Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
NAMA Thomas Djiwandono kini menjadi pusat perhatian dalam kancah ekonomi nasional. Sebagai sosok yang diusulkan untuk mengisi kursi strategis Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), pria yang akrab disapa Tommy ini bukan sekadar nama baru di lingkaran kekuasaan.
Ia adalah figur teknokrat muda yang memiliki perpaduan unik antara pengalaman di pasar keuangan global, manajemen korporasi, hingga kebijakan fiskal negara.
Langkah pencalonannya dipandang sebagai upaya harmonisasi antara kebijakan fiskal dan moneter di masa pemerintahan baru.
Memahami profil Thomas Djiwandono berarti melihat bagaimana latar belakang pendidikan tinggi dan pengalaman profesionalnya membentuk cara pandang ekonomi yang ia bawa ke bank sentral.
Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono lahir di Jakarta pada 7 Mei 1972. Ia tumbuh dalam keluarga yang sangat kental dengan dunia ekonomi dan politik Indonesia.
Ayahnya, Soedradjad Djiwandono, merupakan mantan Gubernur Bank Indonesia era 1993-1998. Sementara ibunya, Biantiningsih Miderawati, adalah kakak kandung dari Presiden terpilih Prabowo Subianto.
Pendidikan Thomas mencerminkan standar global yang kuat. Ia menempuh studi sarjana di bidang Sejarah di Haverford College, Pennsylvania, Amerika Serikat.
Namun, minatnya pada dunia ekonomi membawanya untuk mengambil gelar Master di bidang International Relations and International Economics di Johns Hopkins University, School of Advanced International Studies (SAIS), Washington D.C.
Sebelum terjun ke dunia politik dan pemerintahan, Thomas membangun fondasi profesionalnya di sektor swasta. Ia memulai karier sebagai wartawan magang di Majalah Tempo dan kemudian bergabung dengan Indonesia Business Weekly.
Namun, karier finansialnya benar-benar terasah saat ia bekerja sebagai analis keuangan di Wheelock NatWest Securities, Hong Kong.
Pengalaman internasionalnya berlanjut di Commerzbank Securities di London sebagai analis pasar modal. Sekembalinya ke Indonesia, ia memegang posisi penting di Arsari Group, sebuah perusahaan investasi terkemuka, di mana ia menjabat sebagai Deputy CEO.
Keahliannya dalam mengelola arus kas dan investasi korporasi membuatnya dipercaya menjadi Bendahara Umum Partai Gerindra, posisi yang ia pegang selama bertahun-tahun untuk menjaga transparansi finansial partai.
Nama Thomas semakin mencuat saat ia ditunjuk sebagai anggota Gugus Tugas Sinkronisasi Prabowo-Gibran bidang Ekonomi dan Keuangan. Perannya sangat krusial dalam memastikan bahwa program-program unggulan pemerintahan baru dapat terakomodasi dalam APBN tanpa mengganggu stabilitas makroekonomi.
Penunjukannya sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) mendampingi Sri Mulyani Indrawati menjadi bukti bahwa ia adalah jembatan komunikasi yang efektif antara tim transisi dan birokrasi kementerian.
Pengalaman di Kemenkeu inilah yang menjadi modal kuat baginya saat dicalonkan sebagai Deputi Gubernur BI, guna memastikan sinkronisasi yang mulus antara kebijakan "kantong negara" dan "penjaga rupiah".
Secara formal, ia belum pernah bekerja di dalam struktur internal Bank Indonesia. Namun, sebagai anak dari mantan Gubernur BI dan perannya di Kementerian Keuangan, ia memiliki pemahaman mendalam mengenai mekanisme moneter dan stabilitas sistem keuangan.
Tantangan utama adalah menjaga independensi Bank Indonesia di tengah ekspektasi politik yang tinggi. Selain itu, ia akan dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global, digitalisasi mata uang (CBDC), dan upaya menjaga inflasi di level sasaran.
Profil Thomas Djiwandono menunjukkan evolusi seorang profesional keuangan menjadi pengambil kebijakan publik yang strategis. Pencalonannya sebagai Deputi Gubernur BI bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan langkah strategis untuk memperkuat koordinasi fiskal-moneter Indonesia. Dengan latar belakang yang komprehensif, Thomas diharapkan mampu membawa perspektif baru yang segar namun tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian bank sentral.
1. Apa latar belakang pendidikan Thomas Djiwandono?
Ia lulusan Haverford College (Sejarah) dan Johns Hopkins University (Master International Economics).
2. Apa peran Thomas di pemerintahan saat ini?
Ia menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia.
3. Mengapa ia dicalonkan ke Bank Indonesia?
Untuk memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter serta mengisi posisi Deputi Gubernur yang memasuki masa pensiun. (Z-10)
WAKIL Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono disebut telah mengundurkan diri dari Partai Gerindra terkait pencalonan dirinya menduduki jabatan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI)
Bank Indonesia (BI) secara resmi mengonfirmasi pengunduran diri Deputi Gubernur Bank Indonesia Juda Agung.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa pastikan Thomas Djiwandono mundur dari Gerindra sebelum jadi Deputi Gubernur BI guna jaga independensi.
Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Wamenkeu Thomas Djiwandono akan mengundurkan diri dari jabatan politisnya di Partai Gerindra sebelum dilantik sebagai Deputi Gubernur Bank BI.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan alasan nama Thomas Djiwandono menjadi salah satu yang disebut mengisi posisi deputi gubernur BI
WAKIL Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono disebut telah mengundurkan diri dari Partai Gerindra terkait pencalonan dirinya menduduki jabatan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI)
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa pastikan Thomas Djiwandono mundur dari Gerindra sebelum jadi Deputi Gubernur BI guna jaga independensi.
Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Wamenkeu Thomas Djiwandono akan mengundurkan diri dari jabatan politisnya di Partai Gerindra sebelum dilantik sebagai Deputi Gubernur Bank BI.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan alasan nama Thomas Djiwandono menjadi salah satu yang disebut mengisi posisi deputi gubernur BI
Thomas Djiwandono, keponakan Presiden Prabowo Subianto, kini diusulkan menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Simak profil dan hubungan keluarga mereka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved