Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Tren Harga Emas dan Kebijakan Hilirisasi Perkuat Prospek Industri Emas di 2026

Ihfa Firdausya
22/12/2025 18:03
Tren Harga Emas dan Kebijakan Hilirisasi Perkuat Prospek Industri Emas di 2026
Ilustrasi(HRTA)

Memasuki 2026, industri emas Indonesia berada dalam fase transisi yang ditopang oleh kombinasi dinamika global dan arah kebijakan domestik. Harga emas dunia hingga akhir 2025 masih bertahan di level tinggi, didorong pembelian berkelanjutan oleh bank sentral global, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Sejumlah laporan internasional, termasuk dari World Gold Council dan, mencatat bank sentral dunia terus menambah cadangan emas sebagai respons atas meningkatnya beban utang dan potensi pelemahan mata uang. Di Amerika Serikat, lonjakan utang pemerintah yang terus berlanjut memperkuat persepsi emas sebagai aset penyimpan nilai jangka panjang, bukan sekadar instrumen lindung nilai jangka pendek.

Di tingkat nasional, pemerintah Indonesia juga mulai menyiapkan kebijakan yang mengarah pada penguatan nilai tambah industri emas. Penerapan pajak ekspor emas yang direncanakan berlaku mulai 2026, dengan tarif progresif berdasarkan tingkat pemrosesan, diproyeksikan mendorong peningkatan pasokan untuk pasar domestik serta memperkuat industri pemurnian dan manufaktur di dalam negeri.

Dalam konteks tersebut, pelaku industri menilai kebijakan ini berpotensi mempercepat pembentukan ekosistem emas nasional yang lebih terintegrasi. Dorongan untuk meningkatkan pemrosesan di dalam negeri dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah sekaligus memperluas nilai tambah ekonomi.

Salah satu pelaku industri yang menyiapkan diri menghadapi perubahan ini adalah PT Hartadinata Abadi Tbk. Direktur Investor Relations HRTA Thendra Crisnanda menyampaikan bahwa perubahan struktur pasar emas, baik global maupun domestik, mencerminkan pergeseran peran emas sebagai aset strategis jangka panjang. Menurutnya, fokus pada penguatan rantai pasok domestik menjadi kunci dalam menghadapi dinamika tersebut.

Hingga kuartal III-2025, porsi ekspor HRTA tercatat relatif kecil, mencerminkan orientasi perusahaan pada pemenuhan permintaan dalam negeri, seiring pengembangan ekosistem bullion dan peningkatan kapasitas fasilitas pemurnian. Langkah ini dinilai selaras dengan kebijakan pemerintah yang mendorong hilirisasi sektor mineral.

Dari sisi harga, pergerakan emas masih sangat dipengaruhi kebijakan moneter global. Hingga 22 Desember 2025, harga emas dunia kembali mencetak rekor, seiring pemangkasan suku bunga The Fed yang menurunkan real yield. Di dalam negeri, kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga turut memengaruhi penguatan harga emas dalam Rupiah, menjadikannya tetap menarik sebagai aset lindung nilai.

Ke depan, pelaku pasar menilai arah harga emas masih akan ditentukan oleh perkembangan inflasi global, kebijakan suku bunga, serta stabilitas nilai tukar. Dalam situasi tersebut, emas diperkirakan tetap memiliki peran penting bagi investor maupun industri sepanjang 2026.

Dengan latar tersebut, industri emas nasional dihadapkan pada peluang sekaligus tantangan untuk beradaptasi terhadap perubahan struktural, baik dari sisi kebijakan, pasar global, maupun penguatan kapasitas domestik. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya