Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

OJK: Pasar Modal Indonesia masih Prospektif meski Banyak Tekanan

Ihfa Firdausya
09/2/2026 11:33
OJK: Pasar Modal Indonesia masih Prospektif meski Banyak Tekanan
Ilustrasi(Antara)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini pasar modal Indonesia secara jangka menengah-panjang masih sangat prospektif dan menarik bagi investor. Anggota Dewan Komisioner OJK pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyebut hal itu didukung oleh kinerja perekonomian domestik yang terjaga dan basis investor yang terus bertumbuh.

Hal itu disampaikan di tengah sentimen pasar yang masih tertekan oleh sejumlah isu, mulai dari penyesuaian bobot MSCI, penurunan rekomendasi Bursa oleh Goldman Sachs, UBS, dan Nomura, hingga langkah Moody’s yang menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.

"Kita harapkan ke depan kondisi fundamental para perusahaan tercatat emiten tetap positif dari waktu ke waktu," kata Hasan dalam Konferensi Pers Perkembangan Terkini Pasar Modal Indonesia di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/2).

Pada pekan pertama Februari 2026, pasar saham domestik masih bergerak dinamis. Pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup di level 7.935,26 atau turun sebesar 4,73% secara month-to-date dan turun 8,23% secara year-to-date. Namun Hasan menyebut nilai perdagangan di pasar saham tetap tinggi dengan angka rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai angka Rp32,88 triliun secara year-to-date.

Sementara investor asing di pasar saham tercatat membukukkan net sales sebesar Rp1,14 triliun month-to-date dan juga Rp11,02 triliun secara year-to-date.

Menurutnya, yang menarik, industri pengelolaan investasi menunjukkan tren positif pada pekan laporan di minggu pertama Februari 2026. Tercatat total asset under management (AUM) mencapai Rp1.089,64 triliun. Adapun nilai aktifa bersih (NAB) reksadana per 5 Februari 2026 lalu mencapai angka Rp722,21 triliun atau tumbuh positif 2,98% secara month-to-date dan tumbuh 6,94% secara year-to-date.

"Perkembangan yang baik di industri pengelolaan investasi ini menunjukkan setidaknya bahwa investor reksadana tetap aktif melakukan subscription di tengah dinamika pergerakan pasar keuangan di dalam negeri," kata Hasan.

Ke depan, lanjutnya, OJK bersama self-regulatory organization (SRO) yakni Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), serta seluruh pelaku usaha industri di pasar modal akan terus memantau pergerakan pasar ini. Pihaknya juga akan terus merespons secara cepat mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan.

"Sekali lagi kami mengimbau terutama kepada publik dan khususnya investor kita untuk selalu bersikap tenang, rasional, dan tidak reaktif dalam mengambil setiap keputusan investasinya," tutupnya. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya