Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan ketersediaan dana untuk penanganan bencana Sumatra setelah melakukan penyisiran anggaran negara yang mencapai Rp60 triliun. Angka tersebut dianggap cukup mengingat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya memperkirakan kebutuhan pemulihan infrastruktur dan hunian bagi warga terdampak di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mencapai Rp51,82 triliun.
"Ada anggaran bencana setiap tahun. Bahkan sebelum kejadian ini, kami sudah mulai menyisir kegiatan yang tidak terlalu penting. Dari situ kita dapat sekitar Rp60 triliun," ujarnya di Jakarta, Senin (8/12).
Dana Rp60 triliun tersebut, lanjutnya, berasal dari efisiensi anggaran, bukan pemotongan, termasuk pengurangan kegiatan yang dinilai tidak prioritas seperti rapat yang tidak mendesak.
"Anggaran yang disisir itu dari rapat-rapat tidak jelas dan segala macem. Jadi kita bukan potong anggaran ya, efisiensi kan," imbuh Purbaya.
Ia pun menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir karena anggaran pemulihan banjir Sumatra telah tersedia dan siap digunakan. Pemerintah juga disebut telah melakukan perencanaan lebih matang untuk mencegah terulangnya kondisi seperti tahun lalu, ketika pemangkasan anggaran dilakukan tidak terukur.
"Kita tidak ingin mengulangi seperti tahun lalu, ketika pemangkasan dilakukan tergesa-gesa. Sekarang sudah ada proses penyisiran dari awal," kata Purbaya.
Namun, ungkapnya, keputusan terkait nominal penambahan anggaran untuk penanganan bencana melalui PNBP akan diumumkan langsung oleh Presiden.
"Yang berhak mengumumkan itu Presiden dan BNPB, saya gak bisa ngomongin itu. Tapi permintaan mereka sudah didukung oleh dana yang cukup," pungkas Bendahara Negara.
Terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menyatakan hingga saat ini pihaknya belum dapat mengevaluasi secara pasti sejauh mana bencana di Sumatra akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi 2026.
“Saat ini kita masih berada pada tahapan penanggulangan, dengan upaya langsung untuk membantu para korban di lokasi bencana,” ujarnya.
Namun, Shinta menyatakan, dunia usaha mengalami kerugian, terutama di sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), dan perdagangan lokal. Katanya, banyak usaha kehilangan stok, aset, dan pasar karena terganggunya permintaan. Utamanya di sektor manufaktur dan industri pengolahan yang bergantung pada pasokan bahan baku dari Sumatra.
"Jadi ini juga satu sektor yang harus jadi perhatian kita. Dan juga ada gangguan utilitas terutama air dan listrik yang berdampak pada dunia usaha," tuturnya.
Selain itu, industri agribisnis turut terdampak akibat kerusakan lahan dan terputusnya jalur transportasi dan logistik. Kondisi ini menimbulkan supply shock, menekan output regional, dan meningkatkan biaya logistik secara keseluruhan.
Meski demikian, Shinta menilai dampak bencana terhadap pertumbuhan ekonomi nasional kemungkinan tidak terlalu besar.
“Kalau dilihat secara menyeluruh, kemungkinan dampaknya itu tidak signifikan bagi ekonomi Indonesia secara keseluruhan,” jelasnya. (E-3)
BANJIR dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir 2025 meninggalkan dampak berkepanjangan bagi masyarakat setempat.
Gerakan ini merupakan sinergi lintas sektor yang melibatkan musisi lintas generasi, komunitas, serta dukungan penuh dari pemerintah dan sektor swasta.
Adapun temanya adalah Integrasi Pendekatan One Health dalam Pemulihan Sosial, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat Rentan Pascabencana Banjir di Aceh.
DUA bulan pascabencana hidrometeorologi yang terjadi pada 27 November 2025, sebanyak 40 warga di Sumatra Utara masih dinyatakan hilang.
LAILATUL BARA'AH atau yang akrab disebut Malam Nisfu Syakban di Provinsi Aceh dirayakan dengan penuh khidmat.
BNPB juga menyalurkan bantuan dana tunggu hunian bagi warga yang memilih tinggal sementara di rumah keluarga atau sanak saudara. Bantuan tersebut sebesar Rp600 ribu per bulan.
Pasalnya sudah hampir tiga bulan usai bencana banjir dan tanah longsor terjadi di Sumatra, sekolah-sekolah di lokasi itu masih harus belajar berlantai terpal plastik di tenda darurat.
Berdasarkan hasil kajian tim Kementerian PU bersama Universitas Syiah Kuala (USK) ditemukan adanya pergerakan air bawah tanah yang memicu ketidakstabilan lereng.
HARAPAN baru mulai tumbuh di tengah warga Desa Tandihat, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.
MENTERI Dalam Negeri Tito Karnavian memperingatkan pemda di Sumatra Utara agar tidak menyelewengkan dana penanganan bencana.
Adapun temanya adalah Integrasi Pendekatan One Health dalam Pemulihan Sosial, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat Rentan Pascabencana Banjir di Aceh.
BADAN Rescue Nasional Demokrasi (NasDem) Sumatera Barat menargetkan pembentukan pengurus Badan Rescue NasDem Daerah (BRND) tingkat kota, kabupaten dan kecamatan yang ada di Sumbar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved