Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

DPR: Anjloknya IHSG jadi Cermin Goyahnya Kepercayaan Pasar

Naufal Zuhdi
29/1/2026 13:23
DPR: Anjloknya IHSG jadi Cermin Goyahnya Kepercayaan Pasar
Karyawan mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/1/2026).(Antara)

ANGGOTA Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, menegaskan bahwa anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak bisa dibaca semata-mata sebagai gejala ekonomi makro yang runtuh, melainkan sebagai sinyal melemahnya kepercayaan pasar terhadap tata kelola dan kepastian sistem ekonomi nasional.

“Pasar modal tidak pernah jatuh tanpa sebab. Tetapi ia juga tidak selalu jatuh karena ekonomi runtuh. Ketika IHSG anjlok, yang bergerak bukan hanya angka di papan perdagangan, melainkan rasa percaya,” ujar Azis dalam keterangannya, Kamis (29/1).

Menurutnya, gejolak yang dipicu oleh penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) kerap disederhanakan sebagai tekanan eksternal. Padahal, lanjutnya, pasar global sejatinya hanya membaca kondisi domestik secara objektif. “Pasar global tidak sedang memusuhi Indonesia. Ia sedang membaca kita. Masalahnya bukan pada ceritanya, melainkan pada halaman-halaman yang sulit dibaca—data yang tidak sinkron, aturan yang terasa lentur, dan kepastian yang kerap datang terlambat,” kata Azis.

Ia menegaskan penting untuk meluruskan persepsi publik bahwa kondisi ini bukan krisis ekonomi nasional. Aktivitas ekonomi domestik masih berjalan, tidak ada gangguan produksi maupun konsumsi yang bersifat sistemik. Namun karena itu, kata dia, peristiwa ini harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah. “Sebuah negara bisa tetap berjalan, tetapi pasar modalnya kehilangan kepercayaan. Dan kehilangan kepercayaan selalu lebih mahal daripada kehilangan angka pertumbuhan,” ujarnya.

Azis menjelaskan, tekanan di pasar saham dengan cepat merembet ke nilai tukar rupiah melalui mekanisme arus modal keluar.

“Pelemahan rupiah bukan karena fondasi ekonomi tiba-tiba rapuh, melainkan karena arus keluar yang emosional dan serentak. Di sinilah peran Bank Indonesia menjadi krusial untuk memastikan kegelisahan tidak berubah menjadi kepanikan berantai,” tuturnya.

Ia menilai akar persoalan sebenarnya sederhana, tetapi sering dihindari, yakni soal konsistensi sistem dan kejelasan data. Bagi pasar global, kepemilikan saham, free float, dan keterbukaan informasi bukan sekadar istilah teknis, melainkan bahasa kepercayaan. “Begitu bahasa itu tidak konsisten, pasar berhenti mendengarkan penjelasan panjang. Ia memilih pergi,” cetus Azis.

Karena itu, ia menekankan perlunya keberanian negara untuk membereskan persoalan mendasar, bukan sekadar menenangkan pasar dengan pernyataan normatif. Data pasar harus disajikan secara tunggal, sinkron, dan mudah diverifikasi. Selain itu, pengawasan harus tegas dan tidak ambigu. “OJK dan Bursa Efek Indonesia tidak cukup hanya mengelola mekanisme. Mereka harus menjaga marwah pasar. Dunia keuangan global lebih menghormati aturan yang keras tetapi konsisten,” tegasnya.

Terkait investor ritel, Azis menilai negara tidak seharusnya menjanjikan pemulihan cepat, melainkan membangun kesadaran bahwa risiko merupakan bagian inheren dari pasar. Kepanikan massal sering kali muncul bukan karena kerugian itu sendiri, tetapi karena ketidaksiapan menghadapi kenyataan bahwa pasar tidak pernah bergerak lurus ke atas.

“Anjloknya IHSG dan tekanan pada rupiah menyampaikan pesan yang sama, kepercayaan tidak bisa ditawar, ia harus dikerjakan. Bukan dengan saling menyalahkan, melainkan dengan kerja sunyi yang konsisten,” pungkas Azis. (Fal/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya