Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
Perubahan outlook Indonesia oleh Moody’s menjadi negatif serta sinyal kehati-hatian dari MSCI dinilai bukan mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi, melainkan lonjakan persepsi risiko yang mulai membebani kepercayaan investor. Secara makro, ekonomi Indonesia masih relatif solid. Namun, pasar global kini mulai mempertanyakan arah kebijakan jangka menengah dan konsistensi pengelolaan ekonomi nasional.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menegaskan bahwa indikator utama perekonomian Indonesia sejauh ini masih berada pada level yang cukup kuat.
“Secara data, fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih terjaga. Pertumbuhan ekonomi sekitar 5%, inflasi masih dalam target Bank Indonesia 2,5±1%, cadangan devisa di atas US$140 miliar atau setara lebih dari enam bulan impor, serta rasio utang pemerintah masih di kisaran 38-40% terhadap PDB,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (8/2).
Menurut Rizal, kondisi tersebut menegaskan bahwa kekhawatiran investor global bukan terletak pada kinerja ekonomi jangka pendek. Justru, yang menjadi sorotan utama adalah kredibilitas kebijakan ke depan.
“Yang dipersoalkan investor adalah arah kebijakan jangka menengah, terutama terkait kredibilitas fiskal, kualitas belanja negara, serta tata kelola pasar keuangan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa dampak perubahan outlook dan sentimen negatif ini lebih terasa melalui kanal biaya pendanaan. Premi risiko meningkat seiring naiknya imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun ke kisaran 6,7%-7%, pelebaran credit default swap (CDS), serta meningkatnya volatilitas nilai tukar rupiah. Tekanan ini semakin signifikan mengingat kepemilikan asing pada SBN masih berada di kisaran 14%-15%.
“Kenaikan biaya utang pemerintah ini pada akhirnya akan mendorong naik bunga kredit perbankan. Dampaknya, investasi swasta berpotensi tertahan,” jelas Rizal.
Ia menekankan bahwa efek perubahan rating bukanlah pukulan langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi lebih berupa rem perlambatan melalui meningkatnya cost of capital.
Karena itu, Rizal menilai langkah paling mendesak bagi pemerintah bukan menambah stimulus fiskal, melainkan memulihkan kepercayaan pasar. Disiplin fiskal jangka menengah harus dijaga, prioritas belanja negara diperjelas, dan tata kelola pasar keuangan serta kepastian regulasi diperkuat.
“Indonesia tetap menarik sebagai pasar besar dengan potensi ekonomi yang kuat. Namun, tanpa konsistensi kebijakan, investor cenderung memilih sikap wait and see,” ujarnya.
Rizal menyimpulkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah munculnya confidence gap antara pemerintah dan pelaku pasar.
“Solusinya bukan sekadar angka atau stimulus tambahan, tetapi penguatan kredibilitas kebijakan ekonomi,” pungkasnya. (Z-10)
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menerima sejumlah investor institusional dan pelaku industri keuangan di Jakarta, Selasa (3/2).
Menkeu Purbaya optimistis rupiah bisa menguat hingga Rp15.000 per dolar AS. Ia menilai BI mampu mendorong penguatan lewat fundamental ekonomi.
Menurutnya, optimalisasi belanja pemerintah menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
IHSG kembali menorehkan rekor tertinggi pada perdagangan akhir pekan, Jumat (7/11), setelah ditutup menguat 0,69% atau naik 57,53 poin ke level 8.394,59.
Faktor Demand, Pengaruh & Analisis Lengkap. Pelajari faktor demand: pengaruhnya pada pasar, analisis lengkap, dan strategi cerdas untuk bisnis Anda.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved