Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
TIM analis kebijakan ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani menyampaikan kekhawatiran terhadap rencana presiden terpilih Prabowo Subianto yang akan menaikkan rasio utang mencapai 50% dari produk domestik bruto (PDB). Menurutnya, utang pemerintah akan melonjak signifikan hingga menembus Rp10 ribu triliun jika wacana itu terealisasi.
Seperti diketahui, isu kenaikan rasio utang hingga 50% dikemukakan adik kandung Prabowo, Hashim Djojohadikusumo yang menekankan bahwa peningkatan rasio utang ini akan dibarengi dengan peningkatan penerimaan negara.
"Sekarang utang pemerintah Rp8.338,44 triliun, berarti dengan rencana itu (rasio utang 50%) utang bisa dinaikkan sampai lebih dari R10.000 triliun, karena produk domestik bruto (PDB) kita sekarang Rp21.000 triliun," ungkap Ajib kepada Media Indonesia, Jumat (12/7).
Baca juga : Soal Utang, Ekonom Minta Pemerintah Jangan Serampangan
Dengan membengkaknya potensi utang tersebut, defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2025 diperkirakan semakin melebar. Ajib menuturkan dengan struktur beban yang ada, APBN 2025 dirancang mengalami defisit di kisaran 2,29% sampai dengan 2,82% dari PDB.
Sementara, lanjut Ajib, pengelolaan APBN 2025 akan menghadapi tantangan fiskal yang kompleks yakni adanya jatuh tempo utang di tahun depan yang mencapai Rp800,33 triliun. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan utang jatuh tempo di 2024 yang sebesar Rp434,29 triliun. Beban fiskal lainnya dari program kelanjutan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Kalimantan Timur, yang akan menyedot keuangan negara.
Beban berikutnya adalah program pemerintah Prabowo Subianto tentang makan bergizi gratis. Dengan alokasi awal ideal di angka mencapai 400 triliun, realitas APBN sementara hanya bisa dialokasikan sebesar sebesar Rp71 triliun.
Baca juga : Utang Pemerintah Jatuh Tempo 2024, Harus Bayar Bunga Rp498 Triliun
"Perlu dikaji lebih lanjut, apakah dengan menambah rasio utang sampai 50% hal yang realistis? Sementara, kemampuan fiskal Indonesia dipertanyakan mampu menutup seluruh anggaran berjalan yang dibutuhkan," jelasnya.
Dihubungi terpisah, direktur eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti berpandangan dengan kondisi rasio utang terhadap PDB sekarang mencapai 36,6%, sulit menaikkan penerimaan negara. Terlebih jika rasio utang naik mencapai 50%.
"Ini semakin sulit dengan belanja pemerintah untuk pembangunan lebih kecil daripada belanja rutin," ucapnya.
Baca juga : Warganet Pesimistis Prabowo-Gibran Mampu Atasi Utang Indonesia
Dengan wacana tersebut, pemerintah diprediksi akan menaikkan tarif pajak dan mengurangi anggaran subsidi energi dan lainnya. Selain itu, dampak lainnya akan ada kenaikan harga barang-barang pokok dan bahan pangan kedepannya.
"Tentu saja ini akan berdampak naiknya harga barang, sehingga daya beli masyarakat akan tergerus," pungkasnya.
(Z-9)
Ruang fiskal pemerintah kian terbatas seiring meningkatnya posisi utang hingga Rp9.637,90 triliun per 31 Desember 2025 atau setara 40,46 persen terhadap produk domestik bruto (PDB)
Pelebaran defisit anggaran dalam revisi RAPBN 2026 berkonsekuensi pada penambahan utang yang signifikan.
Postur APBN tiap tahun terus tertekan karena dibebani utang jatuh tempo dalam jumlah besar.
Proyeksi hingga akhir tahun menunjukkan kebutuhan pembiayaan melalui utang mencapai Rp245 triliun–300 triliun, sehingga total utang pemerintah berpotensi menembus Rp9.400 triliun.
Pemerintah mengalokasikan anggaran Rp599.440 miliar untuk pembayaran bunga utang 2026
UTANG pemerintah makin mencemaskan. Pada awal 2025 ini, total utang pemerintah pusat membengkak menjadi Rp8.909,14 triliun. Angka itu setara dengan 40,2% produk domestik bruto (PDB).
Narasi tersebut dikhawatirkan memperlebar ruang intimidasi dan menormalisasi represi terhadap suara-suara kritis masyarakat.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pastikan pengusutan tuntas kasus penyiraman air keras aktivis KontraS, Andrie Yunus, atas perintah Presiden Prabowo.
Penyerahan zakat Presiden Prabowo diterima dan didoakan langsung oleh Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., sebagaimana kewajiban amil untuk mendoakan para muzaki.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa pastikan restrukturisasi utang Whoosh rampung. Keputusan final kini ada di tangan Presiden Prabowo Subianto. Cek selengkapnya!
PRESIDEN Prabowo Subianto dijadwalkan memimpin Sidang Kabinet Paripurna (SKP) di Istana Kepresidenan, Jakarta pada Jumat (13/3) sore.
Danantara Indonesia menandai satu tahun perjalanan kelembagaannya melalui kegiatan refleksi bersama yang diselenggarakan di Wisma Danantara, Jakarta, pada Selasa (11/3).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved