Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Bulog Gandeng BRIN untuk Cegah Beras Berkutu

Budi Ernanto
02/1/2026 21:38
Bulog Gandeng BRIN untuk Cegah Beras Berkutu
Ilustrasi.(MI/SUSANTO)

BULOG menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN untuk menerapkan teknologi baru dalam pemeliharaan stok beras. Langkah ini ditujukan untuk mencegah serangan kutu, menjaga kualitas beras, serta memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan koordinasi awal telah dilakukan dengan pimpinan BRIN terkait dukungan teknologi tersebut.
"Kami sudah koordinasi dengan Kepala BRIN. BRIN akan suport kami untuk pemeliharaan beras ke depan itu ada teknologi baru," kata Rizal dalam jumpa pers bertajuk Capaian Krusial Bulog 2025 dan Langkah Strategis 2026 di Jakarta, Jumat.

Meski demikian, Rizal belum merinci jenis teknologi yang akan digunakan. Ia hanya menegaskan bahwa inovasi tersebut difokuskan untuk melindungi stok cadangan beras pemerintah yang dikelola Bulog.

Hal ini dinilai penting mengingat stok cadangan beras pemerintah pada awal tahun ini mencapai 3,25 juta ton, yang merupakan sisa peralihan dari tahun 2025 ke 2026.

Kerja sama dengan BRIN disebut akan menghadirkan teknologi pemeliharaan beras hasil karya dalam negeri. Inovasi tersebut dirancang untuk meningkatkan daya tahan stok beras tanpa ketergantungan pada teknologi luar negeri dalam sistem logistik pangan nasional.

Teknologi baru itu diklaim mampu menjaga kualitas beras tetap stabil dan sehat sehingga mendukung pengelolaan cadangan pangan pemerintah dalam jangka panjang.

"Enggak usah pakai teknologi-teknologi dari luar. Teknologi orang Indonesia aja udah pintar-pintar. Nah ini syukur alhamdulillah dari Kepala BRIN kemarin menyampaikan ada teknologi baru untuk menjaga beras jadi lebih sehat, lebih kuat dan tahan lama," beber Rizal.

Bulog akan menindaklanjuti kerja sama tersebut melalui pembahasan teknis lanjutan bersama BRIN guna memastikan teknologi dapat diterapkan secara efektif di seluruh fasilitas penyimpanan beras milik negara.

"Nanti kami tindaklanjuti ini dan diskusikan dengan Kepala BRIN untuk diterapkan di Bulog," jelasnya.

Rizal menegaskan komitmen perusahaan untuk menjaga kualitas beras dari Sabang hingga Merauke melalui sistem pengawasan yang dilakukan secara terpadu dan berlapis.

Selama ini, Bulog menerapkan pemeliharaan beras secara berjenjang mulai dari pemeriksaan harian, mingguan, bulanan, triwulanan, hingga per semester untuk memastikan stok tetap aman dan layak konsumsi.

Ia menjelaskan bahwa setiap indikasi penurunan kualitas atau serangan hama akan segera ditangani dengan langkah percepatan, seperti fumigasi terukur, agar tidak menyebar ke stok lain di gudang.

"Sehingga indikasi-indikasi penyakit (beras berkutu) itu tidak menyebar ke yang lain," ucap Rizal.

Menurutnya, upaya pemeliharaan tersebut menjadi prioritas strategis Bulog agar beras tetap sehat, kuat, dan tahan lama selama masa penyimpanan serta distribusi ke seluruh wilayah Indonesia.

"Bulog itu selalu berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kualitas dari masing-masing produk beras," kata Rizal.

Sebelumnya, persoalan beras berkutu di gudang Bulog menjadi sorotan Komisi IV DPR RI. Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Soeharto mengungkap temuan beras impor yang telah berkutu saat melakukan kunjungan kerja ke Yogyakarta.

Kunjungan tersebut dilakukan dalam masa reses DPR beberapa waktu lalu. Titiek menyebut beras yang ditemukan merupakan stok impor dari tahun sebelumnya.

"Pada reses lalu, pada kunjungan kerja yang lalu, saya memimpin tim ke Yogya, dan kami meninjau Gudang Bulog. Di situ kami menemukan masih banyak beras sisa impor yang lalu di dalam Gudang Bulog yang sudah banyak kutu," kata Titiek Soeharto dalam rapat kerja dengan Kementerian Pertanian, Selasa (11/3/2025). (Ant/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Budi Ernanto
Berita Lainnya