Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
MASUKNYA banyak investor asing di Indonesia, disambut baik oleh pemerintah Indonesia. Sebagai salah satu negara berkembang dengan potensi ekonomi yang besar saat ini, salah satu tujuan investasi asing di Indonesia adalah mendukung pertumbuhan ekonomi yang saat inimasih dalam tahap pemulihan pasca pandemi COVID-19.
Salah satu aspek yang menjadi peranan penting dari pertumbuhan ekonomi saat ini adalah masuknya investasi langsung atau yang disebut dengan Foreign Direct Investment (FDI). Salah satu negara asing yang menjadi investor di Indonesia adalah Korea Selatan. Menjadi investor ke7 terbesar di Indonesia di tahun 2024, sejak lama Korea Selatan juga telah melebarkan sayap di industri perbankan Indonesia dengan cara melakukan penggabungan dan akuisisi (M&A) dengan perbankan lokal di Indonesia.
Saat ini persaingan industri perbankan di Indonesia semakin ketat dengan hadirnya sejumlah bank asal Korea Selatan yang terus memperluas bisnisnya di pasar domestik. Beberapa nama yang saat ini aktif beroperasi di Indonesia di antaranya Bank Woori Saudara (BWS), Hana Bank Indonesia (Hana Bank), IBK Bank Indonesia (IBK), Bank Shinhan Indonesia (Shinhan), Bank KB Indonesia, dan Bank OK Indonesia.
Bank-bank tersebut hadir dengan segmentasi pasar dan strategi bisnis yang beragam, yaitu pengembangan dalam sektor korporasi dan retail, pembiayaan konsumer serta melakukan transformasi pada layanan ritel dan digital banking. Di antara jajaran bank-bank Korea tersebut, BWS memiliki posisi tersendiri. BWS tercatat sebagai bank Korea tertua yang ada di Indonesia.
BWS merupakan Bank hasil merger antara Bank Himpunan Saudara dan Bank Woori Indonesia pada tahun 2014. Seperti diketahui, Bank Himpunan Saudara telah berkiprah di industri perekonomian nasional Indonesia sejak tahun 1906 dengan nama Himpoenan Saudara.
Selain itu tak kalah berbeda, Bank Woori Indonesia yang saat itu hadir sebagai representative dari Woori Bank Korea, meramaikan industri Perbankan di Indonesia sejak tahun 1995 dengan nama awal PT Bank Korea Commercial Surya (BKCS).
BWS juga merupakan salah satu Bank hasil M&A yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode emiten SDRA. Tak hanya itu, Bank Woori Saudara menjadi Bank di Indonesia yang berhasil mempertahankan predikat “Sangat Baik” selama 30 tahun berturut-turut*.
Menariknya, Woori Bank Korea sebagai Perusahaan induk dari BWS, saat ini menempati posisi peringkat Top 4 bank terbesar di Korea Selatan. Berdasarkan laporan keuangan Woori Bank, di tahun 2024 Woori Bank berhasil membukukan laba senilai 516 Milliar Korean Won** atau sekitar 6 Triliun Rupiah (kurs : Rp 11,22). Dengan total asset yang dimiliki sebesar 486 Triliun Korean Won** atau sekitar 4,67 Kuadriliun Rupiah (kurs : Rp 11,22).
Sedangkan Woori Financial Group, salah satu grup keuangan terbesar di Korea Selatan dengan asset 525 Triliun Korean Won** atau sekitar 5,90 Kuadriliun Rupiah (kurs : 11,22) yang menaungi Woori Bank, memiliki jaringan internasional yang luas di lebih dari 20 negara.
Woori Financial Group ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar prioritas di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), seiring dengan meningkatnya potensi ekonomi digital dan sektor perbankan ritel di Indonesia. Selain mendukung ekspansi layanan tradisional, Woori Financial Group juga aktif mendorong pengembangan layanan digital banking dan pembayaran lintas negara melalui anak-anak usahanya di Asia.
Dengan strategi yang beragam, masing-masing institusi berusaha untuk memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat eksistensi dan jaringan bisnisnya di pasar domestik. Bank Woori Saudara, dengan dukungan grup induk yang kuat serta kinerja keuangan yang stabil, diproyeksikan tetap menjadi salah satu bank hasil M&A antara Indonesia dan Korea Selatan yang memiliki kontribusi signifikan di Indonesia di tengah persaingan yang semakin kompetitif. (Adv)
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan pada pekan ini (periode 2-6 Februari 2026).
IHSG hari ini Jumat 6 Februari 2026 berpotensi rebound ke level 8.328. Pantau analisis pasar modal dan update harga emas Antam yang merosot tajam.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.549.194 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 35,99 miliar lembar saham senilai Rp20,06 triliun.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Rabu, 4 Februari 2026, diperkirakan bergerak konsolidatif.
IHSG hari ini Rabu 4 Februari 2026 dibuka menguat di zona hijau. Indeks sempat menyentuh level 8.193, didorong sentimen positif meski isu MSCI membayangi.
Peningkatan batas minimal free float saham menjadi 15% serta rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan bagian dari agenda reformasi pasar modal nasional.
NAIK kelas menjadi badan usaha milik negara (BUMN), kinerja BSI pada 2025 progresif jauh di atas industri perbankan sekaligus mengubah peta perbankan Indonesia.
PT Bank Syariah Nasional (BSN) meluncurkan Bale Syariah by BSN untuk mendorong transaksi digital, menargetkan pertumbuhan pengguna dua kali lipa
Perusahaan membutuhkan jaminan pengelolaan basis data mereka ditangani oleh profesional yang terstandardisasi dan dapat dipertanggungjawabkan.
Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh signifikan sebesar 11,18% menjadi Rp9.695 triliun pada September 2025.
Berdasarkan penilaian yang komprehensif terhadap kinerja keuangan, inovasi produk, serta kontribusi perusahaan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional di industri asuransi.
Menurut Menkeu, bank-bank cenderung lihai mencari proyek-proyek yang layak untuk menyalurkan kredit agar terhindar dari kerugian akibat dana menganggur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved