Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Regenerasi yang Terancam: Pewarisan Wayang Kulit Betawi Berjuang di Tengah Modernisasi Jakarta

Inayah Nurfadhilah, mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila
22/12/2025 12:00
Regenerasi yang Terancam: Pewarisan Wayang Kulit Betawi Berjuang di Tengah Modernisasi Jakarta
Inayah Nurfadhilah(DOK PRIBADI)

DI tengah gedung-gedung tinggi dan hiburan serba digital, wayang kulit Betawi masih berusaha mempertahankan napasnya. Bukan perkara mudah, namun tradisi ini tetap hidup berkat pewarisan yang dijaga ketat oleh keluarga dalang Betawi. Salah satunya adalah Bapak Sukarlana, maestro sekaligus koordinator budaya Wayang Kulit Betawi se-Jakarta yang menjadi penerus generasi keempat dari garis keluarga dalang.

Pewarisan ini bermula dari kakeknya, Dalang Blentet, lalu turun ke Dalang Nein, kemudian ke ayahnya, hingga akhirnya kini berada di tangan Sukarlana. Tradisi tersebut kini mulai diwariskan kepada putranya, Dalang Pasya, yang masih duduk di bangku SMA. “Dari kecil saya sudah ikut orang tua pentas. Wayang ini seperti rumah buat saya,” ujar Sukarlana.

Bahasa Ceplas-Ceplos yang Jadi Identitas

Wayang kulit Betawi dikenal memiliki karakter berbeda dari wayang daerah lain. Dibawakan dengan bahasa Betawi yang ceplas-ceplos dan lugas, ia menggambarkan kultur masyarakat Jakarta yang apa adanya. “Kalau di Sunda bahasanya halus, wayang Betawi itu keras tapi jujur. Penonton jadi merasa dekat,” kata Sukarlana.

Karakter bahasa itulah yang membuat wayang kulit Betawi tak kehilangan sentuhan autentiknya, bahkan ketika disisipkan kritik sosial, pesan pemerintah, hingga humor khas Betawi. Untuk mendekatkan pertunjukan ke generasi muda, dalang kerap memasukkan lagu dangdut atau pop dalam beberapa adegan.

Masih Manggung, tapi tak Seramai Dulu

Meski jumlah penonton tidak lagi sebesar era 80-an dan 90-an, wayang kulit Betawi masih rutin tampil, terutama di Kota Tua Jakarta. Pementasan ini menjadi ruang penting bagi para dalang untuk tetap menghidupkan pertunjukan yang jumlah pelakunya semakin terbatas. Namun, tantangannya tidak sedikit. Tidak adanya sekolah khusus dalang Betawi, minimnya dukungan pemerintah, hingga rendahnya minat generasi muda membuat regenerasi berjalan lambat. “Anak muda sekarang bilang wayang itu kuno. Padahal kalau mereka lihat langsung, isinya lucu, ada lagunya, dan ceritanya relevan,” jelas Sukarlana.

Modernisasi: Ancaman atau Peluang?

Di satu sisi, modernisasi menjadi penyebab merosotnya minat penonton. Kehadiran hiburan cepat seperti Tiktok, game online, hingga konser musik membuat panggung tradisi seperti wayang semakin tersisih. Namun di sisi lain, digitalisasi membuka peluang baru.

Youtube, Instagram, dan platform live streaming bisa menjadi ruang baru bagi wayang kulit Betawi memperkenalkan karakter dan ceritanya kepada audiens yang lebih luas. “Kalau mau bertahan, wayang harus masuk sekolah dan masuk digital. Tidak ada pilihan lain,” tegas Sukarlana.

Identitas Betawi yang Perlu Diperjuangkan

Sebagai warisan budaya yang lahir dari masyarakat Betawi, wayang kulit betawi kini menjadi simbol identitas yang mulai kehilangan rumahnya. Meski demikian, pertunjukan ini masih memiliki ruang penting dalam acara-acara budaya, festival, hingga kegiatan resmi pemerintah.

Bagi Sukarlana, wayang bukan hanya pekerjaan, melainkan tanggung jawab budaya. Ia berharap generasi muda tidak hanya menonton, tetapi juga belajar mengenali sejarah seni ini. “Tak kenal maka tak sayang. Kalau generasi muda nggak kenal wayang kulit Betawi, siapa nanti yang bakal nerusin?” ujarnya.

Harapan yang Tetap Menyala

Di tengah gempuran modernisasi, wayang kulit Betawi belum padam. Selama masih ada dalang seperti Sukarlana yang menjaga tradisi, serta dukungan masyarakat dan pemerintah, seni ini masih punya peluang besar bertahan.

Tantangannya adalah bagaimana membuat warisan budaya ini tidak hanya menjadi nostalgia, tetapi juga bagian dari kehidupan budaya Jakarta hari ini. Wayang kulit Betawi mungkin tidak sesering dulu tampil, tetapi setiap kali tirai panggung ditutup, selalu ada harapan bahwa generasi berikutnya masih akan mendengar suara gamelan, tawa penonton, dan cerita yang diwariskan sejak puluhan tahun silam.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya