Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Tren Belanja Ramadan 2026: Puncak Transaksi di Jam Sahur & Tips Kelola THR

Putri Rosmalia Octaviyani
07/3/2026 22:19
Tren Belanja Ramadan 2026: Puncak Transaksi di Jam Sahur & Tips Kelola THR
Ilustrasi, seorang wanita berbelanja online menjelang Lebaran 2026.(Dok. Freepik)

POLA konsumsi masyarakat Indonesia mengalami pergeseran signifikan selama Ramadan dan menjelang Lebaran 2026. Data terbaru menunjukkan bahwa aktivitas belanja online kini tidak lagi berpusat pada jam kerja, melainkan berpindah ke waktu-waktu ibadah, khususnya saat sahur dan berbuka puasa. Pola belanja masyarakat tersebut juga meningkat seiring dengan telah cairnya tunjangan hari raya (THR).

Spike Belanja Ramadan: Jam 3 Pagi dan 7 Malam

Head of Business Growth & Operations Lazada Indonesia, Amelia Tediarjo, mengungkapkan adanya perubahan drastis dalam perilaku konsumen dibandingkan hari biasa. Jika pada hari normal masyarakat aktif berbelanja saat mulai beraktivitas di pagi hari atau setibanya di kantor, di bulan suci ini polanya berubah total.

“Kalau sekarang itu, memang spike-nya ini berbeda, karena kita melihat bahwa aktifnya ada di jam 3 pagi (sahur), lalu nanti ada jam 7 malam (setelah berbuka),” ujar Amelia dalam acara Lazada 3.3 Ramadan Mega Sale di Jakarta.

Menurut Amelia, antusiasme belanja sebenarnya sudah meningkat bahkan sebelum Ramadan dimulai. Produk yang menjadi incaran awal meliputi kebutuhan pokok memasak, peralatan dapur, hingga barang elektronik. Namun, saat memasuki bulan puasa, preferensi konsumen bergeser ke produk fashion dan kecantikan untuk menunjang penampilan saat Lebaran.

Tips Mengelola THR agar tidak sekadar Menumpang Lewat

Tingginya aktivitas belanja di jam-jam krusial tersebut tentu menjadi tantangan bagi kesehatan finansial. Edukator keuangan, Aliyah Nastasya, mengingatkan bahwa uang Tunjangan Hari Raya (THR) yang setara satu bulan gaji seringkali habis tanpa bekas karena kurangnya perencanaan.

“Kita kadang setelah terima, setiap Lebaran habis saja. Kenapa? Karena kita tidak ada niat untuk mengalokasikannya untuk hal yang penting,” kata Aliyah.

Rumus Alokasi THR yang Ideal

Untuk menyiasati hal tersebut, Aliyah membagikan formula alokasi dana THR agar lebih bermanfaat dan terukur:

  • 20 Persen: Dialokasikan untuk kewajiban seperti zakat fitrah, infaq, serta melunasi utang konsumtif.
  • 20 Persen: Kebutuhan hari raya, mulai dari hidangan Lebaran, baju baru, hingga anggaran hampers/hantaran.
  • 30 Persen: Dana mudik, termasuk tiket transportasi, bensin, dan akomodasi selama di kampung halaman.
  • 30 Persen: Tabungan dan investasi jangka panjang untuk mengamankan masa depan finansial.

Tantangan Budaya dan Pentingnya Batasan

Aliyah juga menyoroti fenomena sosial di Indonesia yang sering menjadi kendala dalam mengerem pengeluaran saat hari raya. Masalah boundaries atau batasan dalam kekeluargaan seringkali membuat seseorang merasa tidak enak hati jika tidak menuruti permintaan materi dari keluarga besar.

“Kalau tidak dituruti dibilang tidak berbakti atau pelit. Padahal jika kita saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing, uang itu adalah hak dari pemilik yang menghasilkannya,” tegasnya.

Dengan merinci pendanaan menjadi kategori jangka pendek, menengah, dan panjang, diharapkan masyarakat dapat merayakan Idul Fitri dengan tenang, serta bisa menggunakan THR tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan di masa mendatang.

(Ant/H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya