Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Ketika Simbol Menjadi Bahasa di Tengah Bencana

Aisyah Ichsani Maulida, mahasiswa Jurnalistik, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
07/1/2026 17:14
Ketika Simbol Menjadi Bahasa di Tengah Bencana
Aisyah Ichsani Maulida(DOK PRIBADI)

PENGIBARAN bendera putih dan bendera bulan bintang di beberapa wilayah Aceh tidak bisa dipisahkan dari situasi bencana yang berkepanjangan. Hal ini terjadi saat masyarakat masih menghadapi masalah besar seperti sulitnya mendapatkan air bersih, sanitasi yang belum membaik, serta usaha membersihkan sisa lumpur dan kerusakan lingkungan. Dalam kondisi seperti ini, simbol sering kali menjadi cara yang dipilih untuk menyampaikan kegelisahan 
bersama. 

Bendera putih yang biasanya dimaknai sebagai tanda kelelahan atau permohonan bantuan, muncul sebagai ekspresi visual yang sederhana tetapi memiliki kekuatan. Tanpa perlu penjelasan yang panjang, simbol ini langsung menarik perhatian dan memicu pembicaraan di masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika jarak antara pengalaman warga dan respons yang dirasakan semakin jauh, masyarakat cenderung memilih cara komunikasi yang paling mudah dikenal dan sulit diabaikan. 

Simbol sebagai Alarm Sosial 

Dalam banyak peristiwa kritis, simbol berfungsi sebagai alarm sosial. Simbol-simbol ini bukanlah solusi untuk masalah yang ada, tetapi menunjukkan keadaan saat ini masih perlu perhatian serius. Pengibaran bendera putih di Aceh bisa diartikan sebagai sinyal bahwa dampak dari bencana belum sepenuhnya teratasi dan sebagian warga masih berada  dalam situasi rentan. 

Kehadiran bendera bulan bintang berdampingan dengan bendera putih memberi tambahan makna dalam peristiwa ini. Mengingat sejarah dan kekhususan Aceh, simbol ini memiliki arti tersendiri. Namun, ketika simbol ini muncul di tengah situasi bencana dan tuntutan pemulihan, pesan yang muncul terlihat lebih berkaitan dengan kondisi kemanusiaan daripada perdebatan tentang simbol itu sendiri.

Dalam situasi darurat, simbol sering dipilih karena dapat menarik perhatian dan mudah dilihat, bukan hanya karena sejarahnya. Jika mencoba memahami simbol tanpa melihat konteks sosial, kita bisa kehilangan pemahaman terhadap pesan penting yang ingin disampaikan oleh masyarakat. 

Respons, Stabilitas, dan Pentingnya Memahami Konteks 

Di sisi lain, negara memiliki tanggung jawab untuk menjaga ketertiban dan stabilitas, terlebih di wilayah yang memiliki sejarah dan masalah sosial yang sensitif. Setiap ekspresi di ruang publik tentu perlu dikelola dengan hati-hati agar tidak menimbulkan dampak yang lebih besar. Namun, situasi bencana menuntut pendekatan yang tidak hanya berfokus pada ketertiban, tetapi juga memahami situasi sosial yang ada. 

Ketika simbol-simbol muncul bersama dengan tuntutan penangan bencana yang lebih serius, perhatian utama seharusnya tertuju pada inti masalah yaitu bagaimana memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi dan proses pemulihan berjalan efektif. Dalam kondisi darurat, kepekaan terhadap pesan sosial menjadi sama pentingnya dengan upaya menjaga stabilitas. 

Ruang Publik dan Risiko Salah Tafsir 

Ruang publik merupakan tempat bertemunya berbagai tafsir. Simbol yang bagi sebagian warga dimaknai sebagai ungkapan kondisi, bisa juga dianggap oleh orang lain sebagai hal yang sensitif. Ketegangan sering muncul bukan karena niat awal, tetapi karena perbedaan cara membaca pesan. 

Ketika ruang dialog terbatas, simbol bisa menjadi perdebatan yang lebih keras daripada isu yang sebenarnya memicu permasalahan tersebut. Perhatian publik dapat teralihkan pada kontroversi simbol, sementara isu-isu penting seperti kebersihan, pemulihan lingkungan, dan akses air bersih justru tersisih dari pembahasan utama. Dalam situasi seperti ini, ancaman terbesar adalah bergesernya fokus dari upaya pemulihan menuju perdebatan yang tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan warga. 

Mendahulukan Substansi daripada Simbol 

Pengibaran bendera putih di Aceh seharusnya dilihat sebagai pengingat bahwa di balik simbol ini ada kenyataan yang perlu terus diperhatikan. Ia bukan hanya sekadar tindakan visual, tetapi cerminan kehidupan warga yang masih berjuang dengan dampak dari bencana. Pendekatan yang mengedepankan pemahaman teks, dialog, dan fokus pada pemulihan akan lebih konstruktif dibanding memperpanjang pendekatan simbolik. 

Dengan menempatkan substansi di atas simbol, ruang publik bisa menjadi tempat yang lebih baik untuk meningkatkan empati, memperbaiki respons, dan membangun kepercayaan bersama. Dalam situasi kritis, yang paling penting adalah bukan saling mencurigai, melainkan kemampuan untuk mendengarkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan, terutama saat pesan itu disampaikan dengan cara yang paling sederhana.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik