Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati menilai fenomena deflasi yang terjadi dalam empat bulan terakhir bukan hal sepele. Pasalnya, itu dapat mengindikasikan adanya penurunan permintaan, atau melambatnya tingkat konsumi masyarakat.
"Ini perlu diwaspadai. Penyebab terjadinya deflasi adalah permintaan barang turun sedangkan produksi meningkat. Permintaan turun bisa disebabkan terjadinya pelambatan kegiatan ekonomi yang kemudian berdampak ke penghasilan yang turun sehingga jumlah uang beredar pun menjadi berkurang," ujar Anis melalui keterangan tertulis, Rabu (4/9).
Oleh karena itu, Anis mendorong pemerintah untuk terus mencermati perkembangan terkini dari kemampuan konsumsi masyarakat. Jika pelambatan terus terjadi dan dibiarkan, dampak ke perekonomian akan cukup terasa. Sebabnya ialah konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama dari pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca juga : DPR ke Pemerintahan Baru: Pertumbuhan Ekonomi harus Berkualitas
"Jika konsumsi rumah tangga turun, angka pertumbuhan ekonomi juga pasti tertekan," tutur Anis.
"Kemudian dari sisi investasi, pelemahan permintaan juga menjadi sinyal peringatan, karena investor akan berpikir ulang untuk melakukan investasi baru atau ekspansi usaha jika permintaan melemah," tambahnya.
Ia yang juga Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR itu mengingatkan deflasi yang terjadi sedianya mengonfirmasi persoalan krusial di masyarakat. Itu terutama berkaitan dengan turunnya pendapatan kelas menengah di Indonesia, sehingga menyebabkan daya beli kelas menengah mengalami penurunan berturut-turut dalam beberapa bulan terakhir.
Baca juga : Pacu Industri untuk Dongkrak Pertumbuhan
"Bahkan mereka terpaksa menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal tersebut, terkonfirmasi dari laporan terbaru Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarkat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) memperkirakan ada 8,5 juta kelas menengah yang jatuh ke kelas ekonomi yang lebih rendah," terang Anis.
Untuk itu, dia mendorong pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi dampak rambatan yang ditimbulkan oleh deflasi, baik yang bersifat jangka pendek maupun panjang.
"Dalam jangka pendek, perlu segera merumuskan perlindungan sosial bagi kelas menengah untuk konsumsi, biaya pendidikan dan kesehatan serta transportasi. Dalam jangka panjang, mempertimbangkan kembali kenaikan PPn tahun depan dan merevisi kembali UU Cipta Kerja yang tidak berpihak pada pekerja," jelas Anis.
Baca juga : DPR RI: Jalan Tol Ruas Yogya-Bawen dan Solo-Kulon Progo Diharap Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Di kesempatan berbeda, Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman menyampaikan, penurunan kemampuan daya beli masyarakat tercermin dari berkurangnya konsumsi pangan sekunder.
"Memang sementara ini fokus masyarakat adalah ke pangan pokok. sementara pangan sekunder agak berkurang. Ini yang jadi tantangan kita," ujarnya kepada pewarta di Jakarta.
Penurunan konsumsi itu, lanjut Adhi, perlu menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Sebab, secara spesifik hal tersebut akan berdampak pada pelambatan pertumbuhan industri makanan dan minuman di Tanah Air.
Baca juga : Komisi XI DPR Dukung Akses Kredit Guna Pertumbuhan UMKM di Tangerang
Senada dengan Anis, Adhi turut menilai kemampuan konsumsi masyarakat mesti dipelihara dan ditingkatkan agar perekonomian bisa tumbuh seperti yang diharapkan. Karenanya, ia berharap pengambil kebijakan dapat mengeluarkan stimulus bagi masyarakat.
"Kami dari industri juga merasakan bahwa kelas menengah bawah ini daya belinya agak berat, karena memang beberapa kenaikan harga, dan di samping itu juga banyak pengeluaran masyarakat yang harus ditanggung," jelas Adhi.
"Sementara kita berharap pemerintah bisa lebih fokus meningkatkan daya beli di kelas bawah ini, seperti misal, BLT bisa ditingkatkan agar bisa menggairahkan pasar terlebih dulu," pungkasnya. (Mir)
Pemerintah dan pelaku usaha mendorong pembentukan Tim Percepatan Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Industri untuk merealisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
PERWAKILAN Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) sekaligus Secretary General of the International Economic Association Lili Yan Ing menegaskan target pertumbuhan ekonomi 2026 di angka 5,4% tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi masyarakat.
KAMAR Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai bahwa tekanan terhadap kelompok kelas menengah bawah menjadi pekerjaan rumah (PR) terbesar khususnya bagi pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
Kerusakan padang lamun di pesisir Jawa dan sebagian Sumatra berpotensi menjadi salah satu sumber emisi karbon tersembunyi terbesar di Indonesia.
Taxco Solution, perusahaan konsultan profesional di bidang pajak, akuntansi, kepabeanan, dan hukum, resmi memperluas jangkauan layanannya dengan membuka Kantor Cabang Palembang.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pertumbuhan ekonomi harus dibarengi pemerataan saat meresmikan 166 Sekolah Rakyat. Simak poin penting pidatonya.
Kelas menengah yang berada dalam tekanan sedianya telah menunjukkan sinyalnya sejak beberapa bulan lalu yang mestinya dapat dimitigasi dan diantisipasi oleh pemerintah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved