Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

IHSG Hari Ini Diprediksi Fluktuatif, Investor Cermati Arah Kebijakan Domestik

Andhika Prasetyo
02/2/2026 07:31
IHSG Hari Ini Diprediksi Fluktuatif, Investor Cermati Arah Kebijakan Domestik
Ilustrasi(Antara)

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (2/2). Sentimen utama tentunya berasal dari faktor domestik.

Menurut Hendra, pelaku pasar saat ini mencermati implementasi kebijakan otoritas, khususnya terkait delapan rencana aksi percepatan reformasi pasar modal Indonesia. Dalam jangka sangat pendek, IHSG hari ini diperkirakan bergerak konsolidatif dengan volatilitas yang masih cukup tinggi.

“Dalam jangka sangat pendek, IHSG berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidatif, seiring investor masih mencermati arah kebijakan otoritas pasar serta respons investor global terhadap berbagai isu domestik dan eksternal yang berkembang,” ujar Hendra.

Untuk sepekan ke depan, ia memperkirakan pergerakan IHSG berada pada rentang yang relatif lebar, yakni di kisaran 8.171 hingga 8.480. Volatilitas tersebut diperkirakan masih akan berlanjut hingga Februari 2026, seiring proses pemulihan kepercayaan pasar yang belum sepenuhnya stabil.

“Setelah mengalami koreksi tajam, pasar saham Indonesia kini memasuki fase krusial, di mana faktor psikologis investor memegang peranan yang sama pentingnya dengan fundamental ekonomi,” ujarnya.

Hendra menilai tekanan pasar masih dapat muncul akibat sikap hati-hati investor pascagejolak. Namun, peluang terjadinya technical rebound tetap terbuka, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang telah terkoreksi cukup dalam. Selama tidak muncul sentimen negatif baru yang bersifat ekstrem, ia menilai pasar akan berupaya membentuk level keseimbangan baru.

“Kondisi ini mencerminkan pasar yang belum sepenuhnya pulih, tetapi juga tidak lagi berada dalam fase panic selling seperti pada awal koreksi,” katanya.

Ia menambahkan, dinamika yang berkembang dalam beberapa hari terakhir, mulai isu kebijakan otoritas pasar modal, perkembangan di Bursa Efek Indonesia, hingga pergerakan harga emas global sebagai aset lindung nilai, turut memperkuat volatilitas jangka pendek. Ketidakpastian global juga masih membayangi arah pasar. Meski demikian, potensi terjadinya trading halt kembali dinilai relatif terbatas selama stabilitas sistem keuangan terjaga dan komunikasi kebijakan dari otoritas berlangsung jelas serta konsisten.

“Jika langkah otoritas dipersepsikan sebagai upaya memperbaiki tata kelola dan memperkuat kredibilitas pasar, respons investor justru berpeluang membaik, meskipun penguatan bersifat selektif dan bertahap,” jelas Hendra..

Dalam kondisi tersebut, Hendra menekankan pentingnya strategi defensif dan selektif. Investor jangka pendek disarankan disiplin mengelola risiko, sementara investor jangka menengah dan panjang dapat mulai melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental kuat, likuid, dan berperan strategis dalam pembentukan indeks.

“Pendekatan ini penting agar investor tidak terjebak gejolak jangka pendek, namun tetap memiliki eksposur saat pasar mulai menunjukkan tanda stabilisasi,” kata Hendra.

Sebagai catatan, pada penutupan perdagangan Jumat (30/1), IHSG ditutup menguat 97,41 poin atau 1,18 persen ke level 8.329,61. Indeks LQ45 turut naik 20,52 poin atau 2,52 persen ke posisi 833,53, dengan nilai transaksi mencapai Rp41,33 triliun. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya