Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Gejolak Global Angkat Harga Emas, Rupiah Diproyeksi Tertekan di 2026

Insi Nantika Jelita
24/12/2025 15:34
Gejolak Global Angkat Harga Emas, Rupiah Diproyeksi Tertekan di 2026
Prediksi harga emas diprediksi bisa menekan nilai tukar rupiah pada 2026.(Freepik)

Ketidakpastian global diperkirakan masih akan menjadi pendorong utama kenaikan harga emas dunia sekaligus memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah sepanjang 2026.

Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan tren penguatan harga emas masih berlanjut hingga akhir 2025. Pada perdagangan pagi ini, harga emas dunia tercatat berada di kisaran US$4.512 per troy ons, dengan potensi naik hingga US$4.550 per troy ons sebelum tutup tahun.

Memasuki 2026, Ibrahim memproyeksikan harga emas dunia berpeluang menembus level US$5.500 per troy ons. Sementara itu, jika terjadi koreksi, penurunan diperkirakan terbatas hingga US$4.150 per troy ons.

“Dengan asumsi tersebut, rata-rata harga emas dunia sepanjang 2026 diperkirakan berada di level US$4.825 per troy ons,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (24/12).

Sejalan dengan tren global, harga emas logam mulia di dalam negeri juga diperkirakan melonjak signifikan. Ibrahim memperkirakan harga emas domestik pada 2026 dapat mencapai Rp3,8 juta per gram, naik sekitar Rp1,1 juta per gram dibandingkan proyeksi akhir 2025 yang berada di kisaran Rp2,7 juta per gram.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah diproyeksikan berada dalam tekanan. Sepanjang 2026, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp16.400 hingga Rp17.500 per dolar AS. Pelebaran kisaran tersebut mencerminkan tingginya ketidakpastian ekonomi global.

“Kondisi global yang belum stabil berpotensi terus memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” kata Ibrahim.

Ibrahim menilai terdapat sejumlah faktor kunci yang mendorong penguatan harga emas sekaligus melemahnya rupiah. Faktor-faktor tersebut meliputi eskalasi geopolitik global, dinamika politik Amerika Serikat, arah kebijakan Bank Sentral AS (The Federal Reserve), potensi perang dagang, serta ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan.

Dari sisi geopolitik, ketegangan global dinilai semakin meluas. Di Timur Tengah, situasi kembali memanas setelah Iran melakukan uji coba rudal balistik secara masif. Kondisi ini memicu kekhawatiran Israel terkait potensi ancaman langsung. Ibrahim menilai terdapat peluang konflik terbuka antara Israel dan Iran pada kuartal I-2026, dengan keterlibatan Amerika Serikat dan NATO.

Konflik tersebut berpotensi mengganggu produksi minyak mentah global dan menyeret negara-negara Islam lain di kawasan Timur Tengah. Gangguan pasokan energi diperkirakan akan mendorong kenaikan harga minyak dan produk turunannya, yang pada akhirnya memicu inflasi global.

“Kondisi inflasi inilah yang berpotensi semakin mengerek harga emas dunia,” jelasnya.

Selain Timur Tengah, risiko konflik juga dinilai muncul di Amerika Latin. Ibrahim melihat potensi ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela pada kuartal I-2026. Venezuela disebut terus menjalin komunikasi dengan Kolombia, Rusia, Iran, dan Tiongkok. Keterlibatan Tiongkok memiliki kepentingan ekonomi strategis, mengingat sekitar 1,1 juta barel per hari ekspor minyak Venezuela dikirim ke negara tersebut.

Di Eropa, konflik Rusia–Ukraina dinilai masih menyimpan risiko eskalasi. Perbedaan prinsip terkait wilayah teritorial membuat upaya gencatan senjata belum menemukan titik temu yang solid.

Sementara di Asia Timur, ketegangan meningkat seiring laporan kunjungan Taiwan ke Israel untuk membahas sistem pertahanan Iron Drone, serta pembangunan pangkalan militer Amerika Serikat di Filipina yang berdekatan dengan Laut China Selatan. Langkah ini dinilai sebagai antisipasi konflik antara Tiongkok dan Taiwan, yang berpotensi memicu perang skala besar di kawasan Asia Timur.

Dari sisi politik Amerika Serikat, Ibrahim menyoroti potensi ketidakpastian pada kuartal I-2026, seiring keputusan resmi Jaksa Agung AS terkait polemik pemecatan Gubernur Federal Reserve Lisa Cook oleh Presiden Donald Trump. Sengketa hukum tersebut dinilai berpotensi mengguncang stabilitas politik dan ekonomi AS.

Kebijakan moneter The Fed juga menjadi sorotan utama. Ketua The Fed Jerome Powell sebelumnya mengindikasikan kemungkinan hanya satu kali penurunan suku bunga pada 2026. Namun, berakhirnya masa jabatan Powell pada April 2026 membuka peluang perubahan kepemimpinan The Fed yang dinilai lebih sejalan dengan kebijakan Gedung Putih.

“Kondisi ini berpotensi mendorong kebijakan moneter yang lebih longgar dan menjadi sentimen positif bagi harga emas,” ujar Ibrahim.

Kebijakan bank sentral global lainnya, seperti Bank Sentral Eropa, Bank of England, dan Bank Sentral Swiss, diperkirakan akan mengikuti arah kebijakan The Fed. Sebaliknya, Bank of Japan justru diproyeksikan mengambil langkah berbeda dengan menaikkan suku bunga.

Faktor terakhir adalah potensi berlanjutnya perang dagang global pada 2026. Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan negara mitra dinilai masih akan membayangi perekonomian global, meningkatkan ketidakpastian, dan mendorong investor mengalihkan dana ke aset lindung nilai seperti emas. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik