Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Survei Segara: Mayoritas Peminjam Utamakan Kecepatan, Bukan Suku Bunga

Insi Nantika Jelita
09/12/2025 20:29
Survei Segara: Mayoritas Peminjam Utamakan Kecepatan, Bukan Suku Bunga
Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah Redjalam(Dok Segara Research Institute)

SURVEI Segara Research Institute menunjukkan mayoritas peminjam di Indonesia lebih mengutamakan kecepatan pencairan dana dibandingkan besaran suku bunga dalam memilih sumber pembiayaan. Dari 2.119 responden yang disurvei pada Juni–Juli 2025 di 20 kabupaten/kota di tujuh provinsi, lebih dari 73% memilih layanan pembiayaan digital atau pinjaman daring (pindar) karena menawarkan proses yang cepat dan persyaratan yang mudah, bahkan meski bunga dinilai tinggi. 

"Sekitar 73,5% responden memilih meminjam ke pindar dikarenakan faktor kecepatan pencairan dana," kata Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah Redjalam dalam keterangan resmi.

Sementara responden lain memilih untuk meminjam dari perusahaan tempat bekerja (62,5%), pegadaian (59,1%), dan rentenir (45,0%) dengan pertimbangan kemudahan persyaratan.

Piter menuturkan kecepatan dan kemudahan menjadi pertimbangan utama mengindikasikan adanya kebutuhan dana yang mendesak di masyarakat, sehingga besarnya suku bunga atau biaya pinjaman tidak menjadi sesuatu yang penting.

Temuan utama lainnya adalah adanya responden yang mendapati dan mengalami skema pembayaran cicilan yang lebih besar di awal dan kemudian semakin mengecil pada periode berikutnya (skema pembayaran tadpole). Dalam beberapa kasus, porsi terbesar di awal tersebut tidak hanya terjadi dari sisi jumlah pembayaran, tetapi juga frekuensi pembayaran yang lebih sering, sehingga tekanan cicilan lebih berat pada awal tenor.

Hasil in-depth interview menunjukkan bahwa responden yang mengalami skema pembayaran tadpole adalah mereka yang benar-benar dalam posisi terdesak, membutuhkan uang segera untuk menutup kebutuhan darurat seperti keluarga sakit atau biaya pendidikan anak. Karena situasi yang sangat darurat tersebut mereka tidak menyadari atau tidak mempedulikan bahwa skema pembayaran dari pinjaman yang mereka setujui akan merugikan mereka.

Survei juga mengungkap temuan penting lainnya terkait suku bunga. Lebih dari separuh responden (51,08%) merasa bunga pinjaman yang mereka bayarkan tergolong cukup rendah dan tidak memberatkan. Menurut Piter, temuan ini agak bertentangan dengan asumsi awal, tetapi fakta hasil survei menunjukkan hal tersebut. Temuan ini sesungguhnya menegaskan temuan sebelumnya terkait pertimbangan pemilihan sumber pembiayaan, di mana faktor suku bunga tidak menjadi pertimbangan utama.

Sumber pembiayaan seperti bank, perusahaan atau koperasi pegawai, atau pegadaian/LKBB secara umum dipersepsikan memiliki bunga yang rendah. Mayoritas responden dari ketiga sumber ini menyatakan bunga yang dikenakan cukup rendah, dengan persentase masing-masing 65,52% untuk bank, 64% untuk perusahaan, dan 77,42% untuk pegadaian. Namun hasil berbeda didapatkan untuk Rentenir dan Pindar. Mayoritas peminjam dari rentenir dan pindar merasa bahwa suku bunga yang mereka bayarkan tinggi dan membebani (masing-masing 60,87% dan 56,17%).

"Meskipun bunga pindar dipersepsikan tinggi dan membebani, masyarakat tetap memilih Pindar dan sebagian besar menyatakan puas atas layanan pindar," tegas Piter.

Sementara Bank dan Lembaga Keuangan non-Bank seperti Pegadaian, meskipun dipersepsikan berbunga rendah, tidak menjadi pilihan utama karena dianggap memiliki persyaratan yang tidak mudah.

Hasil survei juga menunjukkan meskipun bunga Pindar dipersepsikan tinggi tetapi hampir seluruh peminjam pindar (96,85%) mampu membayar cicilan pokok dan bunga secara lancar 62.52% atau minimal kurang lancar (34.33%). Sementara yang menyatakan pembayaran cicilannya macet hanya sebesar 3.15%.

Adapun responden survei umumnya berusia antara 21-30 tahun (60,43%), berstatus tidak/belum kawin (63%), dan mayoritas berpendidikan SMA atau bahkan sarjana. Pekerjaan responden yang terbanyak adalah Karyawan/buruh (28,47%), diikuti oleh pengelola UMKM (26,11%) dan Bekerja Mandiri (18,56%).

Piter menuturkan survei ini dilatarbelakangi oleh keyakinan bahwa ekonomi digital adalah sebuah keniscayaan. Percepatan perkembangan teknologi informasi telah mendorong tumbuhnya gaya hidup digital, dan pada akhirnya mempercepat berkembangnya ekonomi digital. 

Menurut Piter, pindar atau pembiayaan digital yang memiliki izin dari OJK berpotensi untuk membantu meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia. Pindar dengan semua kemudahannya bisa menjadi pembuka hubungan masyarakat dengan berbagai layanan keuangan termasuk dengan perbankan. Namun demikian, di sisi lain upaya untuk meningkatkan pembiayaan digital juga dihadapkan berbagai permasalahan, seperti praktek penipuan (pinjol ilegal), keterbatasan dana yang menyebabkan tingginya suku bunga, kejahatan siber, dan lainnya. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya