Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menyampaikan bahwa konflik AS-Venezuela tidak akan memengaruhi kinerja perekonomian Indonesia secara signifikan. Itu karena perdagangan antara Indonesia dengan Venezuela relatif kecil, dengan porsi hanya 0,02 % dari total ekspor Indonesia walaupun pertumbuhan ekspornya hampir dua kali lipat.
Dengan porsi yang kecil, sebenarnya dampak secara langsung tidak akan signifikan terhadap kinerja ekonomi Indonesia. Dengan kata lain, Venezuela bukan mitra dagang dan investasi Indonesia,” kata Huda saat dihubungi, Selasa (6/1).
Di samping itu, Huda juga menilai bahwa dampak konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Venezuela terhadap harga minyak juga relatif minim. Hal ini disebabkan karena produksi minyak Venezuela yang relatif kecil meskipun memiliki cadangan minyak yang besar.
“Jadi (konflik AS-Venezuela) tidak mempunyai pengaruh terhadap pergerakan minyak global. Tidak berpengaruh juga terhadap ICP ataupun subsidi migas kita ataupun ke APBN,” imbuh Huda.
Selain itu, dirinya juga memandang nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang akan berdampak namun tidak terlalu signifikan.
“Tidak ada gejolak yang luar biasa di dalam negeri AS yang bisa membuat goyah ataupun memperkuat dolar. Namun demikian, ada potensi pelemahan jika tujuan penangkapan Presiden Venezuela (Nicolas Maduro) terkait dengan minyak, yang akan membuat perusahaan minyak AS bisa masuk ke Venezuela. Maka industri di AS bisa meningkat sehingga meningkatkan pula kebutuhan akan dolar. Tapi saya belum melihat langkah nyata dari rencana tersebut,” beber Huda.
Namun demikian, Huda menyatakan bahwa terdapat efek tidak langsung yang dapat berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia dari konflik yang terjadi antara AS dan Venezuela, salah satunya dari sisi geopolitik global yang ikut memanas.
“Tiongkok-Taiwan bisa meningkat eskalasi konfliknya yang dapat memperburuk kondisi perdagangan global. Ketika kondisi global memburuk, maka akan merembet ke berbagai sektor. Perdagangan, harga minyak global, dan sebagainya aman bergejolak. Saat itu, pemerintah perlu waspada,” terangnya.
Pemerintah Indonesia, lanjut Huda, harus menghindari dari konflik secara langsung dengan mengedepankan politik non blok. Dengan menghindar dari konflik secara langsung, hal tersebut diyakini bisa membuat ekonomi domestik berjalan aman.
“Kemudian, pemerintah juga perlu membangun kekuatan poros global negara berkembang untuk memengaruhi kebijakan luar negeri negara maju. Selama ini, negara maju seperti AS menunjukkan kedigdayaannya namun mengesampingkan kepentingan negara berkembang,” pungkas dia. (H-3)
Risiko ke depan sangat bergantung pada kelancaran transisi politik di Venezuela serta dinamika geopolitik yang lebih luas.
PBB menyoroti pelanggaran hukum internasional terkait intervensi AS terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan peringatkan potensi instabilitas.
Pemerintah Indonesia menegaskan tidak akan mencampuri konflik politik antara Amerika Serikat dan Venezuela. Mensesneg Prasetyo Hadi menyebut pemerintah fokus pada urusan dalam negeri.
IHSG mencetak All Time High (ATH) baru di level 8.933,61. Lonjakan harga logam akibat tensi geopolitik AS-Venezuela dan insentif pajak pemerintah jadi pemicu utama.
IHSG diprediksi menguat ke level 8.884 seiring pasar mengabaikan tensi AS-Venezuela. Simak faktor pendorong dari insentif PPN DTP hingga harga emas.
Konflik AS-Venezuela tidak hanya mengguncang stabilitas internal Venezuela, tetapi juga memunculkan kekhawatiran luas terkait berbagai hal, termasuk keselamatan WNI di sana.
Sebelum terjadi penyerangan Amerika Serikat kepada Venezuela, risiko geopolitik pun sudah menyebabkan ketidakpastian yang tinggi pada proses pertumbuhan dan stabilitas ekonomi.
Risiko ke depan sangat bergantung pada kelancaran transisi politik di Venezuela serta dinamika geopolitik yang lebih luas.
INSTITUTE for Development of Economics and Finance (Indef) menyebut sejauh ini dampak konflik AS-Venezuela terhadap rupiah masih bersifat sentimen jangka pendek, bukan fundamental.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved