Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics & Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman menilai pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa bahwa anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tidak akan menanggung utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh menunjukkan disiplin fiskal yang kuat.
Sikap ini, kata dia, menjadi penegasan bahwa tanggung jawab keuangan negara harus dipisahkan dari risiko korporasi, sekalipun proyek dijalankan oleh badan usaha milik negara (BUMN).
“Dengan demikian, kebijakan ini menjadi sinyal penting bahwa negara tidak lagi menjadi penjamin terakhir bagi proyek bisnis yang gagal mengelola risiko secara profesional,” ujar Rizal kepada Media Indonesia, Minggu (12/10).
Rizal menjelaskan, efektivitas prinsip pemisahan tanggung jawab negara ini bergantung pada struktur keuangan proyek dan komitmen para pemegang saham. Dengan 75% pendanaan berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB) dan 25% dari ekuitas konsorsium, maka tanggung jawab pembayaran utang seharusnya berada di pihak korporasi.
"Korporasi ini khususnya PT KCIC dan Danantara selaku holding BUMN," ungkapnya.
Rizal menekankan, pemerintah perlu memastikan tidak ada jaminan terselubung atau tekanan politik yang berpotensi mengalihkan beban proyek ke APBN.
"Karena itu, transparansi kontrak dan kemampuan proyek menghasilkan arus kas menjadi faktor kunci agar janji tanpa APBN benar-benar realistis," tegas ekonom Indef itu.
Proyek KCJB, yang menjadi kereta cepat pertama di Asia Tenggara menelan biaya sekitar US$7,2 miliar atau setara Rp119,3 triliun (kurs Rp16.570 per dolar AS). Dari jumlah tersebut, US$1,2 miliar atau Rp19,9 triliun merupakan pembengkakan biaya (cost overrun).
Proyek KCJB digarap oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), perusahaan patungan antara konsorsium BUMN melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan konsorsium perusahaan perkeretaapian Tiongkok melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd. PSBI memiliki 60% saham, sedangkan Beijing Yawan memegang 40%, dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemimpin konsorsium PSBI.
Menurutnya, sumber pembayaran utang semestinya berasal dari pendapatan operasional, tambahan modal pemegang saham, restrukturisasi pinjaman, atau refinancing yang lebih efisien. Dalam hal ini, Danantara dianggap memiliki peran strategis untuk menjaga likuiditas proyek tanpa menggunakan dana publik.
Intervensi fiskal, kata Rizal, hanya boleh dilakukan sebagai opsi terakhir (ultima ratio), misalnya melalui penyertaan modal negara (PMN) terbatas dan transparan jika stabilitas proyek benar-benar terancam.
"Ini menjadi momentum penting untuk memperkuat prinsip bahwa uang publik hanya digunakan untuk kepentingan publik, bukan untuk menambal risiko bisnis," pungkasnya.
Menkeu Purbaya menegaskan pengelolaan utang proyek Whoosh seharusnya menjadi tanggung jawab Danantara, selaku induk dari PT KCIC. Menurutnya, Danantara telah memiliki manajemen dan sumber pendapatan sendiri, dengan rata-rata dividen yang mencapai lebih dari Rp80 triliun per tahun.
"Kalau KCIC di bawah Danantara, harusnya mereka bisa mengelola utang proyek itu dari situ, jangan kita lagi," ucapnya di Bogor, Jumat (10/10).
Kata Purbaya, jika beban utang tersebut kembali ditanggung pemerintah, maka seluruh risikonya, termasuk pengelolaan dividen, juga akan kembali ke negara. (H-4)
MENTERI Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY mengungkapkan pemerintah akan membentuk Komite Nasional utang Kereta Cepat.
MENTERI Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bertemu Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan, Selasa (20/1).
Sejumlah pakar menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis untuk melakukan restrukturisasi utang kereta cepat yang selama ini membebani BUMN anggota konsorsium
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pembahasan terkait solusi pembiayaan utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh masih berjalan.
Danantara dan Pemerintah Kolaborasi Tangani Utang Whoosh, Fokus pada Keberlanjutan dan Efisiensi Operasional
PEMERINTAH Provinsi Jawa Timur menyambut baik rencana kereta cepat dari Jakarta ke Banyuwangi, sebagaimana usulan yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto.
Menkeu Purbaya targetkan tax ratio 11–12% pada 2026, optimistis penerimaan pajak membaik seiring pemulihan ekonomi dan perkuat pertumbuhan DJP.
Purbaya Yudhi Sadewa mengeklaim telah lama mengetahui keberadaan safe house di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
Diperlukan perubahan UU P2SK agar pengaturannya selaras dengan arah dan semangat putusan Mahkamah Konstitusi melalui pengusulan RUU kumulatif terbuka.
Purbaya menilai capaian tersebut mencerminkan daya beli masyarakat yang semakin menguat.
Purbaya pun menilai pengunduran diri Dirut BEI sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah menangani persoalan pasar dengan cepat dan serius.
Purbaya menambahkan, dengan pengelolaan yang tepat, penguatan rupiah tidak sulit untuk diwujudkan. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak perlu panik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved