Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Pariwisata Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Pemulihan Daerah

Teguh Nirwahyudi
02/12/2025 18:49
Pariwisata Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Pemulihan Daerah
Peserta menerbangkan balon udara dalam parade balon udara di Jambbo Kingdom, Tulungagung, Jawa Timur, Minggu (30/11/2025).(Antara/Destyan Sujarwoko)

UNTUK mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 8% pada 2029 dan mempercepat pemulihan ekonomi daerah, sektor pariwisata menjadi salah satu fokus strategis yang dikembangkan pemerintah. Pemerintah melakukan akselerasi penguatan destinasi prioritas, peningkatan infrastruktur, serta membangun ekosistem pariwisata yang berdaya saing dan berkelanjutan untuk memaksimalkan potensi alam, budaya, dan SDM. Hal ini dikemukakan Staf Ahli Bidang Pengembangan Daerah Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto dalam diskusi bersama awak media di Jakarta, Selasa (2/12). 

"Pemulihan pariwisata Indonesia berlangsung relatif lebih cepat pada 2023. Tourism Industries Direct Gross Value Added (TDGVA) tercatat meningkat menjadi 4,7% atau mendekati tingkat prapandemi yang menunjukkan angka 4,97% pada 2019. Pemulihan serupa juga tecermin pada Tourism Direct Gross Domestic Product (TDGDP) yang naik menjadi 4,67%, mendekati tingkat TDGDP di 2019 sebesar 4,97%. Angka ini diharapkan konsisten tumbuh pada 2024 dan 2025," kata Haryo.

Haryo melanjutkan sektor pariwisata mampu memberikan nilai tambah ekonomi signifikan, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kontribusi terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) di berbagai wilayah. Di periode pascapandemi, pemulihan sektor pariwisata menunjukkan tren semakin positif. 

Serapan tenaga kerja meningkat dan mencapai 25,01 juta pada 2024. Kinerja pariwisata yang membaik juga tecermin dari berbagai indikator utama termasuk kunjungan wisatawan mancanegara yang menembus 13,74 juta serta pergerakan wisatawan Nusantara yang meningkat menjadi 1,02 miliar perjalanan.

"Selain itu, peringkat Indonesia dalam Travel and Tourism Development Index (TTDI) mengalami peningkatan signifikan di posisi ke-22 dunia. Ada penguatan pada devisa pariwisata sebesar US$16,7 miliar pada 2024," lanjut Haryo.

Kendati demikian, tren yang terlihat juga menunjukkan wisatawan Nusantara masih menjadi penopang utama pemulihan pariwisata. Namun pergerakannya cenderung terpusat di destinasi dengan akses mudah seperti di Jawa Tengah. Untuk itu diperlukan optimalisasi agar wisatawan Nusantara terdorong menjelajah destinasi lebih luas terutama pada 10 Destinasi Pariwisata Prioritas.

"Peningkatan aksesibilitas dan keterhubungan ke luar Jawa baik dari sisi infrastruktur maupun transportasi menjadi kunci untuk memperluas sebaran kunjungan dan memaksimalkan potensi ekonomi pariwisata nasional," ujar Haryo.

Kunjungan Kerja Pemerintah

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara serta sektor transportasi selama Oktober 2025 tumbuh jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).

Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam jumpa pers Jakarta, Senin (1/12), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Oktober mencapai 1,33 juta. Angka ini terdiri dari 1.174.742 kunjungan melalui pintu masuk utama dan 152.775 kunjungan melalui pintu perbatasan. Secara tahunan angka tersebut meningkat 11,19%.

Kunjungan wisatawan mancanegara paling banyak dilakukan wisatawan Malaysia, yaitu sebesar 17,13% Kemudian diikuti Australia sebesar 11,9% dan Singapura 9,4%. Dibandingkan September terjadi peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara dari Singapura. Sedangkan kunjungan wisatawan dari Malaysia dan Australia mengalami penurunan. "Secara kumulatif Januari-Oktober 2025, total kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 12,76 juta atau naik 10,32% dibanding periode sama 2024," ungkap Pudji.

Lebih lanjut untuk jumlah perjalanan wisatawan Nusantara pada Oktober mencapai 96 juta atau meningkat 1,74% secara bulanan. Adapun secara tahunan, wisatawan Nusantara tumbuh 17,90% dengan angka kumulatif Januari-Oktober mencapai 997,91 juta atau naik 18,89% yoy. 

Sementara tingkat penghunian kamar hotel (TPK) berbintang pada Oktober 2025 mencapai 52,84%. Papua Selatan mencatat tingkat hunian tertinggi, yakni 66,49% yang didorong berbagai acara kebudayaan dan kunjungan kerja pemerintah pusat. (Fal/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya