Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Percepatan Pengembangan Industri Baterai harus Lindungi Kepentingan Domestik

Ihfa Firdausya
03/2/2026 10:30
Percepatan Pengembangan Industri Baterai harus Lindungi Kepentingan Domestik
Ilustrasi(Antara)

Langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk mempercepat pengembangan industri baterai kendaraan listrik dinilai sebagai sinyal positif bagi arah kebijakan energi nasional. Namun, Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Firman Soebagyo mengingatkan bahwa percepatan harus diikat dengan kebijakan negara yang melindungi kepentingan industri dan konsumen dalam negeri.

Menurutnya, industri baterai merupakan jantung dari ekosistem kendaraan listrik. Tanpa kontrol negara yang kuat terhadap harga, pasokan, dan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN), Indonesia berisiko hanya menjadi penyedia bahan mentah bagi industri global, bukan pemain utama dalam rantai nilai kendaraan listrik.

“Selain pemerintah membangun pabrik tapi tidak mengatur harga dan keberpihakan pada pasar domestik, maka rakyat tetap akan membeli mobil listrik mahal dengan baterai yang dikendalikan asing,” kata Firman dalam keterangan yang dikutip, Selasa (3/2).

Ia menekankan bahwa percepatan industri baterai harus disertai kebijakan wajib pemanfaatan produksi dalam negeri, insentif fiskal yang selektif, serta skema harga baterai yang dikendalikan negara. Tujuannya agar kendaraan listrik benar-benar terjangkau masyarakat Tanpa kebijakan harga dan pasokan yang tegas, industri baterai bisa menjadi ladang spekulasi dan kartel baru di sektor energi bersih.

“Jangan sampai transisi energi, hanya dinikmati korporasi besar dan investor luar negeri. Negara harus hadir mengamankan kepentingan rakyat,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ketersediaan baterai dan suku cadang harus dijamin melalui regulasi nasional, bukan diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar.

“Kalau pemerintah serius ingin mendorong mobil listrik, maka jaminan pasokan baterai, layanan purna jual, dan harga yang adil harus ditetapkan lewat kebijakan. Bukan sekadar berharap industri berjalan sendiri,” tegas politisi Fraksi Partai Golkar ini.

Sementara itu, pemerintah tengah mempercepat program hilirisasi, di antaranya pengembangan pengolahan nikel untuk industri baterai listrik. Pada Jumat (30/1) lalu, terjadi penandatanganan kerangka kerja sama (Framework Agreement) oleh konsorsium ANTAM-IBI-HYD sebagai kemitraan resmi dalam merealisasikan proyek ekosistem baterai listrik terintegrasi.

Konsorsium itu terdiri dari PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBI), dan HYD Investment Limited. HYD Investment Limited adalah sebuah konsorsium dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. dan EVE Energy Co., Ltd., serta PT Daaz Bara Lestari Tbk (DBL).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyaksikan penandatanganan itu menegaskan, kepemilikan mayoritas akan dipegang ANTAM sebagai BUMN. Dengan rencana kapasitas produksi baterai listrik mencapai 20 Giga Watt hour (GWh), ekosistem yang dikembangkan diproyeksikan menjadi salah satu yang terbesar di Asia. 

Estimasi nilai investasi proyek ini mencapai US$6 miliar, dengan potensi penciptaan sekitar 10 ribu lapangan kerja baru. Rencana tersebut akan dirinci lebih lanjut melalui studi kelayakan yang masih disusun. Proyek ini tidak hanya mendukung pengembangan kendaraan listrik, tetapi juga mendukung pembangkit listrik hijau, termasuk kebutuhan baterai untuk program PLTS 100 GW.

"Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil, tapi ini juga di-desain untuk baterai panas surya," kata Bahlil.

Bahlil juga menekankan pentingnya keterlibatan perusahaan daerah dalam membangun ekosistem baterai, yang direncanakan melibatkan pihak-pihak setempat, seperti mitra di Jawa Barat dan pengembangan tambang, smelter, serta pabrik hilirisasi yang akan dibangun di Maluku Utara, tepatnya di Halmahera Timur.

"Jadi kita, Insya Allah ke depan, akan menjadi salah satu pemain terbesar dunia, terkait dengan bahan baku dan baterai mobil untuk menuju kepada energi baru terbarukan," tutup Bahlil. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya