Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Prihasto Setyanto menyatakan bahwa kenaikan harga cabai rawit merah karena faktor kekeringan. Ini berakibat pada produksi yang menurun.
"Cabai rawit merah (mengalami kenaikan harga) itu karena kemarin ada kekeringan, sehingga produksi agak menurun," ujar Prihasto saat ditemui di Kantor Kementan pada Senin (29/7).
Ia menegaskan bahwa kondisi harga dan produksi cabai rawit akan kembali normal pada Agustus hingga September mendatang.
Baca juga : Tidak Benar Harga Beras di Probolinggo, Jatim, Naik Dipicu Puso
"Sebentar lagi akan kembali lagi seperti normal ya bulan Agustus-September ini," ungkap dia.
Di kesempatan berbeda, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Andi Muhammad Idil Fitri, juga melayangkan pendapat yang sama dengan Prihasto. Ia menuturkan bahwa naiknya harga cabai rawit diakibatkan kekeringan di sentra produksi cabai rawit merah khususnya di Jawa Timur.
"Cabai rawit ini mengalami kenaikan (harga). Kalau dilihat di Juni, Juli, Agustus, kalau kita melihat ketersediaan cabai rawit itu masih surplus di neraca bulanan dan neraca kumulatif dan memang ada kekeringan di sentra produksi terbesar cabai rawit merah Jawa Timur, hampir seluruhnya mengalami kekeringan," jelas dia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (29/7).
Baca juga : Harga Cabai Rawit di Jember Meroket Jelang Bulan Puasa
Idil menerangkan bahwa produksi cabai rawit mengalami penurunan di Juni tahun ini menjadi 62.000 ton. Sebelumnya pada Mei tahun ini produksi cabai rawit mencapai 80.488 ton.
"Pada akhir tahun produksi cabai rawit merah pada Agustus hanya 36.000 ton, September 52.000 ton, Oktober 38.000 ton, November 41.000 ton dan Desember 24.000 ton," terang dia.
Sebagai informasi, dilansir dari Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga rata-rata cabai rawit merah secara nasional per Senin (29/7) berada di harga Rp68.200. (Z-2)
Permintaan cabai rawit ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, meningkat menyusul dibangunnya Ibu Kota Nusantara (IKN).
KIAN mendekatnya hari raya Idul Fitri 2024 harga semua komoditas cabai di seluruh pasar tradisional di Kota Depok, Jawa Barat (Jabar), hari ini kian melambung tinggi.
Harga bahan pokok di Kota Depok, Jawa Barat (Jabar), meroket. Selain beras, harga cabai, bawang, tomat, dan mentimun melambung tinggi.
Sampai hari ini harga beras dan bahan pokok di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, harga beras dan bahan pokok masih tinggi. Bahkan harga beras premium masih menyentuh Rp18 ribu.
HARGA cabai rawit di pasaran Palu, Sulawesi Tengah, semakin mahal, mencapai Rp170 ribu per kilogram (kg). Warga di kota itu mengeluh dan minta pemerintah turun tangan.
WAKIL Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, memastikan stok dan harga sapi hidup di tingkat produsen tetap terkendali menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) hingga Lebaran tahun depan.
Kementan juga mendiseminasi naskah kebijakan berjudul “Regenerasi Petani untuk Percepatan Pencapaian Swasembada Pangan Berkelanjutan.
PEMERINTAH dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan harga sapi hidup di tingkat peternak tetap terkendali menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah tidak akan mentolerir pelaku usaha pangan yang menjual komoditas di atas HET jelang Nataru
KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) akan merehabilitasi 436,99 hektare lahan cabai di Sumatra Utara (Sumut) yang terdampak bencana banjir dan longsor.
MENTERI Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa keterlibatan petani muda dalam pembangunan sektor pertanian Indonesia merupakan faktor penentu keberlanjutan pangan nasional.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved