang berbeda dari lingkungan akademik.
Jadi, pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar pelaksanaan program, melainkan proses pembelajaran sosial yang menggabungkan pengalaman lapangan dengan pengetahuan akademik.
Seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila dalam mengikuti program Mitra Desa. Keterlibatan mahasiswa di desa tidak dapat dilakukan dengan cara yang sama.
Setiap desa memiliki dinamika sosial, kebutuhan, dan ritme kehidupan yang unik. Karena itu, mahasiswa tidak dapat datang dengan gagasan yang sudah ada dan mengharapkan masyarakat berubah. Metode seperti ini berisiko menjauhkan pengabdian dari tujuannya yang utama.
Proses pengabdian di Kampung Cibuluh, Desa Kiarasari, Kabupaten Bogor, dimulai dengan mendengarkan. Mahasiswa melakukan pengenalan lapangan dan berdiskusi langsung dengan warga untuk memahami masalah, kebutuhan, dan minat masyarakat setempat.
Selama proses ini, kegiatan yang direncanakan oleh mahasiswa dan masyarakat desa terbentuk dari percakapan dan kesepakatan yang dibuat oleh keduanya.
Pendekatan itu menempatkan masyarakat atau warga bukan sebagai objek kegiatan, melainkan sebagai mitra yang terlibat secara aktif. Dari perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan, perangkat desa, ibu-ibu PKK, kelompok kerja, pemuda, dan warga lainnya berpartisipasi.
Penyesuaian waktu dan agenda dilakukan agar kegiatan tidak mengganggu aktivitas warga sehari-hari. Dalam beberapa kesempatan, mahasiswa mengikuti agenda masyarakat yang sudah ada sebagai bentuk berpartisipasi dan belajar tentang masyarakat. Keterlibatan langsung dalam program Mitra Desa menjadi pelajaran penting tentang komunikasi bagi mahasiswa.
Menghadapi masyarakat membutuhkan kemampuan untuk menyampaikan ide dengan mudah, mendengarkan dengan aktif, dan menyesuaikan cara berkomunikasi dengan berbagai audiens. Interaksi, diskusi, dan penyesuaian di lapangan menjadi bagian dari proses komunikasi yang berkembang secara alami.
Dalam berbagai kegiatan sosialisasi dan edukasi, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator dialog. Pendampingan langsung, diskusi kelompok, dan penggunaan media presentasi sederhana adalah bagian dari proses komunikasi yang berlangsung secara alami.
Dari pengalaman tersebut, mahasiswa belajar bahwa komunikasi bukan hanya soal berbicara, melainkan membangun pemahaman bersama antara berbagai pihak yang terlibat.
Praktik pengabdian seperti Mitra Desa juga memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat hadir secara konkret dalam kehidupan sosial. Upaya memahami kebutuhan masyarakat sebelum bertindak mencerminkan nilai kemanusiaan.
Kerja bersama antara mahasiswa dan warga desa menunjukkan semangat persatuan dan gotong royong. Proses musyawarah dalam menentukan bentuk kegiatan mencerminkan nilai kerakyatan, sedangkan penyesuaian kegiatan dengan kondisi dan agenda warga menunjukkan upaya menghadirkan keadilan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman pengabdian di desa menunjukkan bahwa tanggung jawab mahasiswa tidak terbatas pada prestasi akademik. Semua mahasiswa memiliki kewajiban sosial untuk hadir secara sadar, belajar dengan rendah hati, dan memberikan kontribusi tanpa menggurui.
Dalam proses tersebut, mahasiswa justru menjadi pihak yang paling banyak belajar karena menghadapi realitas sosial yang beragam secara langsung.
Keterlibatan mahasiswa melalui pendekatan kolaboratif menjadi semakin penting di tengah berbagai tantangan pembangunan dan kesenjangan sosial yang masih dihadapi banyak desa. Bukan untuk menyediakan solusi cepat, tetapi untuk membangun proses bersama yang didasarkan pada kebutuhan dan potensi lokal.
Dari desa, mahasiswa belajar bahwa percakapan, pengalaman, dan kebersamaan dengan masyarakat adalah cara lain untuk memperoleh pengetahuan.
Pada akhirnya, pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar program kampus yang harus diselesaikan. Program itu nerupakan proses pembelajaran sosial yang membentuk empati, kedewasaan, serta cara pandang mahasiswa terhadap masyarakat tempat mereka hidup dan berproses.
Yang kita butuhkan adalah Pancasila yang hidup dalam setiap klik, setiap unggahan, dan setiap interaksi digital kita.
Pemerintahan telah beralih dari melayani rakyat menjadi menanggapi tekanan opini.
Pemerintah diharapkan mau berbenah agar lebih terbuka terhadap masyarakat dan mendengarkan aspirasi yang disuarakan rakyat.
Dengan lirik yang gelap, agresif, dan penuh makna metafora, .Feast tidak hanya mengungkapkan kemarahan, tetapi juga memberi peringatan moral.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
FGD ini dihadiri oleh perwakilan dari 56 perguruan tinggi se-Indonesia yang berdialog langsung dengan pelaku industri Malaysia.
Sesi pertama pelatihan berupa literasi digital keuangan yang menekankan pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi dalam pengelolaan keuangan berbasis teknologi digital.
Program PKM ini tidak hanya memperkaya metode pembelajaran, tetapi juga menjawab tantangan strategis sekolah, yakni lemahnya promosi digital.
Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) untuk mendorong pembangunan ekonomi pedesaan.
Desa Patengan dipilih karena memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai desa wisata berkelanjutan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved