Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi nasional pada Maret 2026 mencapai 0,41% secara bulanan (month-to-month/m-to-m). Angka ini ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,50 pada Februari 2026 menjadi 110,95 pada Maret 2026.
Meskipun terjadi kenaikan, angka inflasi bulanan ini tercatat lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 1,65%. Adapun inflasi tahun kalender hingga Maret 2026 berada di level 0,94%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor utama inflasi bulan ini.
"Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 1,07% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,32%," ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4).
Sejumlah komoditas pangan yang dominan mendorong inflasi antara lain ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, serta daging sapi.
Dilihat dari komponennya, inflasi Maret 2026 didominasi oleh komponen harga bergejolak (volatile food) dengan andil sebesar 0,27%. Komoditas utama dalam komponen ini meliputi daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, dan daging sapi.
Sementara itu, komponen inti memberikan andil inflasi sebesar 0,08% yang dipicu oleh kenaikan harga minyak goreng dan nasi dengan lauk. Komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) menyumbang andil 0,06% didorong oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan antarkota, serta sigaret kretek mesin (SKM).
Di sisi lain, terdapat komoditas yang menjadi penahan laju inflasi atau memberikan andil deflasi, yakni tarif angkutan udara dan emas perhiasan yang masing-masing tercatat sebesar 0,03%.
BPS juga menyoroti pola inflasi pada kelompok transportasi di tengah momentum Ramadan dan Lebaran. Berdasarkan data historis lima tahun terakhir, tren inflasi selalu terjadi pada periode ini, kecuali pada tahun 2025.
"Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah bensin dan tarif angkutan antarkota dengan andil inflasi terhadap umum masing-masing 0,04% dan 0,03%," jelas Ateng.
Menariknya, tarif angkutan udara justru menjadi peredam inflasi pada kelompok transportasi dengan memberikan andil deflasi terhadap angka umum sebesar 0,03%. (I-2)
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan pada Maret 2026 sebesar 3,48%. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan Maret 2025 yang hanya sebesar 1,03%.
DALAM lima tahun terakhir, harga beras di tingkat konsumen terus naik.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Februari 2026 secara tahunan (yoy) tercatat sebesar 4,76%, berbanding terbalik dengan kondisi Februari 2025 yang mengalami deflasi 0,09%.
BADAN Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai 22,16 miliar dolar AS atau tumbuh 3,39 persen dibandingkan Januari 2025
BPS beberkan data perdagangan RI di jalur Selat Hormuz di tengah konflik Iran-Israel. Intip nilai ekspor-impor miliaran dolar yang terancam jika jalur ini lumpuh.
BERDASARKAN rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) DIY) peda Agustus 2025 secara bulanan mengalami defiasi sebesar 0,24% (mtm), lebih rendah dibandingkan Juli 2025.
BADAN Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa pada Agustus 2025 terjadi deflasi sebesar 0,08% atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK).
INDEKS Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2025 diperkirakan akan kembali mengalami deflasi, melanjutkan tren di bulan sebelumnya. Deflasi itu terjadi didorong oleh penurunan harga pangan.
INDEKS Harga Konsumen (IHK) Kota Tegal, Jawa Tengah, di awal Januari 2025, deflasi sebesar 0,49% (mtm) atau lebih rendah ketimbang bulan sebelumnya yang tercatat inflasi 0,48% (mtm).
Inflasi pada Januari 2025 yang terjaga rendah merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan pemerintah baik pusat maupun daerah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved