Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DEINDUSTRIALISASI sektor manufaktur yang terjadi saat ini di Tanah Air dinilai tak lepas dari lemahnya koordinasi dan eksekusi kebijakan kementerian di bidang ekonomi. Di bawah Kemenko Perekonomian, mestinya kementerian terkait dapat meningkatkan produksi dalam negeri, bukan tersungkur seperti saat ini.
"Kementerian yang paling bertanggung jawab dalam hal ini ialah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian," ujar pengamat ekonomi Nailul Huda, kemarin.
Hal itu disampaikannya untuk merespons Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global. Menurut lembaga pemeringkat itu, aktivitas manufaktur Indonesia pada Juli 2024 mengalami kontraksi dan memicu terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK). Sebuah penurunan pertama setelah tiga tahun berturut-turut sejak Agustus 2021 berada di zona ekspansif.
Baca juga : Pelaku Industri Ingatkan Bakal Terjadi PHK Besar-besaran
Menurut Nailul, tutupnya satu per satu perusahaan padat karya sudah terjadi sejak awal tahun. Hal itu tentunya dibarengi dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran.
Industri manufaktur, sambungnya, lesu karena terus berkurangnya pesanan, salah satunya akibat serangan produk impor di dalam negeri.
"Kemenko Perekonomian mestinya bisa mengorkestrasi Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan yang berada di bawahnya agar produk dalam negeri menjadi tuan rumah di negeri sendiri," tegasnya.
Baca juga : Pemerintah Diminta Fokus Berantas Impor Ilegal Penyebab PHK
Secara rinci Nailul menjelaskan, di sisi hulu, Kementerian Perindustrian bertanggung jawab terhadap industri-industri dalam negeri. Sementara di sisi hilir, ada Kementerian Perdagangan yang harusnya mampu melindungi produk-produk dalam negeri.
Akan tetapi, lanjutnya, kedua kementerian itu justru tidak berkoordinasi dengan baik. Kemenko Perekonomian pun tak menjalankan fungsinya sebagai koordinator dua kementerian tersebut.
"Di sisi hulu, Kementerian Perindustrian bertanggung jawab untuk menciptakan iklim industri yang baik bagi industri. Namun jika di sisi hilirnya terganggu, ya akan menurunkan PMI manufaktur. Di hilir ini yang banyak persoalan, yang paling besar adalah regulasi impor yang diperlonggar," jelasnya.
Kamis (8/8), pemerintah akhirnya memperpanjang kebijakan pengenaan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) terhadap impor sejumlah produk tekstil, salah satu sektor industri yang saat ini tengah tersungkur.
"Sebagai upaya perlindungan dan peningkatan daya saing industri tekstil dalam negeri, pemerintah melanjutkan kebijakan pengenaan BMTP,†kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu di Jakarta. (Van)
The Washington Post mengumumkan PHK massal terhadap 33% karyawannya. Langkah ini memicu kritik tajam, termasuk dari mantan pemimpin redaksi Marty Baron.
Rencana penambahan layer baru cukai rokok berpotensi menggulung tikar industri Sigaret Kretek Tangan (SKT),
13 petugas damkar itu juga belum menerima gaji mereka pada Desember 2025
SEPANJANG tahun 2025, Provinsi Jawa Barat (Jabar) menjadi provinsi tertinggi di Indonesia pada angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal mengungkapkan lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 2025 banyak terjadi pada industri padat karya.
Kebijakan yang terlalu ketat, tumpang tindih, atau tidak proporsional dinilai menjadi pemicu meningkatnya risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor padat karya,
TRANSFORMASI sektor manufaktur, khususnya manufaktur padat karya, menjadi kunci utama untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026.
Terdapat 1.236 perusahaan industri yang menyelesaikan tahap pembangunan pada 2025 dan siap mulai berproduksi untuk pertama kali pada 2026.
Mengawali 2026, kinerja sektor manufaktur Indonesia menguat. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang tetap ekspansif dan meningkat ke 52,6 pada Januari 2026.
Tiongkok membidik target ekonomi 4,5-5% pada 2026. Fokus beralih ke kualitas pertumbuhan dan stabilitas domestik guna menghindari stagnasi jangka panjang ala Jepang.
Fokus kebijakan, sebaiknya diarahkan pada segmen industri perakitan, pengujian, dan pengemasan (assembly, testing, and packaging) serta manufaktur komponen pendukung.
PEMERINTAH menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia pada 2026 akan tumbuh solid seiring penguatan fundamental domestik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved