Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Harga Minyak Tembus 82 Dolar AS per Barel, Airlangga: Konflik Iran Ganggu Suplai Global

Naufal Zuhdi
02/3/2026 14:18
Harga Minyak Tembus 82 Dolar AS per Barel, Airlangga: Konflik Iran Ganggu Suplai Global
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto(Insi Nantika/MI.)

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai lonjakan harga minyak mentah hingga 82 dolar AS per barel tidak lepas dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia.

Menurut Airlangga, jika Iran terlibat dalam konflik terbuka, maka yang pertama terganggu adalah suplai minyak global. Jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz berisiko terdampak, belum lagi ketegangan di kawasan Laut Merah.

“Kalau Iran, yang terganggu pasti suplai minyak. Karena Selat Hormuz bisa terdampak, belum lagi Red Sea. Jadi kita lihat seberapa jauh pertempuran ini akan berlangsung,” ujarnya di Jakarta, Senin (2/3).

Pemerintah, lanjutnya, telah menyiapkan langkah antisipasi dengan melakukan diversifikasi sumber pasokan minyak dari luar kawasan Timur Tengah. Ia menyebut Pertamina telah menjalin nota kesepahaman dengan sejumlah perusahaan energi Amerika Serikat, di antaranya Chevron dan ExxonMobil, guna memastikan alternatif suplai tetap tersedia. Selain itu, pemerintah juga terus memonitor berbagai opsi impor dari negara lain, termasuk Rusia, dengan mempertimbangkan ketersediaan dan aspek kelayakan.

Airlangga menegaskan dampak geopolitik tersebut tidak hanya memengaruhi sektor energi, tetapi juga transportasi logistik dan pariwisata. Gangguan jalur pelayaran dan distribusi barang berpotensi meningkatkan biaya logistik global. Di sisi lain, ketidakpastian keamanan kawasan dapat menekan pergerakan wisatawan internasional.

Terkait pengaruhnya terhadap ekspor Indonesia, ia menyatakan semuanya sangat bergantung pada durasi dan skala konflik.

“Kita monitor apakah perang ini berlangsung lama atau singkat,” katanya, merujuk pada potensi dampak ke negara-negara mitra dagang di kawasan seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain.

Ia juga tidak menutup kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jika harga minyak dunia terus meningkat, sebagaimana terjadi saat konflik Rusia-Ukraina. Namun demikian, ia menambahkan bahwa suplai dari Amerika Serikat diperkirakan meningkat dan OPEC juga menambah kapasitas produksi sehingga dapat meredam tekanan harga. Untuk saat ini, pemerintah masih mencermati perkembangan situasi global sebelum mengambil langkah kebijakan lebih lanjut. (H-4)
    


 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya