Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
SOROTAN lembaga pemeringkat dan indeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Moody’s Ratings terhadap Indonesia dinilai memiliki dampak yang cukup serius. Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mencontohkan, penundaan review MSCI dapat membuat investor menjauhi Bursa Efek Indonesia (BEI) karena persepsi tentang pasar yang tidak transparan dan manipulative.
Sementara penurunan outlook oleh Moody’s menyebabkan persepsi tentang kualitas aset keuangan Indonesia makin buruk atau makin berisiko.
“Rating kita yang outlooknya turun tentu saja menambah beban karena dengan rating yang seperti sekarang saja, bunga obligasi pemerintah kita itu sangat tinggi. Apalagi nanti ketika rating itu diturunkan,” kata Wijayanto dalam sebuah diskusi daring, Rabu (18/2).
Ketika outlook rating Indonesia diturunkan, lanjutnya, terjadi fenomena sovereign ceiling ketika seluruh aset keuangan seperti obligasi korporasi, saham, dan sebagainya, nilainya turun.
“Tidak mungkin suatu korporasi mempunyai rating lebih tinggi daripada negara. Dampaknya, karena risikonya dianggap meningkat, return yang harus diberikan oleh financial asset itu kepada investor harus lebih tinggi,” papar Wijayanto.
Dampaknya, kata dia, cost of fund menjadi lebih tinggi, sehingga berbisnis di Indonesia menjadi makin mahal dan makin sulit. “Jadi penurunan rating ini ibarat air laut yang surut sehingga perahu-perahu itu sulit berlayar,” ujar Wijayanto.
“Kalau pemerintah ingin membantu sektor swasta untuk bisa berbisnis dengan baik, sovereign-nya dinaikkan. Ini ibarat menggelontorkan air di laut yang kering, mendatangkan air pasang, sehingga perahu-perahu, perusahaan-perusahaan bisa berlayar,” tambahnya.
Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini menambahkan, pasar modal dinilai paling sensitif di gerbang depan ekonomi. “Dia seperti kerang hijau di Ancol itu. Kalau ada polusi, kerang hijau dulu yang menyerap polusi itu. Pertanda bahwa lingkungan itu sakit,” ujarnya.
“Sekarang peristiwa pasar modal kaitannya dengan Morgan Stanley ini, dalam pandangan saya pasar modal kita ini sakit,” imbuhnya.
Menurutnya, problem yang dihadapi merupakan masalah tata kelola. Kemudian pendalaman pasar, penguatan investor domestik, termasuk peranan dana pensiun, asuransi, dan lain-lain.
“Pasar modal itu sensitif pada stabilitas makro. Kalau APBN dicabik-cabik, itu (investor) ‘Wah ini enggak benar’. Kalau sudah enggak benar mereka lari. Itulah sifat pasar modal yang sangat sensitive,” kata Didik.
Pada kesempatan yang sama, CEO Investortrust Primus Dorimulu menyebut sorotan MSCI dan Moody’s adalah momentum kebangkitan pasar modal Indonesia. “Karena kita dipaksa oleh MSCI, oleh lembaga-lembaga rating dunia agar benar-benar memperhatikan governance,” katanya.
“Mudah-mudahan OJK lebih bagus memperhatikan kualitas regulasinya dan juga menindak mereka yang goreng-goreng saham, saya pikir pasti jera,” pungkasnya. (H-3)
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengembalikan kepercayaan investor.
PEJABAT Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengungkapkan, pihaknya akan meningkatkan transparansi pasar modal.
Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, mengatakan BEI dijadwalkan kembali melakukan pertemuan lanjutan dengan MSCI pada 11 Februari 2026.
BEI angkat bicara terkait sejumlah perkara dugaan manipulasi dan kejahatan pasar modal atau dikenal praktik saham gorengan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) memanggil Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) untuk membahas rencana peningkatan porsi saham beredar (free float) 15%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved