Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
SOROTAN lembaga pemeringkat dan indeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Moody’s Ratings terhadap Indonesia dinilai memiliki dampak yang cukup serius. Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mencontohkan, penundaan review MSCI dapat membuat investor menjauhi Bursa Efek Indonesia (BEI) karena persepsi tentang pasar yang tidak transparan dan manipulative.
Sementara penurunan outlook oleh Moody’s menyebabkan persepsi tentang kualitas aset keuangan Indonesia makin buruk atau makin berisiko.
“Rating kita yang outlooknya turun tentu saja menambah beban karena dengan rating yang seperti sekarang saja, bunga obligasi pemerintah kita itu sangat tinggi. Apalagi nanti ketika rating itu diturunkan,” kata Wijayanto dalam sebuah diskusi daring, Rabu (18/2).
Ketika outlook rating Indonesia diturunkan, lanjutnya, terjadi fenomena sovereign ceiling ketika seluruh aset keuangan seperti obligasi korporasi, saham, dan sebagainya, nilainya turun.
“Tidak mungkin suatu korporasi mempunyai rating lebih tinggi daripada negara. Dampaknya, karena risikonya dianggap meningkat, return yang harus diberikan oleh financial asset itu kepada investor harus lebih tinggi,” papar Wijayanto.
Dampaknya, kata dia, cost of fund menjadi lebih tinggi, sehingga berbisnis di Indonesia menjadi makin mahal dan makin sulit. “Jadi penurunan rating ini ibarat air laut yang surut sehingga perahu-perahu itu sulit berlayar,” ujar Wijayanto.
“Kalau pemerintah ingin membantu sektor swasta untuk bisa berbisnis dengan baik, sovereign-nya dinaikkan. Ini ibarat menggelontorkan air di laut yang kering, mendatangkan air pasang, sehingga perahu-perahu, perusahaan-perusahaan bisa berlayar,” tambahnya.
Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini menambahkan, pasar modal dinilai paling sensitif di gerbang depan ekonomi. “Dia seperti kerang hijau di Ancol itu. Kalau ada polusi, kerang hijau dulu yang menyerap polusi itu. Pertanda bahwa lingkungan itu sakit,” ujarnya.
“Sekarang peristiwa pasar modal kaitannya dengan Morgan Stanley ini, dalam pandangan saya pasar modal kita ini sakit,” imbuhnya.
Menurutnya, problem yang dihadapi merupakan masalah tata kelola. Kemudian pendalaman pasar, penguatan investor domestik, termasuk peranan dana pensiun, asuransi, dan lain-lain.
“Pasar modal itu sensitif pada stabilitas makro. Kalau APBN dicabik-cabik, itu (investor) ‘Wah ini enggak benar’. Kalau sudah enggak benar mereka lari. Itulah sifat pasar modal yang sangat sensitive,” kata Didik.
Pada kesempatan yang sama, CEO Investortrust Primus Dorimulu menyebut sorotan MSCI dan Moody’s adalah momentum kebangkitan pasar modal Indonesia. “Karena kita dipaksa oleh MSCI, oleh lembaga-lembaga rating dunia agar benar-benar memperhatikan governance,” katanya.
“Mudah-mudahan OJK lebih bagus memperhatikan kualitas regulasinya dan juga menindak mereka yang goreng-goreng saham, saya pikir pasti jera,” pungkasnya. (H-3)
Mengapa KSEI buka data pemilik saham 1%? Simak hubungan kebijakan ini dengan ancaman penurunan status Indonesia oleh MSCI ke Frontier Market.
KSEI dan BEI resmi buka data pemilik saham di atas 1% mulai 3 Maret 2026. Cek jadwal, cara akses, dan aturan baru free float 15% di sini.
KSEI dan BEI resmi buka data pemilik saham di atas 1% mulai 3 Maret 2026. Cek jadwal, cara akses, dan aturan baru OJK di sini.
Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana menyatakan optimismenya terkait proposal yang diajukan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kepada penyedia indeks global MSCI.
BEI kebut proposal ke MSCI & FTSE. Aturan free float 15% masuk tahap final OJK, sementara daftar konsentrasi pemegang saham segera dirilis.
Langkah ini merupakan bagian dari agenda reformasi luas guna memastikan ekosistem pasar yang lebih kredibel, adaptif, serta kompetitif di tingkat internasional.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved