Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
Langkah Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro diikuti rencana menguasai Greenland memicu kekhawatiran serius bagi komitmen keadilan iklim global, termasuk bagi negara-negara berkembang Global South . Peneliti Tata Kelola Iklim Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yogi Setya Permana menyebut situasi ini sebagai paradoks dalam politik iklim global.
“Di satu sisi, negara maju menekan negara berkembang untuk segera meninggalkan energi fosil demi target iklim. Di sisi lain, energi fosil tetap diperlakukan sebagai aset strategis yang diamankan melalui manuver geopolitik,” ungkapnya, Selasa (20/1).
Invasi AS ke Venezuela yang diikuti penguasaan cadangan minyak mentah terbesar di dunia (lebih dari 300 miliar barrel) oleh korporasi AS berpotensi membuat harga minyak mentah dunia makin melandai. Namun di lain sisi hal ini dinilai akan menunda investasi energi terbarukan dan memperpanjang ketergantungan pada bahan bakar fosil bagi negara-negara berkembang.
Indonesia sendiri menargetkan penggunaan 100% energi terbarukan dalam 10 tahun ke depan dan mencapai net-zero emission pada tahun 2050.
"Minyak murah sering kali menjadi jebakan kebijakan yakni tampak menguntungkan secara fiskal, namun meningkatkan kerentanan terhadap naik turun harga, risiko geopolitik, dan beban sosial-ekologis di masa depan,” jelas Yogi.
Ia mengungkapkan negara berkembang akhirnya menanggung konsekuensi paling berat, meski kontribusi historisnya terhadap emisi global relatif kecil.
“Konsep loss and damage menegaskan dampak perubahan iklim kerap melampaui kapasitas adaptasi suatu negara,” ujar Yogi.
Dirinya menjelaskan, situasi ini semakin menegaskan bahwa transisi energi tidak pernah
berlangsung di ruang yang netral. Keluarnya perintah Presiden AS Donald Trump pada 7 Januari lalu untuk keluar dari dari 66 organisasi internasional, termasuk badan-badan penting dalam kerjasama iklim global seperti U.N. Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) dan Intergovernmental Panel on
Climate Change (IPCC) , menunjukkan menjauhnya Amerika Serikat dari negosiasi dan aksi iklim global.
“Ini adalah situasi problematis ketika aktor besar menjauh dari institusi multilateral kunci seperti UNFCCC dan IPCC, tepat ketika perundingan iklim internasional, seperti COP ke-30 yang dideklarasikan sebagai COP of Truth ,” kata Yogi.
Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, Stanislaus Risadi Apresisan mengungkapkan hal ini justru menjadi peluang emas bagi negara-negara Selatan untuk mengambil alih kepemimpinan riset dan kebijakan iklim yang selama ini didominasi oleh peneliti negara maju.
"Dalam penulisan Assessment Report 6 IPCC, peneliti AS mendominasi sebanyak 25 orang, sementara Indonesia dan Brasil masing-masing hanya tiga dan enam orang. Ini saatnya perspektif peneliti dari negara Selatan yang berhadapan langsung dengan bencana iklim mendapatkan porsi lebih besar," kata Stanislaus.
Ia menerangkan Indonesia adalah negara yang memiliki sejarah panjang dalam forum-forum strategis dunia.
“Penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 adalah bukti kepemimpinan Indonesia. Semangat ini harus dihidupkan kembali untuk memperjuangkan diplomasi keadilan iklim dan mendukung transisi energi yang berkeadilan,” ujar Stanislaus.
Dirinya melihat peran Amerika Serikat di organisasi internasional akan berubah seiring dengan perubahan kepemimpinan.
“Indonesia dapat berkoalisi dengan Brasil dan negara-negara Selatan lainnya seperti Tiongkok, Afrika Selatan, India, Filipina, Vietnam untuk menuntut kontribusi lebih dari negara maju untuk memberikan bantuan teknis dan pendanaan untuk transisi energi yang berkeadilan,” tegasnya.
Baik Yogi maupun Stanislaus sepakat bahwa pasca-COP30, Indonesia dan Brasil perlu memperkuat poros kepemimpinan Global South melalui diplomasi aktif di berbagai forum multilateral dan regional.
“Indonesia perlu mengambil posisi tegas, meneruskan transisi energi sambil menolak standar ganda, mendorong pendanaan loss and damage yang adil, serta memperkuat diplomasi Global South agar transisi energi tidak hanya hijau, tetapi juga berkeadilan bagi mereka yang paling rentan,” kata Yogi.
Sementara Stanislaus mendorong pemerintah Indonesia untuk terus menggunakan forum multilateral untuk menuntut keadilan iklim dengan mendesak negara maju untuk membantu negara sedang berkembang dalam melakukan transisi energi.
“Forum-forum multilateral dan regional seperti APEC, ASEAN, OKI, OECD dapat digunakan oleh Indonesia untuk menyuarakan pentingnya keadilan iklim dan membangun koalisi khususnya dengan negara-negara Selatan,” tutupnya. (H-2)
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum tegaskan bantuan ke Kuba berlanjut meski ada sanksi AS. Sebanyak 814 ton makanan dikirim via kapal perang sebagai bentuk solidaritas.
Kim Jong-un sinyalkan penguatan nuklir dan ICBM pada Kongres Partai ke-9. Pyongyang fokus pada pembangunan militer luar biasa dan konsolidasi kekuasaan absolut.
Iran menolak pembatasan misil dari AS meski siap lanjut negosiasi. Teheran menegaskan program rudal tak bisa ditawar di tengah tekanan Israel.
Green Day tampil memeriahkan acara pembukaan Super Bowl LX di Levi’s Stadium, California, Minggu (8/2).
INDONESIA mendesak Amerika Serikat (AS) dan Rusia segera melanjutkan perundingan untuk mencegah perlombaan senjata nuklir baru.
KETEGANGAN Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah Teheran memperingatkan akan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah jika Donald Trump melancarkan aksi militer
Hanya beberapa jam setelah dibebaskan dari penjara, tokoh oposisi Venezuela Juan Pablo Guanipa kembali ditangkap paksa oleh pria bersenjata.
Ribuan pendukung Nicolas Maduro berdemo di Caracas menuntut pembebasannya pascaoperasi militer AS. Presiden Interim Delcy Rodriguez kini hadapi tekanan politik.
Hubungan AS-Kolombia memasuki babak baru. Presiden Gustavo Petro dan Donald Trump bertemu di Gedung Putih untuk mengakhiri setahun konflik diplomatik dan sanksi.
Narasi pemerintah AS terkait penembakan dua imigran Venezuela di Oregon runtuh di pengadilan. Tak ada bukti keterlibatan geng Tren de Aragua seperti yang diklaim DHS.
BADAN Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat (AS) secara diam-diam disebut tengah berupaya membangun kehadiran permanen AS di Venezuela guna memengaruhi masa depan negara tersebut.
Presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez menolak tekanan AS terkait produksi minyak. Di sisi lain, ratusan tahanan politik mulai dibebaskan sebagai isyarat perdamaian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved