Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Analisis Pasar: 5 Faktor Utama Penggerak Harga Emas Dunia 2026

Media Indonesia
30/1/2026 12:13
Analisis Pasar: 5 Faktor Utama Penggerak Harga Emas Dunia 2026
Ilustrasi(Freepik.com)

VOLATILITAS harga emas dunia yang sempat menyentuh rekor tertinggi di Januari 2026 membuat banyak investor bertanya-tanya: sentimen apa yang sebenarnya menyetir pergerakan si Logam Kuning? Di tengah ketidakpastian ekonomi global, emas tidak bergerak sendirian.

Bagi Anda yang sedang memantau grafik XAU/USD, berikut adalah ringkasan analisis redaksi mengenai 5 faktor fundamental yang menjadi "bensin" maupun "rem" bagi harga emas dunia saat ini:

1. Kebijakan Suku Bunga The Fed (Monetary Policy)

Ini adalah "Raja" dari segala faktor. Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Ketika Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga, obligasi pemerintah AS menjadi lebih menarik karena menawarkan kupon (bunga). Akibatnya, emas akan ditinggalkan dan harganya turun. Sebaliknya, jika The Fed memangkas suku bunga di 2026 ini, emas akan kembali menjadi primadona.

2. Kekuatan Dolar AS (Indeks DXY)

Emas dunia diperdagangkan dalam Dolar AS. Terdapat korelasi negatif yang kuat:

  • Dolar Menguat: Harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain (Rupiah, Euro, Yen), sehingga permintaan turun dan harga terkoreksi.
  • Dolar Melemah: Emas menjadi lebih murah dan menarik untuk diborong, mendorong harga naik.

 

3. Tensi Geopolitik (The Fear Factor)

Di tahun 2026, faktor ini sangat dominan. Konflik regional atau ketegangan antarnegara adidaya memicu status emas sebagai aset Safe Haven (pelindung nilai). Saat sirine perang berbunyi atau ketidakstabilan politik meningkat, investor institusi akan membuang aset berisiko (saham/kripto) dan lari ke emas untuk mengamankan kekayaan mereka.

4. Data Ekonomi Amerika (Inflasi & PCE)

Setiap rilis data inflasi (CPI/PCE) atau data tenaga kerja (NFP) AS akan mengguncang pasar. Jika data ekonomi AS terlalu kuat, pasar takut The Fed akan menahan suku bunga tinggi lebih lama (Hawkish), yang berdampak buruk bagi emas. Sebaliknya, tanda-tanda resesi justru bagus untuk emas.

5. Aksi Borong Bank Sentral (De-dolarisasi)

Tren yang berlanjut sejak 2022 hingga 2026 adalah akumulasi emas fisik oleh Bank Sentral negara-negara berkembang (Tiongkok, India, Turki) untuk mengurangi ketergantungan pada Dolar AS. Pembelian masif dalam tonase besar ini menciptakan "lantai harga" yang menjaga emas tidak jatuh terlalu dalam saat dikoreksi.

Kesimpulan Redaksi: Untuk minggu ini, mata pasar tertuju penuh pada poin nomor 4 (Data Ekonomi AS). Jika data nanti malam meleset dari ekspektasi, bersiaplah melihat grafik lilin (candlestick) emas melompat tajam.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya