Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Harga Emas Rontok di Akhir Januari 2025! Ini 5 Penyebab Utamanya

 Gana Buana
31/1/2026 20:17
Harga Emas Rontok di Akhir Januari 2025! Ini 5 Penyebab Utamanya
Penyebab harga emas turun.(Dok. MI/AI)

PASAR komoditas logam mulia dikejutkan oleh koreksi harga yang sangat signifikan pada akhir Januari 2026. Setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High), harga emas hari ini dan harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terpantau anjlok parah hingga Rp260.000 per gram dalam satu hari perdagangan.

Per Sabtu (31/1) harga emas Antam terjun bebas ke level Rp2.860.000 per gram dari posisi sebelumnya yang berada di atas Rp3,1 juta. Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan respons langsung terhadap gejolak pasar global. Sebagai Editor Ekonomi, kami merangkum data dan analisis mendalam mengenai faktor fundamental yang menjadi "biang kerok" penurunan ini.

Tabel Perubahan Harga Emas Antam (31 Januari 2026)

Data perbandingan harga dasar emas batangan Antam sebelum dan sesudah koreksi tajam.

Berat Harga Kemarin (30 Jan) Harga Hari Ini (31 Jan) Selisih (Drop)
1 Gram Rp3.120.000 Rp2.860.000 ▼ Rp260.000
5 Gram Rp15.375.000 Rp14.075.000 ▼ Rp1.300.000
10 Gram Rp30.695.000 Rp28.095.000 ▼ Rp2.600.000
Buyback Rp2.939.000 Rp2.654.000 ▼ Rp285.000

*Harga belum termasuk pajak PPh 0,25% (dengan NPWP).

Berikut 5 penyebab utama jatuhnya harga emas hari ini yang wajib diketahui oleh para investor:

1. Efek "Kevin Warsh" dan Sentimen The Fed

Penyebab paling dominan dari penurunan harga emas global yang menyeret harga domestik adalah sentimen politik-ekonomi dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump baru saja menominasikan Kevin Warsh sebagai kandidat kuat Ketua Federal Reserve (The Fed) berikutnya.

Pasar merespons positif pencalonan Warsh, yang dianggap mampu menjaga independensi bank sentral sekaligus membawa stabilitas kebijakan moneter. Hal ini meredakan ketakutan investor (fear factor) yang sebelumnya membuat mereka memburu emas sebagai aset lindung nilai (safe haven). Ketika kecemasan mereda, emas cenderung ditinggalkan.

2. "King Dollar" Kembali Mengaum (Indeks DXY Menguat)

Hukum besi emas berlaku: Gold is priced in Dollars. Ketika Mata Uang Dolar AS menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan global menurun.

Data menunjukkan Indeks Dolar AS (DXY) mengalami rebound signifikan sebesar 0,7% setelah sempat menyentuh titik terendah. Penguatan Dolar ini didorong oleh optimisme pasar terhadap ekonomi AS, yang secara otomatis menekan harga komoditas berdenominasi dolar seperti emas hingga anjlok hampir 9% di pasar spot dunia.

3. Aksi Profit Taking Massal (Ambil Untung)

Secara teknikal, pasar emas sudah mengalami kondisi overbought (jenuh beli) setelah reli panjang tanpa henti di awal Januari 2026. Para investor institusi dan ritel memanfaatkan momen rekor tertinggi kemarin untuk melakukan aksi jual massal demi merealisasikan keuntungan (cashing out).

Tekanan jual yang masif dalam waktu singkat ini menyebabkan efek bola salju, di mana harga yang mulai turun memicu perintah stop-loss otomatis pada sistem trading, memperdalam koreksi harga.

4. Meredanya Tensi Geopolitik (Sementara)

Emas adalah barometer ketakutan. Sebelumnya, harga emas terdongkrak oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian kebijakan tarif dagang AS. Namun, sinyal stabilitas politik di Washington pasca-pengumuman calon Ketua The Fed memberikan angin segar bagi aset berisiko (risk-on assets) seperti saham.

Investor mulai mengalihkan dana mereka dari aset defensif (emas) kembali ke pasar ekuitas dan obligasi yang menawarkan imbal hasil (yield), membuat kilau emas meredup seketika.

5. Data Ekonomi AS yang Solid

Kekhawatiran akan resesi AS yang sempat mencuat perlahan tertutup oleh rilis data ekonomi yang masih menunjukkan ketahanan. Jika ekonomi AS kuat, The Fed memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan suku bunga atau tidak memangkasnya seagresif perkiraan pasar. Suku bunga tinggi adalah musuh alami emas (aset tanpa bunga), karena meningkatkan opportunity cost memegang logam mulia.

Analisis Rupiah & Rekomendasi

Bagi investor domestik, harga emas turun ini juga sedikit tertahan oleh pelemahan Mata Uang Rupiah terhadap Dolar AS. Jika Rupiah menguat tajam, harga emas lokal bisa turun lebih dalam lagi. Namun, dengan posisi Dolar yang sedang bullish, penurunan harga emas di Indonesia murni didorong oleh jatuhnya harga spot emas dunia.

Rekomendasi Editor: Koreksi tajam ini bisa menjadi pedang bermata dua. Bagi investor jangka panjang, penurunan Rp260.000/gram adalah diskon besar dan momentum buy on dip (beli saat harga bawah) yang langka. Namun, bagi trader jangka pendek, disarankan untuk wait and see hingga volatilitas pasar mereda dan terbentuk level support baru. (Gold SpotZ-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya