Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Peluang Indonesia Mengalami Resesi Disebut Sangat Kecil

Insi Nantika Jelita
03/12/2025 22:32
Peluang Indonesia Mengalami Resesi Disebut Sangat Kecil
Economic Outlook Q4 2025.(Dok. MI)

CHIEF Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai risiko Indonesia mengalami resesi dalam waktu dekat amat kecil. Ia menegaskan struktur ekonomi nasional masih ditopang oleh kekuatan domestik. Di mana lebih dari 50% kontribusinya berasal dari konsumsi dalam negeri yang mencerminkan daya beli masyarakat masih cukup baik.

Menurut Andry, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan tren perbaikan yang berkelanjutan. Purchasing Manufacturing Index (PMI) meningkat menjadi 53,3 pada November 2025, sementara Indeks Keyakinan Konsumen (IKI) mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir pada Oktober 2025, yaitu 121,2, naik dari 115,0 pada bulan sebelumnya.

"Perbaikan ini menandakan pulihnya persepsi masyarakat terhadap prospek ekonomi, sekaligus membuka ruang akselerasi pada 2026. Jadi, sangat kecil kemungkinan Indonesia mengalami resesi," ungkapnya dalam Economic Outlook Q4 2025 secara daring, Rabu (3/12).

Ia menegaskan konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan. Data Market Spending Index Bank Mandiri menunjukkan masyarakat Indonesia tetap bertahan dalam pola belanja, meskipun kondisi global penuh tekanan. Namun, Andry mengingatkan konsumsi hanya dapat terjaga apabila pendapatan masyarakat meningkat, yang berarti penciptaan lapangan kerja menjadi faktor krusial.

Andry memperkirakan momentum pertumbuhan akan berlanjut mulai kuartal IV tahun ini hingga awal 2026. Permintaan domestik diprediksi meningkat karena momen Ramadan dan Idulfitri, dilanjutkan sentimen positif dari musim panen serta periode libur sekolah. Tantangan diperkirakan muncul pada kuartal III, seperti pola perlambatan yang terjadi tahun ini.

Untuk menjaga momentum, Andry menilai akselerasi belanja dan realisasi program pemerintah perlu dimulai sejak kuartal I, atau paling lambat kuartal II 2026.

“Titik kritisnya adalah kita harus ngegas sejak  kuartal pertama 2026. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit dapat terjaga sepanjang 2026,” ucapnya. 

Kendati proyeksi ekonomi domestik cukup optimistis, ia mengakui kondisi global masih diliputi ketidakpastian. Konflik geopolitik di Eropa, Timur Tengah, hingga Asia, serta ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, berpotensi memicu volatilitas. 

"Dampaknya bisa dirasakan melalui jalur perdagangan internasional, investasi langsung, maupun aliran dana portofolio," kata Andry.

Dalam kesempatan sama, Head of Macroeconomic & Financial Market Research Dian Ayu Yustina menyampaikan pada kuartal III 2025 pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami sedikit perlambatan. Meski demikian, kinerjanya masih tergolong kuat dan stabil. 

Dukungan pertumbuhan terutama berasal dari percepatan belanja pemerintah yang tumbuh antara 5% hingga 5,5%. Kinerja perdagangan juga masih positif meskipun terdapat potensi tekanan dari kebijakan tarif pemerintahan Presiden AS Donald Trump. 

Namun, sejalan dengan perbaikan kondisi global, volume perdagangan dunia masih lebih baik dari ekspektasi. "Hal ini antara lain dipengaruhi strategi front loading para eksportir, sehingga neraca dagang Indonesia tetap terjaga baik," tuturnya.

Tanda Percepatan

Memasuki kuartal IV 2025, indikator awal menunjukkan tanda-tanda percepatan aktivitas ekonomi, khususnya dari sisi konsumsi. Penjualan ritel tumbuh 4,3% pada Oktober, meningkat dibandingkan September yang tercatat 3,7%. Selain itu, indeks kepercayaan konsumen yang sempat melemah kembali menguat menjadi 121,2 pada Oktober, naik signifikan dari posisi September sebesar 115.

Dian menambahkan data Mandiri Spending Index juga mencatat tren peningkatan yang kuat pada bulan Oktober dan November, didorong oleh meningkatnya pengeluaran terkait mobilitas masyarakat. Meskipun sempat terjadi normalisasi belanja pada akhir November, konsumsi diperkirakan kembali meningkat menjelang libur Natal dan Tahun Baru. 

"Kenaikan konsumsi ini utamanya ditopang oleh belanja perjalanan, wisata, serta pembelian barang tahan lama seperti perangkat elektronik dan telepon seluler," jelasnya. 

Sementara itu, dari sisi investasi, indikator awal menunjukkan pergerakan yang beragam. Penjualan semen dan impor barang modal tercatat melambat pada Oktober. Namun, Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur justru meningkat menandakan ekspansi sektor industri. Kredit untuk sektor produktif juga diperkirakan mulai meningkat seiring perbaikan kondisi likuiditas perbankan.

Dalam dua bulan terakhir, Dian menegaskan pemerintah perlu merealisasikan belanja sekitar Rp934 triliun agar target fiskal tercapai. "Akselerasi ini diharapkan menjadi katalis tambahan bagi pertumbuhan ekonomi kuartal IV," imbuhnya 

Melihat keseluruhan indikator, Dian memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV sekitar 5,08%, sementara pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 diperkirakan di kisaran 5–5,1%.

"Pertumbuhan kuartal IV 2025 akan ditopang oleh momentum belanja akhir tahun dan perayaan Natal serta Tahun Baru," ucapnya.

Untuk tahun depan, Bank Mandiri memproyeksikan perekonomian Indonesia tumbuh di level 5,2% pada 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, pemulihan investasi, dan kebijakan fiskal yang lebih ekspansif.  Program strategis pemerintah diyakini akan memberi multiplier effect, terutama pada sektor manufaktur, industri pengolahan, dan sektor padat karya.  (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik