Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Modal Asing Masuk US$1,6 Miliar, BI: Nilai Tukar Rupiah masih Undervalued

Media Indonesia
19/2/2026 19:34
Modal Asing Masuk US$1,6 Miliar, BI: Nilai Tukar Rupiah masih Undervalued
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (15/1/2026).(Antara/Muhammad Adimaja)

BANK Indonesia (BI) mencatat kinerja positif pada aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik. Hingga 13 Februari 2026, investasi portofolio asing mencatat net inflows sebesar US$1,6 miliar yang berperan strategis dalam memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa daya tarik instrumen keuangan dalam negeri masih sangat kuat, terutama pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).

“Berdasarkan data settlement di tanggal 18 Februari ini, inflow di SRBI mencapai Rp31 triliun dan di SBN mencapai sekitar Rp530 miliar. Secara keseluruhan, sejak awal tahun (year to date) sudah mencapai US$1,6 miliar. Ini sangat membantu stabilitas rupiah,” kata Destry dalam konferensi pers daring, Kamis (19/2/2026).

Rupiah Masih Undervalued Secara Fundamen

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menilai posisi nilai tukar rupiah saat ini belum mencerminkan kondisi fundamen ekonomi Indonesia yang sebenarnya. Perry menyebut rupiah masih berstatus undervalued.

“Faktor fundamen seperti inflasi yang terkendali di sasaran 2,5 plus minus 1 persen, pertumbuhan ekonomi, serta imbal hasil investasi menunjukkan bahwa Rupiah semestinya lebih stabil dan cenderung menguat,” jelas Perry.

Ia menambahkan bahwa tekanan yang terjadi pada mata uang Garuda saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor teknikal dan premi risiko global yang memicu volatilitas jangka pendek di pasar keuangan dunia.

Strategi BI Menjaga Stabilitas Rupiah:

  • Intervensi Pasar: Melakukan aksi di pasar Non-Delivery Forward (NDF) luar negeri, transaksi spot, dan DNDF dalam negeri.
  • Daya Tarik Instrumen: Mengoptimalkan transaksi SRBI dan SBN untuk menarik portofolio asing.
  • Likuiditas: Memastikan kecukupan likuiditas domestik dengan pertumbuhan uang primer yang terjaga di level double digit.

Perluasan LCT dengan Tiongkok

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang mengurangi ketergantungan pada dolar AS (dedolarisasi), BI terus mendorong penggunaan mata uang lokal melalui Local Currency Transaction (LCT). Fokus utama saat ini adalah memperdalam pasar valas rupiah-renminbi (RMB) untuk mendukung perdagangan dengan Tiongkok.

Data BI menunjukkan transaksi LCT dengan Tiongkok terus tumbuh pesat, dengan nilai mencapai 2,7 miliar dolar AS pada Desember 2025. BI berkomitmen untuk terus menambah suplai mata uang CNY dan CNH di pasar valas domestik guna mempermudah pelaku usaha dalam bertransaksi tanpa melalui konversi dolar AS.

Langkah-langkah proaktif ini diharapkan dapat membentengi ekonomi nasional dari rambatan ketidakpastian global sekaligus mendorong penguatan nilai tukar rupiah ke level fundamentalnya di sepanjang tahun 2026.

People Also Ask (FAQ)

Apa itu SRBI?
SRBI atau Sekuritas Rupiah Bank Indonesia adalah instrumen operasi moneter yang diterbitkan BI untuk menarik modal asing dan mengelola likuiditas di pasar uang.

Mengapa rupiah disebut undervalued?
Istilah undervalued berarti nilai tukar saat ini lebih rendah daripada nilai yang seharusnya berdasarkan indikator ekonomi seperti inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Apa manfaat transaksi LCT bagi pengusaha?
LCT memungkinkan pengusaha bertransaksi menggunakan mata uang lokal (seperti Rupiah ke Renminbi), sehingga mengurangi biaya konversi valas dan risiko fluktuasi dolar AS. (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya