Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Industri kelapa sawit terus dipandang sebagai salah satu sektor strategis perekonomian nasional. Namun tantangan ke depan tidak lagi semata soal pertumbuhan, tetapi juga bagaimana memastikan keberlanjutan usaha yang seimbang antara manfaat ekonomi, perlindungan lingkungan, dan dampak sosial. Dengan rantai nilai yang melibatkan sekitar 16,5 juta kepala keluarga, industri sawit berada pada posisi krusial dalam menentukan arah pembangunan berkelanjutan Indonesia. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono dalam Seminar Nasional Menakar Industri Sawit dari Aspek Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan yang diselenggarakan Pusat Studi Lahan dan Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta, Kamis (22/1).
“Industri kelapa sawit di Indonesia juga berkontribusi pada devisa ekspor pada 2022 mencapai USD 39 miliar, yang menjadikan neraca perdagangan Indonesia surplus USD 56 miliar,” ujar Eddy. Namun ia menegaskan, keberlanjutan industri menjadi prasyarat utama ke depan. “Kami berharap industri ini menjadi bagian solusi ketahanan pangan dan energi, pembangunan wilayah, dan keberlanjutan lingkungan yang lebih baik,” katanya.
Dari perspektif pengelolaan sumber daya, Kepala Pusat Studi Sawit Institut Pertanian Bogor (IPB) Budi Mulyanto menekankan bahwa aspek lahan menjadi fondasi utama keberlanjutan sawit. Ia menjelaskan, sawit memiliki tingkat adaptasi tinggi pada berbagai kondisi tanah di Indonesia dan menghasilkan sekitar 160 produk turunan, namun masih menghadapi persoalan legalitas lahan.
Menurutnya, praktik sawit berkelanjutan membutuhkan kepastian hukum atas lahan yang mengedepankan prinsip kepastian, kemanfaatan, dan keadilan, disertai kebijakan afirmatif, pendetailan batas kawasan, serta penguatan hak masyarakat. Pendekatan ini dinilai penting agar pengembangan sawit tidak menimbulkan tekanan ekologis baru.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin menilai keberlanjutan industri sawit juga bergantung pada konsistensi kebijakan dari hulu hingga hilir. Indonesia, sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia dengan kontribusi sekitar 48 persen, perlu memastikan bahwa ekspansi ekonomi sawit sejalan dengan peningkatan nilai tambah dan efisiensi sumber daya.
“Ekonomi sawit didorong menuju industri berkelanjutan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa peta jalan hilirisasi seharusnya diarahkan pada pengembangan industri pangan fungsional yang berdampak pada kesehatan sekaligus memperkuat daya saing nasional.
Dari sisi lingkungan dan kehutanan, Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB University Yanto Santosa menegaskan bahwa pengembangan sawit tidak dapat disederhanakan sebagai penyebab utama deforestasi global. Berdasarkan data internasional, pembukaan lahan sawit hanya menyumbang sekitar 2,5 persen terhadap deforestasi global.
Ia menjelaskan bahwa kebun sawit mampu menjadi habitat berbagai taksa satwa liar serta memiliki karakteristik hidrologi yang relatif seimbang. “Dari segi serapan CO₂, tanaman kelapa sawit terbukti memiliki kemampuan penyerapan yang tinggi dan paling efisien dalam pemanfaatan radiasi matahari dibandingkan tanaman kehutanan lain,” katanya.
Sementara itu, Guru Besar Zulkarnain menilai dominasi sawit dalam pasokan minyak nabati dunia menjadikannya komoditas strategis sekaligus rentan terhadap tekanan regulasi global.
“Sawit telah bertransformasi dari sekadar komoditas pertanian menjadi isu strategis nasional,” tuturnya.
Menurutnya, perkebunan sawit berkelanjutan mampu menjaga kesuburan tanah, memberikan efek sebar ekonomi melalui skema inti-plasma, serta mendukung pengembangan energi baru terbarukan. Namun, ia menyoroti perlunya kejelasan kebijakan tata ruang agar keberlanjutan sawit dapat terintegrasi secara sistemik dalam perencanaan wilayah.
Sorotan utama tertuju pada skema denda sebesar Rp25 juta per hektare per tahun yang diterapkan secara retroaktif (berlaku surut).
Sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha serta adopsi teknologi adalah strategi penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Playbook ini merupakan alat pendampingan strategis bagi pelaku industri sawit untuk memperkuat praktik keberlanjutan mereka di tengah dinamika regulasi global.
ADA ancaman besar terhadap stabilitas industri sawit nasional jika pengelolaan lahan sawit sitaan tidak segera dilakukan secara profesional.
Upaya tegas pemerintah dalam memberantas mafia sawit dan menata ulang tata kelola sumber daya alam (SDA) dinilai sebagai langkah strategis dan berani.
PELAKU industri sawit terus berkonitmen memberikan prioritas besar terhadap perlindungan hak anak dan pekerja perempuan sebagai implementasi praktik sawit yang berkelanjutan.
Gapki mengambil langkah strategis dengan menggandeng Indonesian Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) dalam upaya memperkuat posisi dan citra industri sawit Indonesia di kancah global.
Di tengah permintaan pasar yang terus meningkat, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, pertumbuhan produksi kelapa sawit dalam lima tahun terakhir justru stagnan.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk mendukung upaya pemerintah mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengimbau segenap pelaku industri sawit saling berkoordinasi serta melakukan konsolidasi dengan Gapki.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved